Parmusi: Pembubaran HTI Sarat Tekanan Politik

Selasa, 09 Mei 2017 - 15:00 WIB
Parmusi: Pembubaran...
Parmusi: Pembubaran HTI Sarat Tekanan Politik
A A A
JAKARTA - Keputusan pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyita perhatian masyarakat. Keputusan tersebut dinilai sebagai kebijakan yang keliru.

Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), Usamah Hisyah menduga keputusan pemerintah diambil tanpa melalui kajian mendalam dan melibatkan tokoh dan organisasi Islam lain.

Keputusan pemerintah itu disebut Usamah sebagai kebijakan "blunder" karena menabrak prosedur yang harus dilalui terlebih dahulu. "Ini ada apa? Sekonyong-konyong tanpa ada kajian mendalam langsung mengumumkan pembubaran ormas (HTI) yang notabenenya terdaftar dan berbadan hukum. Mereka itu sudah sejak tahun 1980 ada di sini, dari berbagai periode kepemimpinan nasional mereka sah dan diakui. Ada apa dengan pemerintahan saat ini?" tutur Usamah, Selasa (9/5/2017). (Baca Juga: Yusril: Pemerintah Tak Bisa Begitu Saja Bubarkan HTI )

Dia menilai sampai kini belum ada indikasi HTI melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum, apalagi hingga dugaan makar dan membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Soal NKRI itu jelas harga mati, enggak bisa di tawar-tawar lagi, semua warga negara wajib menjaga itu. Tapi coba tolong dicek, mana dari aktivitas mereka (HTI) yang membahayakan negara, apalagi sampai dikhawatirkan mau makar segala macam. Justru kami melihat HTI itu organisasi dakwah yang konsisten mensyiarkan ajaran Islam," tutur Usamah.

Dia pun menduga pembubaran HTI bentuk lain tekanan politik kekuasaan karena ormas tersebut cukup intens mengawal kasus dugaan penistaan agama yang disangkakan terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

"Kami sulit menyangkal jika pembubaran itu lebih karena muatan politis saja, saudara-saudara kami di HTI itu kan intens mengawal kasus Pak Ahok. Kalau sudah begitu, jangan-jangan semua ormas Islam yang bergerak dalam kasus penistaan agama itu bakal dibubarkan, ini bahaya buat keutuhan bernegara," ucapnya.
(dam)
Berita Terkait
Antisipasi Bentrokan,...
Antisipasi Bentrokan, Pos Ormas di Tangerang Dibongkar Paksa
Tampang Empat Anggota...
Tampang Empat Anggota GRIB Jaya Pelaku Perusakan Aset PT KAI di Semarang
Dodi Reza Alex Noerdin...
Dodi Reza Alex Noerdin Hadiri Silaturahmi dengan Ketum Ormas MKGR
Sebanyak 150 Ormas Ikut...
Sebanyak 150 Ormas Ikut Jambore Ormas Jabar 2024
Jambore Tuntas Dilaksanakan,...
Jambore Tuntas Dilaksanakan, AMP Lahirkan Kader Pelopor
Muktamar XXI Mathla’ul...
Muktamar XXI Mathla’ul Anwar Resmi Dibuka, Menag Tegaskan Pentingnya Peran Organisasi Keagamaan
Berita Terkini
Celoteh Hotman Paris,...
Celoteh Hotman Paris, Pakar: Penghinaan Wartawan Bisa Diproses Hukum
Jaksa Agung Mutasi 8...
Jaksa Agung Mutasi 8 Kepala Kejaksaan Tinggi, Ada Kajati Aceh hingga Sulsel
Ditjen Imigrasi Siapkan...
Ditjen Imigrasi Siapkan Satu Jenis Paspor Nasional, Nomor Tak Berubah Seumur Hidup
Koalisi Sipil Tolak...
Koalisi Sipil Tolak Pelibatan Babinsa dalam Pengawasan Pajak, Dinilai Ancam Supremasi Sipil
Nihayatul Wafiroh: Pakta...
Nihayatul Wafiroh: Pakta Integritas Bukti Keseriusan Perempuan Bangsa Besarkan PKB
Rekam Jejak Komjen Karyoto,...
Rekam Jejak Komjen Karyoto, dari Pemberantasan Korupsi hingga Jaga Stabilitas Keamanan Nasional
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved