Bersatu Mendukung Negeri

Selasa, 09 Juni 2015 - 10:19 WIB
Bersatu Mendukung Negeri
Bersatu Mendukung Negeri
A A A
Hari lahir Pancasila kembali kita peringati pada 1 Juni lalu, ingatan kita tentu kembali menerawang pada 70 tahun lalu, saat kata Pancasila mulai diperkenalkan.

Sepanjang perjalanan itu, nilai-nilai Pancasila bisa kita jabarkan implementasinya dalam luasnya keseharian kita. Nilai kereligiusan masih tetap kita pegang, pembuktian bahwa negara Indonesia bukan negara sekuler masih dapat kita lihat. Namun melihat implementasi sila-sila selanjutnya yang seharusnya dijiwai oleh implementasi sila pertama, masih perlu kita evaluasi.

Bagaimanapun, di balik perbedaan keyakinan, nilai penghargaan terhadap masing-masing hak warga negara tetap harus kita junjung. Biarkan mereka mempercayai apa yang mereka yakini asal tidak berseberangan dengan nilai normatif yang telah kita anut. Memang benar bahwa Indonesia mulai berubah, kesederhanaan telah berubah melalui peran kecanggihan teknologi yang kemudian memberikan kemudahan serta menunjang aktivitas demi kemajuan bangsa.

Benar bahwa kita membutuhkan teknologi itu agar tidak tertinggal, tapi juga tetap harus meningkatkan kualitas diri agar tidak sekadar menjadi konsumen dan terjajah secara halus dari negara lain. Mengapa kita begitu bangga akan pemakaian suatu merek luar. Bukankah seharusnya kita turut bersatu dalam kerendahan hati tanpa mencemooh produk dalam negeri dan mendukung negeri?

Mengapa kita begitu pesimistis dengan negara kita sendiri? Siapa lagi yang akan membantu, saat kita membiarkan saudara kita berjuang sendirian melawan beratnya arus pasar bebas? Karena bangsa asinglah yang akan menuai hasil saat kita berhasil mereka perbudak. Hukum di Indonesia juga lebih berkembang. Lembaga negara lebih tertata dan letaknya sejajar, namun mereka tetap harus melihat arti penting sila keempat dapat dilihat dari proses penyelenggaraan negara.

Perlu peran kita sebagai warga negara untuk mengawasi, perlu ada kesadaran bagi rezim yang sedang berkuasa untuk memberikan bukti. Musyawarah untuk mencapai kemaslahatan memang tidak mudah, perlu pikiran yang kuat, waktu yang lebih lama, dan tenaga bahkan biaya yang tak sedikit pula. Namun, di situlah letak esensinya. Pengharapan kebijakan yang menguntungkan rakyat kecil juga sangat diinginkan.

Penanganan ekonomi perlu diperhatikan agar nilai sila kelima dapat segera terlihat perwujudannya, agar isi sila tidak berubah menjadi ”keadilan sosial bagi seluruh (wakil) rakyat Indonesia”.

Qori Handayani
Mahasisiw Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum, Anggota LinkDeham (Lingkar Kajian demokrasi dan Hak Asasi Manusia) Universitas Negeri Yogyakarta
(ftr)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Jaksa KPK Limpahkan...
Jaksa KPK Limpahkan Berkas Perkara Mantan Ketua PN Depok ke Pengadilan Bandung
Prabowo Bertemu Kapolri...
Prabowo Bertemu Kapolri di Istana, Terima Laporan Kamtibmas-Persiapan Hari Bhayangkara 2026
Komisi I Bangga TNI...
Komisi I Bangga TNI Ikut Urus Pertanian, Dave Laksono: Ini Bukan Kembali ke Dwifungsi
Keberlangsungan Energi...
Keberlangsungan Energi Listrik vs Dominasi Oligarki Batubara
Peradi SAI Siap Jembatani...
Peradi SAI Siap Jembatani Dunia Usaha dan Hukum dalam Pelaksanaan KUHP Baru
Masa Penahanan Dadan...
Masa Penahanan Dadan Hindayana Cs Diperpanjang 40 Hari ke Depan
Infografis
MK Putuskan SD-SMP Negeri...
MK Putuskan SD-SMP Negeri dan Swasta Gratis
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved