Pengamat: Jangan Sampai Keliru Jadi Tradisi Istana

Senin, 08 Juni 2015 - 07:09 WIB
Pengamat: Jangan Sampai...
Pengamat: Jangan Sampai Keliru Jadi Tradisi Istana
A A A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo diminta untuk mengevaluasi kinerja Tim Komunikasi Presiden serta orang di sekitarnya. Langkah itu perlu diambil Jokowi menyusul adanya kekeliruan data.

Apabila Presiden terus melakukan kekeliruan dikhawatirkan membuat citra lembaga kepresidenan tidak lagi menjadi sakral di mata publik.

"Ini tidak boleh ditradisikan dengan menganggapnya wajar. Bagaimanapun presiden berbeda dengan warga biasa," ujar pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) Said Salahudin kepada Sindonews, Minggu 7 Juni 2015.

Hal itu diungkapkan Said menyikapi polemik kekeliruan Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam mengucapkan kota kelahiran Presiden Soekarno. (Baca: Keliru Data Soekarno, Tim Jokowi Minta Maaf)

Menurut dia, Jokowi harus segera melakukan evaluasi agar kasus kekeliruan data tidak lagi terulang. Caranya dengan mengevaluasi Tim Komunikasi Presiden.

Dia mengapresiasi sikap Tim Komunikasi Presiden yang mengakui kesalahan dalan memberikan informasi kepada Presiden. Kendati demikian, lanjut dia, permohonan maaf tidak lantas menghilangkan kesalahan tersebut.

"Ironis tim yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas komunikasi presiden justru menjadi sebaliknya," ucap Said.

Presiden, lanjut dia, harus menerapkan mekanisme pengawasan atau memeriksa secara teliti setiap informasi yang akan disampaikan kepadanya. "Setiap informasi harus di-screening dan di-check and recheck agar apa yang disampaikan tidak keliru," ujar Said.

Dia juga tidak setuju dengan adanya pendapat yang menyebut kesalahan merupakan hal wajar dan pernah dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya. "Itu namanya pembenaran yang justru tidak memperbaiki kualitas komunikasi presiden," ujarnya.

Menurut Said, peran Tim Komunikasi Presiden belum jelas. Masih ada perbedaan pendapat terhadap peran tim ini. Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, kata dia, tim bisa berperan sebagai juru bicara Presiden. Namun anggota tim justru membantah hal tersebut.

"Jadi memang peran tim tersebut belum clear," katanya.

Polemik soal kekeliruan data yang disampaikan Presiden juga pernah terjadi saat saat perhelatan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 22 April lalu.

Jokowi menyatakan Indonesia masih berhutang dengan International Monetary Fund (IMF). Polemik mencuat karena Presiden sebelumnya, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui akun Twitternya mengoreksi ucapan Jokowi. SBY menyatakan utang Indonesia kepada IMF sudah lunas sejak tahun 2006.
(dam)
Berita Terkait
Presiden Jokowi Lantik...
Presiden Jokowi Lantik 4 Pejabat Negara
Isu Reshuffle Kian Santer,...
Isu Reshuffle Kian Santer, Nama-nama Ini Bakal Masuk Kabinet?
Kecewa Kinerja Menterinya,...
Kecewa Kinerja Menterinya, Resuffle Jadi Pilihan Dilematis Jokowi
Ucapan Jokowi Dinilai...
Ucapan Jokowi Dinilai Keras, Seolah Berkata 'Yang Enggak Beres, Ganti'
Ketegasan Jokowi Dibutuhkan...
Ketegasan Jokowi Dibutuhkan untuk Reshuffle Tanpa Gangguan Parpol
Analis Politik ke Jokowi:...
Analis Politik ke Jokowi: Tak Cukup Menegur, jika Perlu Reshuffle Menteri
Berita Terkini
Polri Geledah 13 Lokasi...
Polri Geledah 13 Lokasi Dugaan Korupsi Batu Bara, Istana: Kita Hormati Proses Hukum
Sambut Harlah ke-28,...
Sambut Harlah ke-28, PKB Fasilitasi Beasiswa Jejak Nusantara untuk Siswa Arus Kualan
Menlu dan Ketua MPR...
Menlu dan Ketua MPR Bawa Delegasi PBNU-Muhammadiyah ke Pemakaman Ali Khamenei
Tolak Perang Tarif Pajak,...
Tolak Perang Tarif Pajak, IKPI Usulkan Ini saat RDPU dengan DPR
OTT Bupati Sukoharjo,...
OTT Bupati Sukoharjo, KPK Tangkap Empat Orang Lain Terkait Kasus Pemerasan
Persoalkan Penetapan...
Persoalkan Penetapan Tersangka, Sidang Praperadilan Kedua Roy Suryo Digelar Hari Ini
Infografis
3 Brigjen Dapat Promosi...
3 Brigjen Dapat Promosi Jabatan Jadi Irjen Pol pada Akhir Februari 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved