Jangan Jadi Alat untuk Tangkap Lawan Politik

Senin, 05 Februari 2018 - 22:18 WIB
Jangan Jadi Alat untuk...
Jangan Jadi Alat untuk Tangkap Lawan Politik
A A A
YOGYAKARTA - Rencana menghidupkan kembali pasal penghinaan presiden menuai pro kontra. Presiden sebagai lambang negara harus dilindungi harkat dan martabatnya, meski demikian upaya itu tidak boleh memberangus kebebasan menyampaikan pendapat termasuk dijadikan alat menangkap lawan politik.

Ahli Hukum Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY) Muh Khambali berpendapat presiden sebagai lambang negara harus dijaga bersama-sama harkat dan martabatnya. Namun, aturan mengenai penghinaan terhadap presiden tersebut jangan sampai mengarah kepada diktator, sewenang-wenang.

“Presiden harus dijaga harkat dan martabatnya, namun kebebasan menyampaikan pendapat juga jangan sampai dibelenggu sedemikian rupa sehingga saluran suara rakyat tersumbat,” jelasnya.

Menurutnya, aturan dan ketentuan mengenai penghinaan terhadap presiden yang telah dihapus menjadikan seakan-akan menghujat, memfitnah, membully, menjadikan presiden menjadi karikatur bebas dan liar. Hal itu sangat membahayakan bagi harkat dan martabat Presiden sebagai lambang negara yang harus dijaga bersama.

Khambali mengaku setuju aturan dan ketentuan mengenai penghinaan terhadap presiden diatur kembali. “Namun hal itu jangan sampai menjadikan Presiden terjebak dalam diktatorian dan sewenang-wenang menangkap lawan-lawan politiknya. Jangan sampai berakibat kebebasan menyampaikan pendapat yang konstitusional itu diberangus,” tegasnya.

Seperti diketahui, pasal penghinaan presiden masuk dalam draf revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP). Padahal, MK telah menghapus pasal ini pada 2006 silam.

Pasal 263 ayat 1 dalam draf revisi KUHP itu menyebutkan setiap orang yang dimuka umum menghina presiden atau wakil presiden dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Rp300 juta.

Lalu, Pasal 263 ayat 2 menyebutkan bahwa tidak merupakan penghinaan jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 jelas dilakukan untuk kepentingan umum demi kebenaran atau pembelaan diri.

Dalam pasal 264 dalam draf revisi KUHP itu menyebutkan setiap orang yang menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan tulisan atau gambar sehingga terlihat oleh umum, atau memperdengarkan rekaman sehingga terdengar oleh umum, atau menyebarluaskan dengan sarana teknologi informasi, yang berisi penghinaan terhadap presiden atau wakil presiden dengan maksud agar isi penghinaan diketahui atau lebih diketahui umum, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV (Rp300 juta).
(pur)
Berita Terkait
Soal Pasal Penghinaan...
Soal Pasal Penghinaan Presiden, KH Cholil Nafis: Jangan Menjadikannya Antikritik
Pasal Penghinaan Presiden...
Pasal Penghinaan Presiden Direvisi, Ancaman Pidana Berkurang
Heboh Polemik Pasal...
Heboh Polemik Pasal Penghinaan Presiden, Masih Relevankah?
Gerindra Usul Pasal...
Gerindra Usul Pasal Penghinaan Presiden Dialihkan ke Perdata Bukan Pidana
Pasal Penghinaan Presiden,...
Pasal Penghinaan Presiden, Wamenkumham: Itu Delik Aduan Bukan Delik Biasa
Jokowi Legawa Dikritik,...
Jokowi Legawa Dikritik, Sudjiwo Tedjo Lebih Salut bila Batalkan Pasal Penghinaan Presiden
Berita Terkini
7 Kasus Pencucian Uang...
7 Kasus Pencucian Uang Terbesar di Indonesia, Nilainya Tembus Belasan Triliun hingga Penjara Seumur Hidup
Gugatan terhadap Waketum...
Gugatan terhadap Waketum dan Sekjen PPP Dicabut, Kader Pilih Fokus Konsolidasi Partai
Hari Bhayangkara ke-80,...
Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Hadiahi Istri Arist Merdeka Sirait Ziarah Holyland
Hotman Paris Ungkap...
Hotman Paris Ungkap Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Belum Ditahan
Prabowo Tegaskan Dukungan...
Prabowo Tegaskan Dukungan untuk Palestina Tak Bisa Ditawar!
Alasan Hotman Paris...
Alasan Hotman Paris Tidak Khawatir soal Ucapannya 'Lu Punya Otak Gak?' Dilaporkan ke Polisi
Infografis
Prancis Kirim Jet Tempur...
Prancis Kirim Jet Tempur Mirage 2000 ke Ukraina untuk Lawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved