Curhat Putri Amien Rais Soal Pertemuan Ayahnya dengan Eks Jenderal
Jum'at, 02 Juni 2017 - 18:57 WIB
Curhat Putri Amien Rais Soal Pertemuan Ayahnya dengan Eks Jenderal
A
A
A
JAKARTA - Sejak dua hari belakangan ini nama Amien Rais kembali mengemuka ke publik. Sosok yang dikenal vokal ini mengemuka bukan karena sikap politiknya, tapi karena namanya disebut dalam sidang perkara korupsi dana pengadaan alat kesehatan (alkes).
Di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Rabu 31 Mei 2017, Jaksa menyebut Amien menerima aliran dana Rp600 juta dalam kasus yang membelit mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.
Menanggapi tuduhan jaksa, Amien Rais menggelar konferensi pers di rumahnya di Perumahan Taman Gandaria , Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (2/6/2017). Amien menegaskan kesiapannya menghadapi tuduhan terhadap dirinya.
"Nah, kalau kejadian sepuluh tahun lalu kini diungkap dengan bumbu-bumbu dramatisasi di media massa dan sosial, tentu akan saya hadapi dengan jujur, tegas, apa adanya," katanya. (Baca juga: Disebut Terima Rp600 Juta, Amien Rais Siap Hadapi KPK ).
Penyebutan nama Amien di sidang membuat putrinya, Hanum Salsabiela Rais menuliskan isi hatinya lewat jejaring sosial Instagram. Tulisan tersebut diberi judul Perisai Lahir Batin Amien Rais.
Hanum mengatakan, sebenarnya telah beresolusi untuk tidak sering menggunakan media sosial pada bulan Ramadan. Namun pasca munculnya tuduhan terhadap ayahnya, Hanum mengaku menerima banyak pesan di antaranya melalui WhatsApp dan pesan pribadi di Instagram yang memintanya untuk memberi klarifikasi.
"Saya tidak akan memberikan klarifikasi terkait tuduhan tersebut, karena insya Allah Bapak secara perwira akan menggelar konpers (konferensi pers-red) di kediaman di Jakarta hari ini sebelum salat Jumat. Silakan wartawan datang dan melansir jawaban beliau," tulis Hanum melalui akun Instagram pribadinya @hanumrais, Jumat (2/6/2017).
Melalui tulisannya di Instagram, Hanum hanya ingin berbagi pandangannya tentang bagaimana sosok Amien Rais menanggapi badai dan terjangan fitnah, deraan ujian, cobaan namun juga kebahagiaan.
Hanum juga menceritakan, peristiwa sebelum munculnya tuduhan terhadap ayahnya. Dia mengungkapkan pada awal April 2017 lalu, seorang mantan jenderal yang duduk di posisi pemerintahan cukup strategis menemui ayahnya. Mantan jenderal itu, kata dia, mengaku diutus bosnya yang ingin menemui ayahnya.
"Dia ditugasi membuat titik temu dan tempat. Bapak mengatakan monggo dengan senang hati, semua orang dari kalangan manapun saya temui, apalagi orang terhormat seperti bapak bos," tulis Hanum.
Namun sang mantan jenderal mengatakan bosnya ingin bertemu di tempat rahasia, tidak tercium media, karena pembicaraan akan bersifat confidential. Ayahnya, kata Hanum, tercenung karena merasakan ada keanehan. "Mengapa harus rahasia?" kata Hanum menggambarkan perasaan ayahnya.
Singkat cerita, lanjut Hanum, ayahnya menolak meski sang utusan berdalih pertemuan penting yang tidak bisa jadi konsumsi publik. "Maaf, jika ingin bertemu silakan tapi terbuka, biarkan media melansir, biarkan mereka tahu hasil pembicaraan, toh pasti terbaik untuk bangsa. Jika pertemuan rahasia, saya tahu, saya hanya akan jadi bangkai politik anda," kata Hanum menirukan ucapan Amien kepada sang mantan jenderal.
Sang utusan pun mundur, pamit dalam kekecewaan. Hanum mendengar dan melihat semuanya dari balik pintu di Joglo. Sepeninggal sang utusan, Hanum langsung berkata kepada ayahnya.
"Pak, beliau bos pasti akan tersinggung dengan jawaban Bapak. Dan it's just a matter of time, you'll be singled out. Hanya soal waktu Bapak akan diperkarakan, entah bagaimana dan apa caranya," tulis Hanum.
Saat itu, kata Hanum, ayahnya mengangguk sebagai pertanda sangat paham apa yang akan dihadapinya. Hanum mengaku mengagumi ayahnya yang mampu menerima sesuatu hal yang dianggap orang lain sebagai musibah.
"Tapi karena dia seorang yang insya Allah rajulun shalih, dia menerimanya dengan lapang dada bahkan menganggap blessing in disguise, keberkahan yang terselip dalam sebuah ujian. Termasuk tuduhan menerima aliran dana. Ia tidak akan bersembunyi atau malah kabur," ucapnya.
Menurut Hanum, buka hanya sekali ayahnya menerima tudingan yang bersifat seolah melanggar hukum, dicitrakan koruptif, hipokrit. "Muaranya satu: pembunuhan karakter karena manuver Bapak dianggap tidak kooperatif dengan para petinggi nasional. Hingga akhirnya saya menyimpulkan yang penting Amien Rais disebut dulu, diberitakan, dimunculkanlah opini dan bola liar fitnah yang keji di media, hingga kepingan-kepingan tuduhan tersebut terbang tak terkontrol lalu setelah yakin the damage has been done, bahkan tidak akan terkoreksi lewat klarifikasi, selesai sudah misi," kata Hanum.
Hanum mengaku mengetahui betul bagaimana cara ayahnya memberi perisai pada dirinya dalam kancah politik yang seringkali membuat orang lunglai karena tak kuat dirundung. Perisai itu, kata dia, yakni salat, puasa, tadarus, zikir, dan sedekah.
Bahkan mengaku sempat berpikir tentang bagaiamana ayahnya memberikan klarifiksi tentang tuduhan itu. Namun, Amien malah tesenyum. "Yang terjadi pada Bapak semua atas izin Allah The Almighty. Ini berkah! Ini berkah! Tidak sedikit pun Bapak merasa ini hukuman atau ujian, Kamu kalau baca Alquran enggak perlu kita berkelit atau takut. Hadapi yah," tulis Hanum menirukan ucapan ayahnya.
Di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Rabu 31 Mei 2017, Jaksa menyebut Amien menerima aliran dana Rp600 juta dalam kasus yang membelit mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.
Menanggapi tuduhan jaksa, Amien Rais menggelar konferensi pers di rumahnya di Perumahan Taman Gandaria , Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (2/6/2017). Amien menegaskan kesiapannya menghadapi tuduhan terhadap dirinya.
"Nah, kalau kejadian sepuluh tahun lalu kini diungkap dengan bumbu-bumbu dramatisasi di media massa dan sosial, tentu akan saya hadapi dengan jujur, tegas, apa adanya," katanya. (Baca juga: Disebut Terima Rp600 Juta, Amien Rais Siap Hadapi KPK ).
Penyebutan nama Amien di sidang membuat putrinya, Hanum Salsabiela Rais menuliskan isi hatinya lewat jejaring sosial Instagram. Tulisan tersebut diberi judul Perisai Lahir Batin Amien Rais.
Hanum mengatakan, sebenarnya telah beresolusi untuk tidak sering menggunakan media sosial pada bulan Ramadan. Namun pasca munculnya tuduhan terhadap ayahnya, Hanum mengaku menerima banyak pesan di antaranya melalui WhatsApp dan pesan pribadi di Instagram yang memintanya untuk memberi klarifikasi.
"Saya tidak akan memberikan klarifikasi terkait tuduhan tersebut, karena insya Allah Bapak secara perwira akan menggelar konpers (konferensi pers-red) di kediaman di Jakarta hari ini sebelum salat Jumat. Silakan wartawan datang dan melansir jawaban beliau," tulis Hanum melalui akun Instagram pribadinya @hanumrais, Jumat (2/6/2017).
Melalui tulisannya di Instagram, Hanum hanya ingin berbagi pandangannya tentang bagaimana sosok Amien Rais menanggapi badai dan terjangan fitnah, deraan ujian, cobaan namun juga kebahagiaan.
Hanum juga menceritakan, peristiwa sebelum munculnya tuduhan terhadap ayahnya. Dia mengungkapkan pada awal April 2017 lalu, seorang mantan jenderal yang duduk di posisi pemerintahan cukup strategis menemui ayahnya. Mantan jenderal itu, kata dia, mengaku diutus bosnya yang ingin menemui ayahnya.
"Dia ditugasi membuat titik temu dan tempat. Bapak mengatakan monggo dengan senang hati, semua orang dari kalangan manapun saya temui, apalagi orang terhormat seperti bapak bos," tulis Hanum.
Namun sang mantan jenderal mengatakan bosnya ingin bertemu di tempat rahasia, tidak tercium media, karena pembicaraan akan bersifat confidential. Ayahnya, kata Hanum, tercenung karena merasakan ada keanehan. "Mengapa harus rahasia?" kata Hanum menggambarkan perasaan ayahnya.
Singkat cerita, lanjut Hanum, ayahnya menolak meski sang utusan berdalih pertemuan penting yang tidak bisa jadi konsumsi publik. "Maaf, jika ingin bertemu silakan tapi terbuka, biarkan media melansir, biarkan mereka tahu hasil pembicaraan, toh pasti terbaik untuk bangsa. Jika pertemuan rahasia, saya tahu, saya hanya akan jadi bangkai politik anda," kata Hanum menirukan ucapan Amien kepada sang mantan jenderal.
Sang utusan pun mundur, pamit dalam kekecewaan. Hanum mendengar dan melihat semuanya dari balik pintu di Joglo. Sepeninggal sang utusan, Hanum langsung berkata kepada ayahnya.
"Pak, beliau bos pasti akan tersinggung dengan jawaban Bapak. Dan it's just a matter of time, you'll be singled out. Hanya soal waktu Bapak akan diperkarakan, entah bagaimana dan apa caranya," tulis Hanum.
Saat itu, kata Hanum, ayahnya mengangguk sebagai pertanda sangat paham apa yang akan dihadapinya. Hanum mengaku mengagumi ayahnya yang mampu menerima sesuatu hal yang dianggap orang lain sebagai musibah.
"Tapi karena dia seorang yang insya Allah rajulun shalih, dia menerimanya dengan lapang dada bahkan menganggap blessing in disguise, keberkahan yang terselip dalam sebuah ujian. Termasuk tuduhan menerima aliran dana. Ia tidak akan bersembunyi atau malah kabur," ucapnya.
Menurut Hanum, buka hanya sekali ayahnya menerima tudingan yang bersifat seolah melanggar hukum, dicitrakan koruptif, hipokrit. "Muaranya satu: pembunuhan karakter karena manuver Bapak dianggap tidak kooperatif dengan para petinggi nasional. Hingga akhirnya saya menyimpulkan yang penting Amien Rais disebut dulu, diberitakan, dimunculkanlah opini dan bola liar fitnah yang keji di media, hingga kepingan-kepingan tuduhan tersebut terbang tak terkontrol lalu setelah yakin the damage has been done, bahkan tidak akan terkoreksi lewat klarifikasi, selesai sudah misi," kata Hanum.
Hanum mengaku mengetahui betul bagaimana cara ayahnya memberi perisai pada dirinya dalam kancah politik yang seringkali membuat orang lunglai karena tak kuat dirundung. Perisai itu, kata dia, yakni salat, puasa, tadarus, zikir, dan sedekah.
Bahkan mengaku sempat berpikir tentang bagaiamana ayahnya memberikan klarifiksi tentang tuduhan itu. Namun, Amien malah tesenyum. "Yang terjadi pada Bapak semua atas izin Allah The Almighty. Ini berkah! Ini berkah! Tidak sedikit pun Bapak merasa ini hukuman atau ujian, Kamu kalau baca Alquran enggak perlu kita berkelit atau takut. Hadapi yah," tulis Hanum menirukan ucapan ayahnya.
(dam)