Pabrik bakat negeri tirai bambu

Pabrik bakat negeri tirai bambu
Ilustrasi.
A+ A-
Para atlet cilik China saat berlatih di Nanning Gymnasium yang dianggap kejam dalam memberikan pembinaan prestasi sejak dini. Tetapi, dari pola semacam itu lahir atlet-atlet potensial yang mampu memberikan prestasi membanggakan bagi Negeri Tirai Bambu itu.

Penyiksaan atau pelatihan? Itulah yang ditulis sejumlah media asing saat mengetahui pola pembinaan dan pelatihan para atlet di China. Maklum, para bibit atlet Negeri Tirai Bambu yang umumnya berusia lima tahun dididik secara keras.

Di cabang olahraga senam misalnya, Nanning Gymnasium di Nanning, China,merupakan salah satu dari banyak ”kamp pelatihan” yang dianggap kejam. Meski begitu, para orang tua tetap mengirim anakanak mereka untuk belajar bagaimana menjadi juara.

Salah satu bentuk pelatihan keras yang diterapkan di Nanning misalnya, tidak jarang anak-anak merintih kesakitan ketika mereka diminta duduk sambil menjulurkan kaki ke depan, dan sang pelatih menginjak kaki mungil tersebut di sekitar lutut.

Tidak jarang juga, para atlet yang masih berusia taman kanak-kanak diminta untuk membungkuk di atas lantai sambil kedua kakinya direntangkan. Sementara sang pelatih menekan pinggang mereka hingga badan si anak menempel rata dengan lantai.

Dalam pandangan pemerintah China, atlet senam harus dimulai pada usia yang sangat dini,karena mereka masih memeliki kelenturan tubuh yang mumpuni. Bagi dunia Barat, pola pelatihan semacam itu dinilai ekstrem.

Bahkan, gaya pembinaan prestasi semacam itu dinilai brutal.Tetapi begitulah cara China dalam mendidik atlet-atlet berbakat mereka. Hal ini dilakukan Negeri Tirai Bambu untuk menciptakan bintang olahraga masa depan.

Di samping itu, China juga terus berambisi menjadi negara yang menguasai Olimpiade, ajang olahraga terbesar di dunia. Pola semacam itu yang membuktikan mengapa atlet China di Olimpiade London 2012 begitu mudah bisa meraih kemenangan.

Bukan hanya itu, rekor demi rekor pun dicatat sejumlah atlet China. Sebut saja prestasi mengejutkan yang ditorehkan Ye Shewin.Gadis berusia 16 tahun asal China itu berhasil menyabet dua medali emas bergengsi di ajang renang. Shewin menang dalam nomor 200 dan 400 meter gaya ganti.

Dia juga mencatat rekor dunia baru.Dalam 100 meter terakhir,dia menorehkan waktu 58,68 detik. Capaian ini menyamai torehan perenang putra Amerika Serikat (AS), Ryan Lochte. Bahkan pada putaran terakhir lebih cepat daripada Lochte.

Sebelum Shewin tidak ada perenang wanita yang menorehkan catatan waktu yang lebih baik dibanding juara pria.Prestasi Shewin ini sempat memunculkan kecurigaan bahwa dia menggunakan doping.

Namun,kecurigaan itu sirna dengan pola pelatihan yang diterima Shewin. Sejak kecil, dia ditempa fisik dengan ”sadis”. Ini pula yang dirasakan para atlet di China. Menurut Shewin, semua orang bisa mewujudkan target. Dalam pikirannya, semua orang bisa jadi jenius. ”Saya berlatih 2,5 jam setiap pagi, 2,5 jam setiap sore, dan berlatih selama sembilan tahun,” kata Shewin menjawab kecurigaan yang merebak saat itu.

Untuk menjawab kecurigaan masyarakatduniaterhadapprestasiShewin, pertengahan tahun lalu China Foto Press melansir sejumlah foto mengenai betapa kerasnya pembinaan yang dilakukan China untuk calon atlet mereka.

Tak pelak, gambar-gambar itu pun dipublikasikan sejumlah media dunia. Ratapan dan tangisan keras anakanak usia dini merupakan cermin bahwa pembinaan tidak boleh setengahsetengah.

Bagi kebanyakan orang tua, mungkin tidak akan tega melihat anak mereka dilatih begitu keras. Para pelatih ”memaksa” calon atlet menekuk tubuh mungil mereka hingga merintih kesakitan. Mereka juga tidak segan menyuruh anak didik bergelantungan hanya bertumpu pada tangan mungil mereka.

Semua dilakukan agar tubuh, kekuatan, dan kelenturan mereka terbentuk sejak dini. Apa yang dilakukan China dalam menciptakan atlet tak lain karena negara ini berambisi mengungguli AS dalam semua lomba cabang olahraga, termasuk di ajang paling bergengsi, Olimpiade.


Selanjutnya...
dibaca 4.580x
Halaman 1 dari 2

REKOMENDASI :

Top