Pemerintah Jokowi Diminta Dengarkan Saran SBY
Jum'at, 28 Agustus 2015 - 13:26 WIB
Pemerintah Jokowi Diminta Dengarkan Saran SBY
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla diminta untuk mendengarkan saran Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam upaya menghadapi krisis.
Sebagai mantan Presiden, SBY dinilai memiliki pengalaman dalam mengelola negara, khususnya dalam menghadapi dan mengatasi krisis.
Politikus Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Luhtfi A Mutty mengapresiasi sikap SBY yang masih memiliki rasa tanggung jawab terhadap negara dengan memberikan masukan-masukannya.
Hal itu dikatakan Luhtfi menanggapi pernyataan SBY di Cikeas pada Kamis 27 Agustus 2015 malam. SBY menyarankan agar pemerintahan Jokowi-JK segera mengambil langkah antisipatif dalam menghadapi krisis.
SBY menilai kondisi saat ini berbeda dengan tahun 1998 dan 2008 jika dilihat dari aspek fundamental ekonomi, pertumbuhan, serta kondisi sosial-politik. Kendati demikian, SBY mengingatkan pemerintah jangan lengah karena dapat berbahaya.
"Ini bukan lantaran Pak SBY mencari muka kepada pemerintah sekarang, jangan ditafsirkan seperti itu. Artinya ini keterpanggilan beliau sebagai seorang negarawan, bekas pemimpin negara ini. Dia masih punya rasa tanggung jawab, itu dorongan dari rasa tanggung jawab untuk melihat negara ini semakin bagus ke depan," tutur Luhtfi di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (28/8/2015).
Oleh karena itu, kata dia, masukan yang diberikan SBY bukan lagi persoalan etis atau tidak namun persoalan tanggung jawab. Menurut dia, SBY memiliki tanggung jawab untuk melihat negera ini ke depan.
"Dia punya pengalaman di kala pemerintah SBY pernah mengalami krisis. Saya kira pengalaman-pengalaman itu selama itu bagus perlu kita apresiasi dan dipertimbangkan," tutur anggota Komisi II DPR itu.
PILIHAN:
Minim Kaum Hawa, Pendaftaran Calon Anggota Ombudsman Diperpanjang
Sebagai mantan Presiden, SBY dinilai memiliki pengalaman dalam mengelola negara, khususnya dalam menghadapi dan mengatasi krisis.
Politikus Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Luhtfi A Mutty mengapresiasi sikap SBY yang masih memiliki rasa tanggung jawab terhadap negara dengan memberikan masukan-masukannya.
Hal itu dikatakan Luhtfi menanggapi pernyataan SBY di Cikeas pada Kamis 27 Agustus 2015 malam. SBY menyarankan agar pemerintahan Jokowi-JK segera mengambil langkah antisipatif dalam menghadapi krisis.
SBY menilai kondisi saat ini berbeda dengan tahun 1998 dan 2008 jika dilihat dari aspek fundamental ekonomi, pertumbuhan, serta kondisi sosial-politik. Kendati demikian, SBY mengingatkan pemerintah jangan lengah karena dapat berbahaya.
"Ini bukan lantaran Pak SBY mencari muka kepada pemerintah sekarang, jangan ditafsirkan seperti itu. Artinya ini keterpanggilan beliau sebagai seorang negarawan, bekas pemimpin negara ini. Dia masih punya rasa tanggung jawab, itu dorongan dari rasa tanggung jawab untuk melihat negara ini semakin bagus ke depan," tutur Luhtfi di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (28/8/2015).
Oleh karena itu, kata dia, masukan yang diberikan SBY bukan lagi persoalan etis atau tidak namun persoalan tanggung jawab. Menurut dia, SBY memiliki tanggung jawab untuk melihat negera ini ke depan.
"Dia punya pengalaman di kala pemerintah SBY pernah mengalami krisis. Saya kira pengalaman-pengalaman itu selama itu bagus perlu kita apresiasi dan dipertimbangkan," tutur anggota Komisi II DPR itu.
PILIHAN:
Minim Kaum Hawa, Pendaftaran Calon Anggota Ombudsman Diperpanjang
(dam)