Ekonomi Dunia Terancam

Selasa, 06 Desember 2016 - 08:21 WIB
Ekonomi Dunia Terancam
Ekonomi Dunia Terancam
A A A
PEREKONOMIAN dunia terus dibayangi awan kelabu. Setelah dihajar peristiwa Britain Exit (Brexit) keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa yang mengubah peta perekonomian di kawasan Eropa dan disusul terpilihnya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang diperkirakan arah kebijakannya cenderung protektif, pola perekonomian dunia bakal ”terganggu”.

Kini muncul persoalan baru setelah reformasi konstitusional gagal diwujudkan di Italia. Dalam referendum yang digelar Minggu kemarin, rakyat Italia terpaksa harus menurunkan Perdana Menteri Metteo Renzi dari kursi kekuasaan karena menolak reformasi konstitusional.

Sesuai janji Matteo Renzi, bila dalam referendum penentuan reformasi konstitusional pihaknya kalah, taruhannya adalah mundur secara sukarela dari jabatan perdana menteri Italia. ”Perjalanan saya dalam pemerintahan berakhir di sini,” demikian dinyatakan Renzi setelah dipastikan kalah dalam referendum yang krusial itu.

Tak pelak lagi, pengunduran Matteo Renzi yang sudah berkuasa selama dua setengah tahun itu menjadi pukulan berat bagi Uni Eropa. Dampak dari keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang membuat perekonomian di kawasan Eropa kurang stabil belum teratasi sepenuhnya, muncul lagi kasus Italia.

Kekalahan Matteo Renzi itu langsung membuat loyo mata uang Euro ke level terendah terhadap dolar AS dalam dua tahun terakhir.

Sejak awal digulirkan wacana reformasi konstitusional memang tanda-tanda kekalahan sudah mulai berpihak ke Matteo Renzi. Dari 51 juta warga Italia yang akan memberikan suara, ternyata lebih dominan menolak tawaran pemerintah untuk melakukan reformasi konstitusional di Negeri Piza itu.

Selain itu, hasil semua survei yang digelar sebulan sebelum referendum juga menyatakan menolak ide reformasi konstitusional tersebut. Namun, Matteo Renzi berharap publik masih bisa mendukungnya, terutama bagi warga yang masih ragu dengan kebijakan yang dinilai bisa mengeluarkan Italia dari berbagai persoalan yang sedang melilitnya.

Seperti apakah bentuk reformasi konstitusional ala Italia itu? Reformasi konstitusional yang ditawarkan Matteo Renzi untuk mereformasi birokrasi yang bisa memudahkan penyelenggaraan pemerintahan. Di antaranya, memangkas kewenangan senat dengan tujuan kebijakan baru pemerintah cukup persetujuan dari parlemen di tingkat yang lebih rendah.

Persoalan finansial Italia sudah pada tahap mengkhawatirkan, total utang negara itu sudah mencapai 356 miliar euro atau setara dengan Rp5.340 triliun. Utang yang sudah menggunung itu telah memberatkan siapa pun yang menjadi penguasa di negeri itu. Selain itu, dunia perbankan juga butuh suntikan modal 20 miliar euro atau sekitar Rp300 triliun untuk keluar dari masalah utang.

Gagalnya pembenahan internal di Italia tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi ekonomi di dalam negeri, tetapi juga meluas ke Uni Eropa hingga dunia. Risiko terbesar yang timbul adalah ketidakpastian ekonomi yang memicu kepanikan investor hingga krisis perbankan di Uni Eropa mengingat Italia sebagai negara dengan ekonomi ketiga terbesar di Uni Eropa.

Mundurnya Matteo Renzi dari tampuk kekuasaan semakin memperburuk kondisi ekonomi domestik dan menjauhkan Italia dari Uni Eropa. Penyelamatan perbankan dari kebangkrutan akan berhenti dan sikap skeptis kalangan oposisi terhadap Uni Eropa semakin mengental, dan terbuka peluang untuk mengendalikan pemerintahan.

Bagaimana dampaknya terhadap Indonesia? Secara global jelas imbasnya dirasakan Pemerintah Indonesia dalam memacu pertumbuhan perekonomian nasional. Bila perekonomian Uni Eropa terganggu, dampaknya terhadap perekonomian global tak bisa ditepis.

Namun, secara bilateral diperkirakan tidak akan berpengaruh secara signifikan karena perdagangan dua negara masih tercatat dalam porsi yang kecil. Italia bukanlah mitra dagang utama Indonesia seperti yang terjalin dengan AS, China, Jepang, dan Singapura.

Meski perekonomian dunia masih dalam situasi yang memprihatinkan belakangan ini, pemerintah tetap optimistis mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menilai fundamental perekonomian cukup meyakinkan yang didukung aktivitas Bank Indonesia (BI), terutama dalam menangani volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Pemerintah boleh percaya diri dengan fundamental yang terus menunjukkan kecenderungan positif, namun tetap harus berhati-hati, terutama dalam mengantisipasi arah kebijakan ekonomi Negeri Paman Sam di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang akan resmi berkantor di Gedung Putih pada 20 Januari 2017.
(poe)
Berita Terkait
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Mendata Masyarakat Miskin...
Mendata Masyarakat Miskin Baru
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Berita Terkini
KPK: Silmy Karim Kantongi...
KPK: Silmy Karim Kantongi Rp100 Juta per Pekan dari Pemerasan Izin Tinggal WNA
Nanik S Deyang Ungkap...
Nanik S Deyang Ungkap Mayjen Trenggono Segera Mundur dari TNI usai Jadi Wakil Kepala BGN
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Jejak Uang Rp366,7 Miliar...
Jejak Uang Rp366,7 Miliar ke Pegawai Imipas Bongkar Dugaan Pemerasan oleh Silmy Karim
Kejagung Tak Sita Motor...
Kejagung Tak Sita Motor Listrik Kasus Dugaan Korupsi di Badan Gizi Nasional, Ini Alasannya
Dadan Hindayana Cs Korupsi...
Dadan Hindayana Cs Korupsi Tata Kelola MBG, Noel: Memprihatinkan
Infografis
Daftar Skuad Timnas...
Daftar Skuad Timnas Mesir di Piala Dunia 2026, Mohamed Salah Ujung Tombak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved