Pansus RUU Pemilu Diminta Tak Paksakan Kehendak

Rabu, 17 Mei 2017 - 07:09 WIB
Pansus RUU Pemilu Diminta...
Pansus RUU Pemilu Diminta Tak Paksakan Kehendak
A A A
JAKARTA - Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Sunanto meminta pembuat undang-undang (UU) untuk tidak memaksakan kehendak saat mengesahkan Rancangan Undang-undang (RUU) Penyelenggaraan Pemilu 18 Mei nanti.

Pasal-pasal yang inkonstitusional dan berpotensi gugur saat digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) menurut dia sebaiknya tidak lagi dipaksakan. “Jangan memaksakan kehendak. Kalau tetap diketok tapi bertentangan dengan UUD kan jadi mubazir,” ujar Sunanto saat dihubungi SINDO, Selasa (16/5/2017).

Dia menilai, yang perlu dipegang oleh pansus dan pemerintah dalam mengesahkan RUU Penyelenggaraan Pemilu mengedepankan kepentingan semua, kepentingan demokrasi dan belajar dari sejarah perjalanan kepemiluan di Indonesia. Sunanto mengingatkan bahwa aturan kepemiluan yang sudah berjalan baik tidak perlu dirombak apalagi jika dasarnya hanya untuk kepentingan partai tertentu.

“Jangan semena-mena, tapi putuskan berdasarkan perspektif sejarah, perspektif budaya Indonesia. Itu harapannya di situ,” tutur Sunanto.

Sunanto melihat sejumlah usulan di dalam pasal RUU memang potensial digugat dan berseberangan dengan putusan MK. Dia mencontohkan, usulan penerapan ambang batas presiden (presidential threshold), usulan tentang sistem terbuka terbatas hingga usulan mengubah status penyelenggara dari permanen menjadi sementara (adhoc).

“Inilah saya kira memang basis pembangunannya harus akademik, nilai-nilai demokrasi yang substansial bukan prosedural,” lanjut Sunanto.

Sunanto pun mengingatkan bahwa kengototan pembuat UU memaksakan masuknya pasal-pasal yang potensial digugat akan berpengaruh pada jalannya tahapan pemilu, yang dampak akhirnya akan memengaruhi kualitas dari pemilu itu sendiri.

“Karena ketika itu digugat akan memperkeruh tahapan, muncul ketidakpastian UU, yang berdampak pada turunan pelaksanaan di tingkat bawah. Dan ketika dikabulkan oleh MK semua yang sudah tahapan yang sudah dijalankan akan jungkir balik, dan tentu akan memberatkan penyelenggara, ujungnya berdampak pada hasil yang akan didapat,” pungkasnya.
(kri)
Berita Terkait
Jimly, Mahfud, dan Refly...
Jimly, Mahfud, dan Refly Hadiri RDPU Komisi II DPR Bahas Pemilu
Perppu Pemilu Disahkan...
Perppu Pemilu Disahkan DPR Jadi Undang-Undang
Argumen Istana Soal...
Argumen Istana Soal RUU Pemilu Tak Menjawab Masalah
RUU Pemilu Dicabut dari...
RUU Pemilu Dicabut dari Prolegnas 2021, Bakal Lahir Perppu?
Maju-Mundur Revisi UU...
Maju-Mundur Revisi UU Pemilu, Kode Inisiatif: Serentak Bukan Hanya Urusan Waktu
Demokrat Sebut Alasan...
Demokrat Sebut Alasan Pemerintah Tolak RUU Pemilu Lemah dan Rapuh
Berita Terkini
Gantikan Febrie Adriansyah,...
Gantikan Febrie Adriansyah, Kuntadi Diharapkan Pulihkan Kepercayaan Publik
Kejagung Terbitkan Sprindik...
Kejagung Terbitkan Sprindik Baru Dugaan TPPU 74 Kg Emas dan Uang di Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Bos FBI Temui Prabowo,...
Bos FBI Temui Prabowo, Artefak Papua yang Diselundupkan ke AS Kembali ke Indonesia
Pengamat Soroti Rumor...
Pengamat Soroti Rumor Privat di Kasus Febrie: Jangan Geser Fokus dari Substansi Hukum
Hangat dan Haru, Prabowo...
Hangat dan Haru, Prabowo Jamu Perwira TNI-Polri dan Orang Tua di Istana Usai Praspa 2026
Hari Anak Nasional ke-42,...
Hari Anak Nasional ke-42, saatnya Negara Membangun Prasyarat Perlindungan Anak
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved