Imam Soedja’i, Sosok Jenderal TNI yang Mendirikan Perguruan Silat untuk Melawan Penjajah
Rabu, 18 Januari 2023 - 16:30 WIB
loading...
A
A
A
Berasal dari keluarga dengan pondasi agama yang kuat, Imam Soedja’i telah dididik dan terbentuk sebagai seorang sosok berkarakter Islami. Dia pernah mengenyam pendidikan di Holland Inlandsche School (HIS) dan lulus tahun 1917.
Setelahnya, Raden Imam melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan lulus tahun 1921. Serta pendidikan atas di Burger Ambachts School
(BAS), lulus tahun 1924.
Sempat bekerja sebagai teknisi di Kapal Belanda, dia memutuskan keluar karena dihina sebagai “inlander”. Setelah itu, Imam Soedja’i memutuskan pergi ke Bandung dan bertemu Eyang Kusumo (keluarga) untuk berlatih ilmu silat.
Pasca berlatih, dia kembali ke Lumajang dan bergabung dengan Partai Sarekat Islam. Saat perlawan para pejuang Indonesia terus gencar dilakukan, Raden Imam menjadi pelopor dan mengajak para pemuda untuk melakukan hal yang sama.
Dalam hal ini, Imam Soedja’i merekrut para pemuda dalam wadah pencak silat saat membentuk Pencak Organisasi (PO) pada 1 Agustus 1927. Perguruan silat ini tak hanya ditujukan sebagai ajang “olah persilatan”, melainkan juga sebagai alat pergerakan untuk melawan penjajahan Belanda.
Beralih saat pendudukan Jepang, saat itu para pemimpin bangsa melakukan kebijakan politik korporasi. Para tokoh daerah mengikutinya, termasuk Imam Soedja’i juga yang akhirnya dipilih sebagai ketua Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA).
Setelahnya, Raden Imam melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan lulus tahun 1921. Serta pendidikan atas di Burger Ambachts School
(BAS), lulus tahun 1924.
Sempat bekerja sebagai teknisi di Kapal Belanda, dia memutuskan keluar karena dihina sebagai “inlander”. Setelah itu, Imam Soedja’i memutuskan pergi ke Bandung dan bertemu Eyang Kusumo (keluarga) untuk berlatih ilmu silat.
Pasca berlatih, dia kembali ke Lumajang dan bergabung dengan Partai Sarekat Islam. Saat perlawan para pejuang Indonesia terus gencar dilakukan, Raden Imam menjadi pelopor dan mengajak para pemuda untuk melakukan hal yang sama.
Dalam hal ini, Imam Soedja’i merekrut para pemuda dalam wadah pencak silat saat membentuk Pencak Organisasi (PO) pada 1 Agustus 1927. Perguruan silat ini tak hanya ditujukan sebagai ajang “olah persilatan”, melainkan juga sebagai alat pergerakan untuk melawan penjajahan Belanda.
Beralih saat pendudukan Jepang, saat itu para pemimpin bangsa melakukan kebijakan politik korporasi. Para tokoh daerah mengikutinya, termasuk Imam Soedja’i juga yang akhirnya dipilih sebagai ketua Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA).
Lihat Juga :