Mempertanyakan Helikopter Kepresidenan

Jum'at, 27 November 2015 - 06:42 WIB
Mempertanyakan Helikopter...
Mempertanyakan Helikopter Kepresidenan
A A A
PRESIDEN Joko Widodo tahun depan bisa blusukan dengan menggunakan helikopter kepresidenan baru, Agusta Westland-AW101. Inilah perdebatan terbaru nan seru mengenai pembelian alutsista di Renstra Minimum Essential Force (MEF) II 2015-2019, selain rencana pembelian pesawat tempur pengganti F-5 Tiger, yakni apakah memilih Sukhoi Su-35 buatan Rusia atau F-16 Viper dari Amerika Serikat (AS) yang belakangan mencoba menyalip di tikungan.

Sorotan paling awal adalah senyapnya rencana pembelian helikopter hasil joint venture antara Westland Helicopters Inggris dan Agusta Italia tersebut. Khalayak membandingkan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di akhir pemerintahannya membeli pesawat kepresidenan Boeing 737-800 Business Jet. Banyak politikus, pengamat, atau anggota DPR yang dulu bersuara lantang memilih diam pada pembelian helikopter AW 101. Padahal sama-sama sarana transportasi VVIP dan sama-sama tidak urgen.

Namun perdebatan tersebut dengan sendirinya mentah ketika TNI AU menegaskan rencana pembelian helikopter tersebut merupakan bagian dari rencana belanja TNI yang sudah dirancang jauh hari dalam renstra. Bahkan rencananya TNI akan membeli 6 AW 101. Mereka juga mengklaim pilihan membeli AW 101 sudah sesuai dengan kajian Skuadron VVIP TNI AU dan keputusan membeli AW 101 sebagai pilihan terbaik, termasuk bila dibandingkan dengan EC- 725 Cougar yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia (DI).

Selesaikah perdebatan dengan adanya jawabanTNIAU tersebut? Tidak. Masih banyak soal yang diperdebatkan sehingga TNI AU perlu berpikir lebih matang lagi, bahkan menganulir rencana pembelian helikopter tersebut. Beberapa soal yang harus dikaji kembali adalah offset seperti apa yang bakal diperoleh? Apakah AW 101 satu-satunya pilihan sehingga tidak bisa disubstitusi dengan jenis lain? Dan apakah benar pembelian helikopter sudah sangat urgen hingga harus diwujudkan dalam renstra II MEF?

Rencana pembelian helikopter maritim supermewah tersebut bisa dibilang cukup mengagetkan. Tiba-tiba TNI AU sudah memutuskan membeli! Di sisi lain, kalangan DPR, terutama Komisi I DPR, sama sekali tidak mengetahui program pembelian tersebut. Jika rencana itu sudah ditetapkan DPR periode sebelumnya, program tersebut juga jauh dari hiruk-pikuk perdebatan. Terutama offset apa yang ditawarkan, termasuk di dalamnya transfer of technology (ToT). ToT menjadi variabel penting karena sudah diamanatkan UU No 03 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.

Pada rencana pembelian pesawat pengganti F-5 Tiger, misalnya, perdebatan ToT cukup mengemuka selain persoalan politis dan kebutuhan membangun air superiority. AS, dalam hal ini Lockheed Martin, sudah siap menawarkan ToT yang dimaui Indonesia serta iming-iming paket penjualan yang menggiurkan. Adapun Rusia yang selama ini sangat pelit, setelah melalui negosiasi panjang, sudah menyatakan kesediaannya untuk melaksanakan ToT, di antaranya joint production suku cadang dan mendirikan service center di Indonesia.

Selain senyapnya perdebatan ToT, pembelian helikopter memunculkan pertanyaan karena Indonesia, dalam hal ini PT DI, sudah membuat helikopter yang tak kalah canggih dan layak untuk kebutuhan VVIP, yaitu EC-725 Cougar. Malahan, helikopter tersebut sudah digunakan 32 kepala negara. Jika TNI AU mengedepankan keamanan dan kenyamanan sebagai syarat mutlak, PT DI sudah memberikan jaminan akan memenuhinya, termasuk melakukan kustomisasi. Di sisi lain, PT DI berani mengingatkan bahwa AW 101 sangat rentan serangan rudal karena bermesin tiga. Tambahan lagi, harga heli PT DI jauh lebih murah, USD30 juta, daripada AW 101 yang harga bodongnya mencapai USD45 juta per unit.

Poin krusial lain yang tak kalah penting dipersoalkan, apakah Indonesia mutlak memerlukan helikopter untuk VVIP, yakni helikopter yang hanya digunakan untuk wara-wiri Presiden, Wapres, para pejabat negara, atau pimpinan TNI? Padahal, faktanya, Indonesia masih membutuhkan helikopter multiperan yang bisa dimanfaatkan untuk banyak kepentingan, termasuk untuk operasi nonmiliter seperti penanganan bencana. Atau, ketimbang membeli helikopter yang hanya melayani kepentingan segelintir pembesar, kenapa tidak sekalian membeli helikopter tempur yang jumlahnya masih jauh dari kebutuhan minimum?
(hyk)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Penjelasan Menteri PU...
Penjelasan Menteri PU Dody Hanggodo tentang Isu Tak Mau Salaman dengan Bawahan dan Pakai Private Jet
Kuntadi Jadi Jampidsus,...
Kuntadi Jadi Jampidsus, Yusril: Tugas Pokoknya Selesaikan Kasus Febrie Adriansyah
Celoteh Hotman Paris,...
Celoteh Hotman Paris, Pakar: Penghinaan Wartawan Bisa Diproses Hukum
Jaksa Agung Mutasi 8...
Jaksa Agung Mutasi 8 Kepala Kejaksaan Tinggi, Ada Kajati Aceh hingga Sulsel
Ditjen Imigrasi Siapkan...
Ditjen Imigrasi Siapkan Satu Jenis Paspor Nasional, Nomor Tak Berubah Seumur Hidup
Koalisi Sipil Tolak...
Koalisi Sipil Tolak Pelibatan Babinsa dalam Pengawasan Pajak, Dinilai Ancam Supremasi Sipil
Infografis
Presiden Iran Tewas...
Presiden Iran Tewas Kecelakaan Helikopter, Sabotase Israel?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved