Margarito Sebut Presidential Threshold Cermin Fenomena Politik Kapitalis

Sabtu, 20 Mei 2017 - 14:02 WIB
Margarito Sebut Presidential...
Margarito Sebut Presidential Threshold Cermin Fenomena Politik Kapitalis
A A A
JAKARTA - Pakar Hukum Tata Negara, Margarito Kamis mengaku tidak setuju penerapan ambang batas pemilihan Calon presiden dan Wakil Presiden (Presidential Threshold) yang diusulkan sejumlah fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Sebab, penerapan PT akan bertentangan dengan putusan Mahkamah Kontitusi (MK)‎ yang memutuskan pemilu 2019 dilakukan secara serentak. Menurutnya, PT mencerminkan fenomena politik Kapitalis yang riil secara politik.

‎"Konsolidasi (demokrasi) bulshit semua. Gak usahlah cari argumen lain. Bilang pematangan demokrasi," ujar Margarito dalam diskusi Polemik SindoTrijayaFM bertema 'RUU Pemilu dan Pertaruhan Demokrasi' di Cikini, Jakarta, Sabtu (20/5/2017).

Margarito menegaskan, penerapan Presidential threshold tak ada hubungannya sama sekali dengan konsolidasi demokrasi dan pematangan pemilu. Menurutnya, tujuan penerapan PT hanya supaya partai politik menjadi berkurang.

Efeknya, kata dia, peran partai untuk mengusung calon presiden dan wakil presidennya hanya akan ditentukan seberapa besar 'kompromi-kompromi' yang dilakukan, namun, tidak melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat.

"Kita mau konsolidasi kebangsaan atau kelompok. Presidential threshold hanya karena enggak sampe PT maka suara hilang," ucapnya.

Pansus RUU Pemilu di DPR masih diwarnai perdebatan panjang. Sebabnya adalah masing-masing fraksi masih memiliki argumen berbeda tentang penerapan sistem pemilu yang ideal. Salah satu yang menjadi sorotan adalah soal sistem pemilu apakah akan diputuskan secara terbuka atau tertutup.

Selain itu, perdebatan sengit yang menyebabkan RUU belum diketok palu adalah keinginan tiga fraksi yakni PDIP, Golkar dan Nasdem yang ngotot agar diterapkan Presidential Threshold sebesar 20 persen. Sementara mayoritas Fraksi menolak penggunaan Presidential Threshold.
(ysw)
Berita Terkait
Jimly, Mahfud, dan Refly...
Jimly, Mahfud, dan Refly Hadiri RDPU Komisi II DPR Bahas Pemilu
Perppu Pemilu Disahkan...
Perppu Pemilu Disahkan DPR Jadi Undang-Undang
Argumen Istana Soal...
Argumen Istana Soal RUU Pemilu Tak Menjawab Masalah
RUU Pemilu Dicabut dari...
RUU Pemilu Dicabut dari Prolegnas 2021, Bakal Lahir Perppu?
Maju-Mundur Revisi UU...
Maju-Mundur Revisi UU Pemilu, Kode Inisiatif: Serentak Bukan Hanya Urusan Waktu
Demokrat Sebut Alasan...
Demokrat Sebut Alasan Pemerintah Tolak RUU Pemilu Lemah dan Rapuh
Berita Terkini
TB Hasanuddin Kritik...
TB Hasanuddin Kritik Pelibatan Komcad dalam Pengamanan Demo Mahasiswa: Berpotensi Picu Konflik Horizontal
PDIP Sebut Demonstrasi...
PDIP Sebut Demonstrasi Mahasiswa Alarm untuk Pemerintah
Prabowo dan Steinmeier...
Prabowo dan Steinmeier Bertemu di Istana Pagi Ini, Perkuat Bilateral IndonesiaJerman
Pakar Hukum: Pernyataan...
Pakar Hukum: Pernyataan Mahfud MD Soal UU Polri Abaikan KPRP Membingungkan
Mengapa Ekonomi Solid,...
Mengapa Ekonomi Solid, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Jumhur Dorong Penanaman...
Jumhur Dorong Penanaman Bambu untuk Serap Emisi dan Tingkatkan Penghasilan Warga
Infografis
Politikus Muslim Mulai...
Politikus Muslim Mulai Kuasai Politik AS, Sinyal Kebangkitan Islam di Paman Sam?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved