Gerindra Minta Revisi UU KPK Dicabut dari Prolegnas

Selasa, 23 Februari 2016 - 18:59 WIB
Gerindra Minta Revisi...
Gerindra Minta Revisi UU KPK Dicabut dari Prolegnas
A A A
JAKARTA - Partai Gerindra meminta agar revisi Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang‎ Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) dicabut dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2016. Hal itu berdasarkan rapat Fraksi Partai Gerindra.

"Tadi kami rapat fraksi, keputusan Partai Gerindra itu satu, kami meminta supaya ini ditarik dari Prolegnas Prioritas 2016, jadi itu keputusan Fraksi," kata Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR dari Fraksi Gerindra Supratman Andi Atgas di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/2/2016).‎

Lebih lanjut, dia mengatakan, Fraksi Gerindra meminta kepada DPR dan pemerintah untuk meninjau ulang Prolegnas Prioritas 2016. Karena‎, nasib revisi UU KPK itu dinilai tidak menimbulkan kepastian bagi pemerintah dan DPR.

"Dan kemudian kita tarik itu Undang-undang KPK. Jadi tidak dilanjutkan lagi," tuturnya.

Pada rapat konsultasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama DPR dan Baleg di Istana Negara, Jakarta, kemarin, disepakati bahwa pembahasan revisi UU KPK ditunda. "Ya karena presiden sudah ‎menyatakan menunda, kita enggak mau itu digantung, Partai Gerindra berpendapat dari sisi substansinya juga belum waktunya," tuturnya.

Dengan ditundanya pembahasan itu, dia melihat Presiden Jokowi atau pemerintah belum bersedia membahas revisi UU KPK. "Mungkin sebaiknya dimasukkan dalam Prolegnas yang akan datang sampai pemerintah yakin betul menyangkut hak ini," imbuhnya.

Hal senada dikatakan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. ‎Dia mengatakan, jika pemerintah merasa revisi UU KPK itu tak perlu berada di Prolegnas Prioritas 2016, tidak menjadi masalah.

Artinya, lanjut dia, hal demikian harus dibicarakan DPR. "Saya kita itu belum menjadi prioritas kita karena itu harus menjadi pembahasan ulang, kalau Gerindra berpendapat ya tidak perlu lagi untuk saat ini kita bicara soal revisi undang-undang KPK," tutur Fadli.

Lebih lanjut, kata dia, KPK yang independen dan kuat dibutuhkan masyarakat. Karena, institusi penegak hukum selain KPK dinilai tidak mampu melaksanakan tugas secara maksimal.

"Jadi memang kita membutuhkan KPK, tapi KPK kita harapkan memang betul-betul kuat, bebas dari intervensi kekuasaan, kalau ada kasus-kasus itu juga jangan diintervensi oleh pihak manapun," pungkas Fadli.

PILIHAN:

Kejagung Lakukan Penyidikan Kasus BOT Hotel Indonesia

Hanura: Jaksa Agung Beri Contoh Buruk Bagi Penegakan Hukum
(kri)
Berita Terkait
Terima Banyak Komplain,...
Terima Banyak Komplain, Komisi III DPR Usul Dewas Ajukan Revisi RUU KPK
Lengkap! Kronologi UU...
Lengkap! Kronologi UU No 19 Tahun 2019 tentang KPK hingga Pernyataan Terbaru Jokowi yang Picu Polemik
Pimpinan DPR Ungkap...
Pimpinan DPR Ungkap Tak Ada Usulan Bahas Revisi UU KPK
UU ASN Disahkan, Begini...
UU ASN Disahkan, Begini Nasib 2,3 Juta Pegawai Honorer
DPR Sahkan Revisi UU...
DPR Sahkan Revisi UU PPP
Aksi Tuntut Revisi UU...
Aksi Tuntut Revisi UU ITE
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved