ASEAN Soroti Isu Reklamasi Lahan

Jum'at, 07 Agustus 2015 - 09:57 WIB
ASEAN Soroti Isu Reklamasi...
ASEAN Soroti Isu Reklamasi Lahan
A A A
KUALA LUMPUR - Asosiasi Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) sangat mengkhawatirkan reklamasi lahan di Laut China Selatan. Sikap itu terungkap dalam pernyataan yang dirilis pada akhir perundingan di Kuala Lumpur kemarin.

Negara-negara anggota ASEAN akhirnya menyepakati pernyataan bersama itu setelah perundingan didominasi keluhan tentang aktivitas China di wilayah sengketa yang menjadi rute perdagangan global. Pernyataan bersama itu mengungkapkan bahwa masalah Laut China Selatan dibahas secara luas.

”Pernyataan bersama juga mengungkapkan bahwa China dan negara-negara ASEAN akan memproses tahap selanjutnya mengenai code of conduct yang akan mengikat mereka dalam aturan rinci perilaku di laut,” papar laporan kantor berita Reuters .

Para menteri luar negeri (menlu) dari 10 negara anggota ASEAN bergabung pekan ini bersama mitra mereka dari beragam negara, termasuk China dan Amerika Serikat (AS). Aktivitas China yang melakukan reklamasi pantai dan membangun pos militer dianggap negara-negara tetangganya sebagai pelanggaran janji regional untuk menolak aksi provokasi di wilayah itu.

Sumber diplomatik menjelaskan, Filipina dan Vietnam secara khusus mendorong sikap tegas terhadap reklamasi pantai oleh China. Aktivitas perluasan lahan itu dapat memperkuat klaim China terhadap wilayah sengketa tersebut.

Meski demikian, ada perubahan sikap dari negara-negara yang biasanya menjadi aliansi China di ASEAN dalam pertemuan pekan ini di Malaysia. ”Teman-teman China mengambil sikap tegas,” ungkap seorang diplomat yang mengetahui proses penyusunan pernyataan bersama tersebut.

Diplomat itu tidak menyebutkan secara khusus negara mana yang bersikap keras, tapi Kamboja, Laos, dan Myanmar biasanya menjadi aliansi China di ASEAN. Saat pertemuan ASEAN pada 2012 di Kamboja, blok tersebut untuk pertama kali dalam empat dekade gagal mengeluarkan pernyataan bersama.

Kamboja dituduh memicu kegagalan mengeluarkan pernyataan bersama karena negara itu menolak mengkritik China dalam masalah sengketa wilayah maritim. ”China telah menunjukkan bagaimana ASEAN bekerja di Laut China Selatan, mereka tahu bagaimana memecah belah kita. Lihat apa yang terjadi di Kamboja,” tutur seorang diplomat dalam perundingan di Kuala Lumpur.

Utusan dari 27 negara, termasuk AS dan China, berada di Kuala Lumpur untuk hari terakhir perundingan keamanan regional yang didominasi masalah sengketa maritim. Beijing mengklaim kontrol atas hampir seluruh Laut China Selatan yang diduga mengandung banyak cadangan minyak dan gas.

Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei yang semuanya anggota ASEAN, juga memiliki berbagai klaim, termasuk Taiwan, yang semuanya saling tumpang tindih. Setiap tahun blok regional itu mengeluarkan pernyataan bersama setelah rapat tahunan para menlu.

Menlu Singapura K. Shanmugam kemarin menjelaskan, pernyataan bersama sudah selesai lusa kemarin. ”Itu belum selesai sekarang. Ada berbagai kesulitan. Paragraf terkait Laut China Selatan menyebabkan beberapa masalah,” katanya.

Pernyataan bersama yang diterima kantor berita AFP tidak menyebutkan penghentian reklamasi. Pernyataan bersama itu memperingatkan, ”Perkembangan baru di laut memiliki potensi merusak perdamaian, keamanan dan stabilitas. Ada kebutuhan penting untuk mengatasi lunturnya kepercayaan dan keyakinan di antara berbagai pihak pada masalah tersebut.”

Para delegasi menjelaskan, mereka masih berharap dapat mengeluarkan pernyataan bersama. AS dannegara-negaraAsia Tenggara menyerukan penghentian reklamasi pantai dan konstruksi di wilayah sengketa. China sejauh ini menolak desakan tersebut.

Kendati demikian, Menlu China Wang Yi menyatakan, reklamasi lahan telah berhenti. Adapun, beberapa delegasi di Kuala Lumpur menepis klaim tersebut. ”Mereka tidak mengatakan mereka menghentikan konstruksi, atau mereka menyatakan akan menghentikan reklamasi di masa depan,” ujar seorang diplomat. Filipina menyatakan, pihaknya hanya akan puas jika China menghentikan konstruksi di wilayah sengketa.

”Selain menghentikan reklamasi, sikap Filipina mendorong penghentian konstruksi dan semua aksi yang memicu ketegangan,” papar juru bicara kepresidenan Filipina Herminio Coloma.

Syarifudin
(ftr)
Berita Terkait
Rakyat Myanmar Siap...
Rakyat Myanmar Siap Laksanakan Pemilihan Umum Minggu Ini
Polisi Italia Sita 6,6...
Polisi Italia Sita 6,6 Ton Ganja dalam Kapal Pesiar Bendera Amerika
Film Horor hingga Superhero,...
Film Horor hingga Superhero, 5 Film Indonesia Go International
Netanyahu Sebut Akan...
Netanyahu Sebut Akan Caplok 30% Wilayah Tepi Barat ke Israel
Masjid Al-Aqsa Kembali...
Masjid Al-Aqsa Kembali Dibuka Setelah Hampir 3 Bulan Ditutup
Pesawat Pakistan Jatuh,...
Pesawat Pakistan Jatuh, Kemlu Sebut Sementara Tidak Ada Korban WNI
Berita Terkini
Jelang Vonis Kasus Sertifikasi...
Jelang Vonis Kasus Sertifikasi K3, Noel: Kalau Saya Terbukti Peras Pengusaha Hukum Mati
Berkas Roy Suryo Cs...
Berkas Roy Suryo Cs P21, Polda Metro Diminta Segera Lakukan Pelimpahan Tahap Dua
Dadan Hindayana Cs Terjerat...
Dadan Hindayana Cs Terjerat Korupsi, DPR Perketat Pengawasan Tata Kelola di BGN
Noel Jelang Vonis Kasus...
Noel Jelang Vonis Kasus Pemerasan di Kemnaker: Naik Asam Lambung Saya
Kejagung Ungkap Tersangka...
Kejagung Ungkap Tersangka Dadan Hindayana dan 2 Eks Waka BGN Bekerja Sama dan Saling Mengetahui
Tersangka Korupsi, Silmy...
Tersangka Korupsi, Silmy Karim dan Pejabat Imigrasi Dinonaktifkan dari Jabatan
Infografis
4 Pemain Timnas Indonesia...
4 Pemain Timnas Indonesia Masuk Daftar Pesepak Bola Termahal ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved