PDB Tembus USD1 Triliun

Sabtu, 03 Maret 2018 - 07:23 WIB
PDB Tembus USD1 Triliun
PDB Tembus USD1 Triliun
A A A
KABAR gembira, Indonesia masuk dalam kelompok trillion dollar club (TDC) atau tercatat sebagai negara pada urutan ke-15 dengan nilai ekonomi yang besar di dunia. Indonesia dikelompokkan dalam TDC berkat produk domestik bruto (PDB) yang te­lah menembus USD1 triliun per tahun atau setara dengan Rp13.500 triliun per 2017 dengan asumsi nilai kurs sebesar Rp13.500 per dolar AS. Tentu belum semua masyarakat paham apa itu PDB. Definisi sederhana PDB adalah nilai pasar semua ba­rang dan jasa hasil produksi suatu negara pada periode tertentu, baik dihasilkan warga negara sendiri maupun warga negara asing. Se­lain itu, PDB adalah salah satu metode menghitung pe­n­da­pat­an nasional. Sayangnya, kenaikan PDB belum sejalan dengan ­ke­naik­an pendapatan per kapita masyarakat.

Patut berbangga dengan bergabungnya Indonesia dalam ke­lom­­pok TDC sebab hanya terdapat 16 negara di dunia saat ini de­ngan PDB sebesar USD1 triliun ke atas. Lalu apa dampaknya terha­dap perekonomian dalam negeri? Yang jelas radar investor asing akan semakin fokus ke Indonesia sebagai negara dengan po­tensi memberi keuntungan investasi yang besar. Didukung su­m­ber daya manusia yang melimpah, sekitar 260 juta jiwa, menjadi per­timbangan investor membangun pabrik yang mendekati pa­sar. Pemerintah optimistis nilai PDB terus meningkat seiring ke­cen­derungan membaiknya perekonomian nasional. Tantangan te­r­besarnya bagaimana pemerintah menjaga pertumbuhan per­ekonomian nasional tidak di bawah level 5% per tahun.

Pertumbuhan perekonomian dalam tiga tahun terakhir ini me­mang sebuah pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah ka­re­na belum maksimal alias jalan di tempat. Tengok sa­ja, tahun lalu pe­merintah menargetkan pertumbuhan pada le­vel 5,2%, rea­li­sa­si­nya hanya sekitar 5,07%. Sejak 2014 tidak per­nah mencapai tar­get yang dipatok dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Data yang dipublikasikan Badan Pu­sat Statistik (BPS) me­nunjukkan pada 2014 pertumbuhan eko­no­mi nasional hanya ber­ada di level 5,02% padahal asumsi dasar yang dipasang dalam APBN sekitar 5,5%.

Bahkan, setahun kemudian realisasi pertumbuhan ekonomi na­sional anjlok pada level 4,88%. Pada 2016 pertumbuhan eko­no­mi nasional kembali di atas 5%, tepatnya 5,02%, namun masih di bawah target APBN yang dipatok pada level 5,1%. Dan, realisasi per­tumbuhan ekonomi tahun lalu kembali di bawah target. Se­pan­jang tahun lalu perekonomian nasional terganjal sektor kon­sumsi rumah tangga yang melambat. Padahal, konsumsi rumah tang­ga adalah komponen terbesar pendorong ekonomi nasional, se­l­ain sektor investasi dan ekspor.

Meski pertumbuhan ekonomi nasional berada di level 5,07% ta­hun lalu, itu dinilai tidak maksimal dalam menciptakan la­pang­an pekerjaan. Kontribusi pertumbuhan ekonomi terhadap pe­nye­rapan tenaga kerja, menurut Direktur Institute for De­vel­op­ment of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, tak ku­rang dari 200.000 pekerja. Jadi, ekonomi yang bertumbuh di level 5% hanya berkontribusi menyerap tenaga kerja kurang dari 1 juta pe­k­erja. Padahal, jumlah angkatan kerja terus membengkak hing­ga mencapai dua juta orang per tahun. Persoalan lainnya ada­lah pertumbuhan ekonomi tidak merata di mana porsi per­tum­buhan masih didominasi di Pulau Jawa sekitar 58,49%.

Di balik kesuksesan Indonesia masuk dalam kelompok TDC kini terselip pekerjaan rumah yang tidak gampang, yakni ba­gai­ma­na mendongkrak pendapatan per kapita masyarakat. Fakta me­­nunjukkan kalau PDB telah menembus sebesar USD1 triliun, na­mun pendapatan per kapita masyarakat masih rendah. Pada 2016 pendapatan per kapita tercatat Rp47,96 juta dan Rp45,14 ju­ta (2015) serta Rp41,92 juta (2014). Sayangnya, data terbaru pen­d­apatan per kapita masyarakat untuk 2017 belum dirilis BPS. Un­tuk meningkatkan pendapatan per kapita tidak hanya ber­fokus pada persoalan ekonomi, terutama pembukaan lapangan ker­ja bagi masyarakat, tetapi menyangkut berbagai bidang lain se­perti seputar pengaturan angka kelahiran, pendidikan, dan ke­sehatan. Angka pendapatan per kapita adalah sebuah ukuran pa­ling sederhana yang merepresentasikan tingkat kesejahteraan ma­syarakat pada sebuah negara.
(mhd)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Alasan Prabowo Pilih...
Alasan Prabowo Pilih Nanik S Deyang jadi Kepala BGN Gantikan Dadan Hindayana
Silmy Karim Tersangka...
Silmy Karim Tersangka Korupsi, Komisi III DPR: Usut Tuntas Tanpa Pandang Bulu
Hebat! Kota Semarang...
Hebat! Kota Semarang Raih Penghargaan Nasional Creative Financing, Bukti Inovasi Pemkot Hadirkan Pembangunan yang Berdampak
2 Wamen Kabinet Prabowo...
2 Wamen Kabinet Prabowo Terjerat Korupsi, Nomor 1 Divonis 4,5 Tahun Penjara
Prabowo akan Menerima...
Prabowo akan Menerima Surat Kepercayaan dari 17 Dubes pada 8 Juni 2026
Said Iqbal soal Sinyal...
Said Iqbal soal Sinyal Masuk Kabinet Prabowo: Kita Tunggu Pengumuman Resmi
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved