Periskop

Sekolah kejuruan sumber tenaga kerja

Senin,  11 Februari 2013  −  05:52 WIB
Sekolah kejuruan sumber tenaga kerja
Pelajar SMK saat magang di perusahaan industri. (Koran Sindo)

SEKOLAH kejuruan tidak hanya terkenal di Indonesia. Sejumlah negara di dunia sudah akrab dengan lembaga pendidikan yang sering disebut dengan vocational education and training (VET).

Fokus utama sekolah kejuruan sebagai penyedia tenaga kerja dan menjaga pertumbuhan perekonomian. Hal ini juga terlihat di China yang mengandalkan lulusan sekolah kejuruan sebagai pemasok terbesar tenaga kerja untuk industri. Menurut laporan Bank Dunia, pendidikan teknis dan kejuruan di China berkembang pesat. Bank Dunia membantu China untuk mengembangkan pendidikan kejuruan selama dua dekade.

VET di China tidak hanya berhenti pada sekolah menengah, namun juga pada tingkat diploma. Menurut laporan Bank Dunia yang diterbitkan tahun lalu, berdasarkan data Departemen Pendidikan setempat, jumlah lembaga kejuruan tingkat diploma mencapai 1.184 lembaga. Sementara untuk jenjang sekolah menengah mencapai 14.767 lembaga. Lembaga-lembaga tersebut mampu menarik siswa masuk sebanyak 11 juta siswa per tahun.

”Bank Dunia telah bekerja dengan China untuk mengembangkan pendidikan kejuruan selama 20 tahun. Tiga proyek 1990 hingga 2005 dengan dana pinjaman mencapai USD110 telah menguntungkan banyak pihak,” tulis Bank Dunia dalam laporan berjudul China: Vocational Education Matches Youth with Jobs and Helps Sustain Growth.

Menurut catatan Bank Dunia, sejumlah provinsi berhasil menjadi pusat industri karena ditopang tenaga kerja yang berasal dari lulusan lembaga kejuruan. Seperti Provinsi Guangdong yang mengalami pertumbuhan karena didorong sektor ekspor negara. Guangdong menjadi provinsi dengan pertumbuhan terbesar disusul Shandong di peringkat kedua.

Provinsi lain yang menjadi basis industri penting di China adalah Liaoning dan Yunnan yang berada di perbatasan dengan Asia Tenggara dan menjadi jembatan perekonomian China. Lembaga kejuruan di China telah menghasilkan tenaga kerja yang lebih terampil dibanding sebelumnya.

Hal ini membuat industri tidak terlalu kesulitan mencari tenaga kerja. Namun, tenaga kerja tersebut sering menghadapi problem upah murah di China. Di tengah keberhasilan mencetak tenaga kerja, lembaga kejuruan di China tetap memiliki sejumlah tantangan. Sejumlah sekolah masih ada yang memiliki standar lebih rendah dibanding kebutuhan industri.

Ada juga sekolah yang kekurangan sumber daya, terutama di daerah pedesaan dan provinsi miskin. Fan Qirui, salah seorang lulusan lembaga kejuruan China, mengatakan pendidikan kejuruan tetap memerlukan pengawasan ketat untuk menjamin kualitas.


(hyk)

views: 1.567x

 

shadow