Soal Helikopter Kepresidenan, DPR Ingin Ada Opsi Lain

Kamis, 26 November 2015 - 10:18 WIB
Soal Helikopter Kepresidenan,...
Soal Helikopter Kepresidenan, DPR Ingin Ada Opsi Lain
A A A
JAKARTA - Rencana pembelian helikopter kepresidenan pada pertengahan tahun 2016 mendatang merupakan bagian dari rencana strategis (renstra) TNI tahun 2014. (Baca juga: Ini Alasan Pemerintah Beli Helikopter Kepresidenan)

Renstra itu dibahas bersama DPR periode 2009-2014. Dengan demikian, DPR periode saat ini tidak tahu menahu rencana pembelian helikopter itu masuk ke renstra TNI Angkatan Udara (AU).

"Sepertinya itu renstra tahun 2014, sejak periode sebelumnya. Realisasi baru sekarang sampai 2019," kata Anggota Komisi I DPR Sukamta kepada Koran SINDO, Rabu 25 November 2015.

Oleh karena itu, lanjut Sukamta, rencana pembelian helikopter kepresidenan jenis AgustaWestland AW-101 buatan Italia dan Inggris menggantikan helikopter jenis Super Puma buatan Perancis itu tidak pernah dibicarakan di Komisi I DPR pada periode saat ini.

"Di Komisi I belum dibahas kok. Enggak pernah bahas kita," kata Sekretaris Fraksi PKS di DPR itu.

Adapun jenis helikopter yang akan dibeli, Sukamta menambahkan pastinya itu sudah berdasarkan pertimbanganbdan kajian TNI AU. (Baca juga: Kadispen AU Beberkan Keunggulan Helikopter Baru Kepresidenan)

Menurut dia, DPR sudah tidak lagi membahas detail perihal spesifikasi dan sejenisnya. Kendati demikian, dia menyarankan agar rencana pembelian helikopter disesuaikan dengan kondisi perekonomian saat ini.

Dia berharap ada opsi lain dalam memilih helikopter kepresidenan. Misalnya, helikoter yang harganya terjangkau dengan sedikit modifikasi.

Anggota Komisi I DPR lainnya Prananda Paloh turut menyampaikan kritiknya terkait rencana pembelian tiga helikopter oleh TNI AU dalam satu tahun ke depan.

Dia menyarankan agar sebaiknya pemerintah menunda rencana tersebut. "Kalau dilihat dari usia, helikopter ya sudah tua. Namun jangan lupa bahwa helikopter bisa dinolkan lagi usia operasionalnya, dengan program refurbished dan retrofitted," kata Prananda.

Dia berharap TNI AU mengkaji pilihan produk paling tepat di antara berbagai jenis helikopter yang tersedia.

Nanda juga merujuk UU No 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Undang-undang itu mengamanatkan pembelian perangkat pertahanan agar diprioritaskan pada produk-produk dalam negeri.
(dam)
Berita Terkait
Cat Ulang dan Ubah Warna...
Cat Ulang dan Ubah Warna Pesawat Kepresidenan Bukan Kebutuhan Mendesak
Heboh Biaya Pengecatan...
Heboh Biaya Pengecatan Pesawat Kepresidenan Tembus Rp2,1 Miliar. Selengkapnya di iNews Room Selasa Pukul 18.00 WIB
Pesawat Kepresidenan...
Pesawat Kepresidenan Dicat Ulang, Ini Penjelasan Istana
Pemborosan, Biaya Pengecatan...
Pemborosan, Biaya Pengecatan Pesawat Kepresidenan Diperkirakan Tembus Rp2,1 Miliar
Spesifikasi Ilyushin...
Spesifikasi Ilyushin Il-96, Pesawat Kepresidenan yang Mengantar Vladimir Putin ke Timur Tengah
Penampilan Perdana Pesawat...
Penampilan Perdana Pesawat Kepresidenan Merah Putih
Berita Terkini
Viral Lagu MBG Mas Bahlil...
Viral Lagu MBG Mas Bahlil Ganteng, Adi Prayitno: Suka Tidak Suka, Ini Menguntungkan Golkar
Jelang Muktamar, Kiai...
Jelang Muktamar, Kiai Muda NU Konsolidasikan Gerakan Moral dari Solo Raya
Kasus Bea Cukai, KPK...
Kasus Bea Cukai, KPK Periksa 20 Petinggi Forwarder
BNPP Gelar Upacara Hari...
BNPP Gelar Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Teguhkan Peran Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa
Hari Lahir Pancasila,...
Hari Lahir Pancasila, Arief Pramuhanto Tulis Surat dari Penjara dan Bantah Korupsi
Golkar Sebut Pemilu...
Golkar Sebut Pemilu 2029 Bisa Gunakan Sistem e-Voting asal Prasyarat Ini Dipenuhi
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved