Berawal dari Guru, Pernah Main Film hingga Akhirnya Pimpin MK
Senin, 02 April 2018 - 16:12 WIB
Berawal dari Guru, Pernah Main Film hingga Akhirnya Pimpin MK
A
A
A
JAKARTA - Hakim Konstitusi Anwar Usman terpilih menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) melalui rapat permusyawaratan hakim yang digelar pada Senin (2/4/2018) pagi.
Anwar terpilih menggantikan Arief Hidayat yang telah memimpin MK selama dua periode. (Baca juga: Anwar Usman Terpilih Jadi Ketua MK 2018-2020 )
Karier pria kelahiran Desa Rasabou, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini berawal dari Guru honorer pada 1975.
Pekerjaan itu dijalaninya setelah lulus dari Sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN). Anwar pun merantau ke Jakarta. Di Ibu Kota, dia bekerja sebagai guru di SD Kalibaru.
Anwar menjalani pendidikan strata satu di Fakultas Hukum Universitas Islam Jakarta, berbeda denga teman temannya lulusan PGAN yang banyak masuk ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).
"Jarang yang memilih fakultas hukum. Akan tetapi, saya tidak melepaskan diri dari dunia pendidikan yang menjadi basic saya. Terbukti SD Kalibaru tempat pertama kali saya mengadu nasib di Jakarta pada 1975 telah berkembang menjadi sebuah yayasan pendidikan dengan berbagai jenis dan tingkatan pendidikan," kata Anwar seperti dikutip dari laman mahkamahkonstitusi.go.id.
Meski menjadi mahasiswa fakultas hukum, Anwar juga aktif dalam kegiatan teater. Dia pernah menjadi anggota sebuah sanggar, bernama Sanggar Aksara. Bahkan, Anwar pernah terlibat dalam film besutan sutradara Ismail Soebarjo berjudul Perempuan dalam Pasungan pada tahun 1980.
Meski hanya mendapat peran kecil, dia mengaku bangga bisa bermain film yang dibintangi Nungki Kusumastuti, Frans Tumbuan, dan Rini S Bono itu. Namun keterlibatannya dalam film tersebut justru menuai kritik dari orangtuanya.
“Ketika film itu meledak, sampailah film itu ke Bima. Kebetulan di film itu ada adegan saya jalan berdua seorang wanita di Pasar Cikini, orang-orang di kampung saya, heboh semua. Padahal di film itu saya hanya sebagai penggembira saja. Ketika Bapak saya tahu, saya dimarahi. Kata beliau, ‘Katanya ke Jakarta untuk kuliah, ini malah main film’,” tuturnya seperti dikutip dari laman mahkamahkonstitusi.go.id.
![Berawal dari Guru, Pernah Main Film hingga Akhirnya Pimpin MK]()
Pada 1984, Anwar lulus dari Universitas Islam Jakarta dan mendapatkan gelar Sarjana Hukum. Tidak lama kemudian dia mencoba mengikuti ujian calon hakim. Dia pun berhasil dan ditunjuk menjadi calon hakim Pengadilan negeri Bogor pada 1985.
Dalam perjalanan kariernya, Anwar pernah bertugas di Pengadilan Negeri Atambua dan Pengadilan Negeri Lumajang tersebut. Kariernya pun terus menanjak.
Dia pernah menjabat Asisten Hakim Agung (1997-2003), Kepala Biro Kepegawaian Mahkamah Agung, Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta (2005)
Pada tahun 2011, Anwar menjadi hakim di Mahkamah Konstitusi (MK) menggantikan Arsyad Sanusi. Pada 2015, dia terpilih menjadi Wakil Ketua MK. Tahun berikutnya, dia kembali terpilih pada posisi yang sama untuk periode 2016-2018.
Senin (2/4/2018) pagi tadi menjadi babak baru bagi karier Anwar. Melalui rapat permusyawaratan hakim, akhirnya Anwar terpilih menjadi Ketua MK. Rencananya, dia akan diambil sumpahnya pada sore ini.
Anwar terpilih menggantikan Arief Hidayat yang telah memimpin MK selama dua periode. (Baca juga: Anwar Usman Terpilih Jadi Ketua MK 2018-2020 )
Karier pria kelahiran Desa Rasabou, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini berawal dari Guru honorer pada 1975.
Pekerjaan itu dijalaninya setelah lulus dari Sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN). Anwar pun merantau ke Jakarta. Di Ibu Kota, dia bekerja sebagai guru di SD Kalibaru.
Anwar menjalani pendidikan strata satu di Fakultas Hukum Universitas Islam Jakarta, berbeda denga teman temannya lulusan PGAN yang banyak masuk ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).
"Jarang yang memilih fakultas hukum. Akan tetapi, saya tidak melepaskan diri dari dunia pendidikan yang menjadi basic saya. Terbukti SD Kalibaru tempat pertama kali saya mengadu nasib di Jakarta pada 1975 telah berkembang menjadi sebuah yayasan pendidikan dengan berbagai jenis dan tingkatan pendidikan," kata Anwar seperti dikutip dari laman mahkamahkonstitusi.go.id.
Meski menjadi mahasiswa fakultas hukum, Anwar juga aktif dalam kegiatan teater. Dia pernah menjadi anggota sebuah sanggar, bernama Sanggar Aksara. Bahkan, Anwar pernah terlibat dalam film besutan sutradara Ismail Soebarjo berjudul Perempuan dalam Pasungan pada tahun 1980.
Meski hanya mendapat peran kecil, dia mengaku bangga bisa bermain film yang dibintangi Nungki Kusumastuti, Frans Tumbuan, dan Rini S Bono itu. Namun keterlibatannya dalam film tersebut justru menuai kritik dari orangtuanya.
“Ketika film itu meledak, sampailah film itu ke Bima. Kebetulan di film itu ada adegan saya jalan berdua seorang wanita di Pasar Cikini, orang-orang di kampung saya, heboh semua. Padahal di film itu saya hanya sebagai penggembira saja. Ketika Bapak saya tahu, saya dimarahi. Kata beliau, ‘Katanya ke Jakarta untuk kuliah, ini malah main film’,” tuturnya seperti dikutip dari laman mahkamahkonstitusi.go.id.

Pada 1984, Anwar lulus dari Universitas Islam Jakarta dan mendapatkan gelar Sarjana Hukum. Tidak lama kemudian dia mencoba mengikuti ujian calon hakim. Dia pun berhasil dan ditunjuk menjadi calon hakim Pengadilan negeri Bogor pada 1985.
Dalam perjalanan kariernya, Anwar pernah bertugas di Pengadilan Negeri Atambua dan Pengadilan Negeri Lumajang tersebut. Kariernya pun terus menanjak.
Dia pernah menjabat Asisten Hakim Agung (1997-2003), Kepala Biro Kepegawaian Mahkamah Agung, Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta (2005)
Pada tahun 2011, Anwar menjadi hakim di Mahkamah Konstitusi (MK) menggantikan Arsyad Sanusi. Pada 2015, dia terpilih menjadi Wakil Ketua MK. Tahun berikutnya, dia kembali terpilih pada posisi yang sama untuk periode 2016-2018.
Senin (2/4/2018) pagi tadi menjadi babak baru bagi karier Anwar. Melalui rapat permusyawaratan hakim, akhirnya Anwar terpilih menjadi Ketua MK. Rencananya, dia akan diambil sumpahnya pada sore ini.
(dam)