Mendagri Tak Menyangka Pilkada Serentak Lebih Boros Anggaran

Kamis, 27 April 2017 - 16:31 WIB
Mendagri Tak Menyangka...
Mendagri Tak Menyangka Pilkada Serentak Lebih Boros Anggaran
A A A
YOGYAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan, pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak ternyata justru lebih boros anggaran. Padahal, salah satu harapan digelar pilkada serentak untuk menekan biaya yang cukup besar.

"Bayangan saya pilkada serentak akan hemat, tapi mohon maaf, Pilkada Serentak 2015 lalu ternyata anggarannya membengkak, hampir 200%," ujarnya usai menyampaikan keynote speaker dalam seminar nasional asosiasi ilmu politik XXVII tentang Pemilu Serempak 2019 di UGM Yogyakarta, Kamis (27/4/2017).

KPU beralasan harga pembelian logistik selama lima tahun meningkat. Jika dulu kendaraan operasional bisa dengan meminjam pemerintah daerah, saat ini membeli mobil sendiri, sehingga tidak ada efisiensi yang terjadi.

Begitu juga dengan Pilkada Serentak 2017 ini. KPU juga membutuhkan dana yang besar, hampir sama dengan pilkada sebelumnya. Untuk itu, pihaknya berharap agar ada efisiensi dalam pelaksanaan pilkada serentak. "Kita ingin bagaimana pilkada serempak ini efisien," kata politisi senior PDIP ini.

Tjahjo mengaku ukuran sukses pilkada serentak tidak bisa dinilai dengan uang semata. Menurutnya, biaya politik dalam kegiatan politik begitu besar. Misalnya, ada calon anggota DPR yang mengeluarkan dana sangat besar hingga mencapai miliaran rupiah.

"Yang paling penting itu partisipasi masyarakat, tidak ada politik uang, jaminan kebebasan menyampaikan sikap dan etika," tandasnya.

Terkait pilkada serentak, kata dia, diharapkan bisa membangun hubungan baik tata kelola pemerintah pusat dengan daerah. Jika tidak singkron, akan ada benturan antara pusat dan daerah.

Terkait data kependudukan, menurutnya sudah siap. Sedangkan para pencari KTP elektronik yang masih mengantongi suket (surat keterangan) sebanyak 4,5 juta orang, kini sudah dicetak blangko sebanyak 7 juta.

"Akhir Maret sudah masuk cetak, bertahap kami nyetak tujuh juta keping. Kami akan melunasi yang 4,2 juta yang sudah merekam tapi baru dapat suket," katanya.

Anggota KPU Hasyim Asyari menyatakan, tata kelola Pemilu 2019, ada dua topik yang berpengaruh terhadap perencanaan operasional KPU sebagai penyelenggara. Kedua hal itu tentang sistem pemilu yang akan diterapkan dan kejelasan tentang yang dimaksud dengan keserentakan pemilu.

"Efektivitas sistem pemilu diukur dari apakah sistem itu mampu menghasilkan sistem politik yang stabil atau tidak," katanya.
(kri)
Berita Terkait
Jadwal dan Tahapan Pilkada...
Jadwal dan Tahapan Pilkada Serentak Tahun 2024
Masyarakat Harus Mengutamakan...
Masyarakat Harus Mengutamakan Aspek Rasionalitas saat Pilkada
Mahfud MD, Setelah Pilkada...
Mahfud MD, Setelah Pilkada Timbul Sejumlah Permasalahan
Kaesang Pangarep Tidak...
Kaesang Pangarep Tidak Bisa Maju Pilkada 2024
738 Bakal Pasangan Calon...
738 Bakal Pasangan Calon Terdaftar Dalam Pilkada 2020
Kampanye Daring Tak...
Kampanye Daring Tak Diminati Paslon Pilkada Serentak 2020
Berita Terkini
Hari Ini, Tersangka...
Hari Ini, Tersangka Don Ritto dan Barang Bukti Dilimpahkan ke Kejagung
Hendardi Beberkan 3...
Hendardi Beberkan 3 Kejanggalan Penanganan Kasus Febrie Adriansyah oleh Kejagung: Keberanian KPK Sedang Diuji
3 Brigjen Pol Dimutasi...
3 Brigjen Pol Dimutasi Kapolri ke Divkum Polri pada Juni 2026, Ini Daftar Namanya
M Jasin Dorong KPK Ambil...
M Jasin Dorong KPK Ambil Alih Kasus Febrie Andriansyah: Jangan Ewuh Pakewuh
Kasus Eks Jampidsus...
Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Diyakini Terus Berkembang, Eks Penyidik KPK: Ikuti Aliran Uangnya
BNPB: Karhutla Landa...
BNPB: Karhutla Landa Tiga Daerah, Terparah di Banjarbaru Kalsel
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved