1.500 Anak di Jakarta, Banten dan Jabar Jadi Korban Vaksin Palsu
Rabu, 24 Agustus 2016 - 20:06 WIB
1.500 Anak di Jakarta, Banten dan Jabar Jadi Korban Vaksin Palsu
A
A
A
JAKARTA - Sebanyak 1.500 anak tercatat menjadi korban vaksin palsu sejak tahun 2014 hingga 23 Agustus 2016. Dari jumlah 1.500 itu, 915 bayi di antaranya di Provinsi DKI Jakarta, 211 bayi di Provinsi Banten dan 374 bayi di Provinsi Jawa Barat.
"Yang verifikasi jadi setelah dapat data dari Bareskrim, kita verifikasi dari rumah sakit yang dikatakan tersebut dan kita melihat dari medical report dan minta laporan dari mereka," ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek dalam rapat bersama Komisi IX DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2016).
Namun, dia mengklaim bahwa 1500 anak itu sudah diberikan vaksin ulang. "Imunisasi sudah diberi, yang penting kita memberikan kekebalan kembali tubuhnya untuk imunisasi wajib," tuturnya.
Dalam melakukan vaksin ulang, pihaknya berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). "Kan misalnya saya belum yakin anak saya dapat vaksin palsu, kalau ragu boleh diberikan imunisasi ulang, karena IDAI tidak ada namanya overdosis vaksin," ungkapnya.
Sementara bagi orangtua yang ragu apakah anaknya menjadi korban vaksin palsu atau tidak, dipersilakan berkonsultasi dengan dokter anak. Sementara bagi orangtua yang menolak program vaksin ulang, dipersilakan menggunakan dokter pribadi.
"Kita menyatakan bahwa kami memberikan kembali gratis, kalau mau ke dokter pribadinya silakan. Kami coba menjelaskan, yang disebut medical check-up itu pemeriksaan, misalnya apakah mendapatkan penyakit dari vaksin," tuturnya.
"Yang verifikasi jadi setelah dapat data dari Bareskrim, kita verifikasi dari rumah sakit yang dikatakan tersebut dan kita melihat dari medical report dan minta laporan dari mereka," ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek dalam rapat bersama Komisi IX DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2016).
Namun, dia mengklaim bahwa 1500 anak itu sudah diberikan vaksin ulang. "Imunisasi sudah diberi, yang penting kita memberikan kekebalan kembali tubuhnya untuk imunisasi wajib," tuturnya.
Dalam melakukan vaksin ulang, pihaknya berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). "Kan misalnya saya belum yakin anak saya dapat vaksin palsu, kalau ragu boleh diberikan imunisasi ulang, karena IDAI tidak ada namanya overdosis vaksin," ungkapnya.
Sementara bagi orangtua yang ragu apakah anaknya menjadi korban vaksin palsu atau tidak, dipersilakan berkonsultasi dengan dokter anak. Sementara bagi orangtua yang menolak program vaksin ulang, dipersilakan menggunakan dokter pribadi.
"Kita menyatakan bahwa kami memberikan kembali gratis, kalau mau ke dokter pribadinya silakan. Kami coba menjelaskan, yang disebut medical check-up itu pemeriksaan, misalnya apakah mendapatkan penyakit dari vaksin," tuturnya.
(kri)