Radikalisme Bukan Napas Islam

Sabtu, 06 Juni 2015 - 10:53 WIB
Radikalisme Bukan Napas...
Radikalisme Bukan Napas Islam
A A A
JAKARTA - Islam sesungguhnya adalah agama yang bernapaskan cinta dan damai. Radikalisme selama ini menjadikan agama Islam sebagai kambing hitam untuk banyak gerakan radikalisme dan terorisme.

”Inti dari ajaran Islam adalah cinta dan identik dengan perdamaian, banyak orang yang lupa soal itu. Cinta bukanlah barang baru, tapi memang otentik ajaran dalam Islam. Adapun muslim sejati adalah mereka yang mencintai Allah dan dicintai Allah,” ujar mantan Menko Kesra Alwi Shihab saat dihubungi kemarin. Menurutnya, seluruh bangsa Indonesia patut khawatir dengan adanya virus kekerasan dan radikalisme yang cukup merajalela ini.

”Sepuluh tahun lalu kita tidak pernah membayangkan lahirnya kelompok radikalisme, terutama Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Mereka telah mencederai Islam sehingga kita tidak boleh tinggal diam untuk menangkal gerakan mereka. Mereka ancaman nyata dan sudah menyebar ke berbagai negara di Timur Tengah,” imbuh dia.

Alwi mengaku di luar negeri banyak yang menanyakan dari mana datangnya kelompok-kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam. Atas kondisi itulah Islam Indonesia dianggap radikal, padahal Islam Indonesia adalah Islam yang cinta dan damai. ”Umat Islam harus mengubah citra Islam yang penuh kekerasan menjadi Islam yang toleran dan damai,” ucap Alwi.

Sementara itu, mantan Rektor UIN Jakarta Komarudin Hidayat menilai penyebaran paham radikalisme yang mengatasnamakan Islam di Indonesia sudah bukan hal baru karena tidak lepas dari kaitan geografis dan kultural Indonesia. ”Saya menilai ada kaitannya karakter geografis dan kultural masyarakat kita yang memang radikal dan (menyukai) kekerasan,” papar dia. Komarudin juga mencontohkan Islam di Timur Tengah dengan di Indonesia.

Di Timur Tengah, negara Islam terpecah menjadi 22 negara, tergantung dari kesultanan dan kekhalifahannya. ”Tapi di Indonesia tidak. Di sini kesultanan dari Sabang sampai Merauke justru bersatu untuk bergabung menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujar dia. Intinya, lanjut Komarudin, persoalannya bukan Islam cinta, tetapi lahan yang ada di Indonesia harus digemburkan untuk menyuburkan dan memperkuat Islam itu sendiri. ”Itu bisa berjalan bila ada kepastian hukum, konstitusi, perdamaian,” tegas Komar.

Alfian/sindonews
(bbg)
Berita Terkait
Maria Lumowa Berhasil...
Maria Lumowa Berhasil Diekstradisi ke Indonesia, Simak Kronologis Lengkapnya
Gagal Lolos PPDB, Siswi...
Gagal Lolos PPDB, Siswi Berprestasi Peraih 700 Penghargaan Putus Sekolah
Paskah Nasional 2022...
Paskah Nasional 2022 Wujud Pemulihan Ekonomi Nasional
Hari Pelanggan Nasional...
Hari Pelanggan Nasional 2020
Libur Panjang Kenaikan...
Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih, Ribuan Penumpang Padati Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
BSSN Gelar Simposium...
BSSN Gelar Simposium Nasional Wujudkan Keamanan Siber Nasional
Berita Terkini
Kisah Haru Anak Kuli...
Kisah Haru Anak Kuli Bangunan Dilantik Presiden Prabowo Jadi Perwira TNI di Istana
Fiscal Dominance dan...
'Fiscal Dominance' dan Depresiasi Rupiah
Amanat Lengkap Presiden...
Amanat Lengkap Presiden Prabowo di Upacara Prasetya Perwira TNI-Polri Tahun 2026
Jenderal Agus Subiyanto...
Jenderal Agus Subiyanto Pastikan TNI Siap Dukung Swasembada Beras
PN Jakarta Selatan Tunda...
PN Jakarta Selatan Tunda Sidang Praperadilan Roy Suryo Jilid 3 Pekan Depan
Sidang Praperadilan...
Sidang Praperadilan Jilid 3 Roy Suryo Digelar di PN Jakarta Selatan Hari Ini
Infografis
Kisah Perjalanan Satu...
Kisah Perjalanan Satu Dekade Islam Makhachev di UFC
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved