Hankam

Kekerasan di depan anak SD tak dapat dibenarkan

Rabu,  17 Oktober 2012  −  11:43 WIB
Kekerasan di depan anak SD tak dapat dibenarkan
Oknum TNI AU menganiaya wartawan di depan anak SD. (dok: Istimewa)

Sindonews.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum TNI Angkatan Udara (AU) terhadap sejumlah jurnalis saat meliput jatuhnya pesawat Hawk-200 milik TNI AU di Pekanbaru, Riau belum lama ini.

Pasalnya, sejumlah anak-anak atau anak Sekolah Dasar (SD) menyaksikan tindakan brutal dari oknum TNI AU tersebut.

Ketua Divisi Sosialisasi KPAI Asrorun Ni'am Sholeh menuturkan, tindakan oknum TNI AU tersebut, tidak bisa dijadikan teladan bagi siapapun.

"Menyedihkan, kita semua tentu berempati dengan musibah yang dialami TNI, dengan jatuhnya pesawat Hawk tersebut. Tapi, kesedihan kondisi sulit dan berkabung karena jatuhnya pesawat tidak menjadi pembenar untuk melakukan kekerasan, apalagi di depan anak. Sangat buruk dan tidak bisa dijadikan teladan," ujarnya kepada Sindonews melalui pesan singkatnya, Rabu (17/10/2012).

Seperti diketahui, selain melakukan tindakan kekerasan terhadap wartawan, sejumlah oknum TNI AU juga telah merampas empat kamera foto dan video milik beberapa wartawan. Bahkan sejumlah handphone milik warga yang mencoba mengabadikan Super Hawk-200 yang jatuh di Riau, Selasa 16 Oktober 2012, ikut dirampas.

Pesawat tempur taktis Hawk-200 milik TNI Angkatan Udara (AU) jatuh di sekitar permukiman warga RT 03 RW 03, Dusun 03, Desa Pandau Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, sekira pukul 09.47 WIB.

Empat kamera foto dan video yang dirampas oknum TNI masing-masing Cannon EOS 7D milik pewarta foto Riau Post Didik Hermanto, Nikon D300s milik pewarta Kantor Berita ANTARA Riau FB Anggoro.

Selanjutnya adapula dua kamera video jenis handycam, dan Panasonic MD9000 milik pewarta yang bertugas di Media Riau Televisi.


(mhd)

views: 985x

 

shadow