Tantangan Koperasi di Tengah Pandemi

Senin, 13 Juli 2020 - 06:43 WIB
loading...
A A A
Ketiga, adalah inovasi produk. Pada masa pandemi, banyak pelaku usaha yang gulung tikar. Hal itu disebabkan permintaan pasar turun drastis. Menciptakan produk kreatif dan inovasi sesuai kebutuhan pasar dapat menjadi strategi koperasi untuk menjaga keberlangsungan usaha. Dalam konteks koperasi produsen misalnya, melakukan inovasi produk berdasarkan kebutuhan konsumen adalah strategi bertahan di tengah pandemi. Koperasi batik untuk sementara dapat beralih untuk memproduksi masker kain yang saat ini dibutuhkan masyarakat. Melalui sentuhan kreativitas, masker batik tidak sekadar masker kain, tetapi juga masker yang bernuansa budaya. Selain masker, koperasi produsen juga dapat memproduksi alat pelindung diri (APD) dan kebutuhan para tenaga medis lainnya. Namun, selalu menjaga standar kualitas produk menjadi suatu hal yang penting untuk diperhatikan.

Selain digitalisasi koperasi, likuiditas, dan inovasi produk, tantangan koperasi agar dapat bertahan di tengah pandemi adalah kemampuan SDM pengurus. Digitalisasi koperasi tentu saja membutuhkan SDM yang menguasai IT dan telekomunikasi. Sama halnya dengan menjaga likuiditas, juga membutuhkan ahli akuntansi. Inovasi produk juga membutuhkan SDM yang menguasai marketing, packaging, dan branding. Oleh karena itu, koperasi perlu melakukan "upgrade " kemampuan SDM yang menguasai berbagai hal.

Peningkatan SDM tentu bukan hal mudah. Upaya tersebut perlu intervensi pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memberikan pelatihan dan pembinaan semua koperasi yang berada dalam binaannya. Diperlukan sinergisitas program antara Kementerian Koperasi dan UKM, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, perguruan tinggi, dan berbagai stakeholder lainnya.

Terakhir, penulis ingin menyampaikan bahwa sejarah krisis moneter yang terjadi pada 1997-1998 membuktikan bahwa koperasi melalui kiprahnya dapat menjadi "pahlawan ekonomi". Hal itu lantaran di dalam koperasi terkandung nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong yang tidak sekadar mencari keuntungan semata. Itulah yang membedakan koperasi dengan badan usaha lainnya, sehingga koperasi dapat bertahan pada waktu krisis keuangan. Harapan yang sama juga sedang digenggam oleh masyarakat Indonesia di masa pandemi ini. Koperasi melalui implementasi nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong diharapkan dapat tetap eksis dan menjadi penggerak perekonomian masyarakat Indonesia. Selamat HUT Koperasi, kamulah soko guru perekonomian nasional.
(ras)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Iran dan AS Saling Serang,...
Iran dan AS Saling Serang, Trump: Gencatan Senjata Berakhir
Diduga Jadi Target Berikutnya,...
Diduga Jadi Target Berikutnya, Mas Den Akui Hidup dalam Ketakutan setelah Kehilangan Keluarga!
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
Berita Terkini
Ketua MPR Ungkap Ada...
Ketua MPR Ungkap Ada Ulama Ikut ke Iran: Saya Belum Tahu Namanya
AHY Siap Safari Politik:...
AHY Siap Safari Politik: Demokrat Ingin Bersahabat dengan Semuanya
Gandeng BPJPH, Partai...
Gandeng BPJPH, Partai Perindo Dorong UMKM Binaan Naik Kelas melalui Sertifikasi Halal
Polisi Sita Uang Hampir...
Polisi Sita Uang Hampir Rp60 M dari Kafe di Cipete
Antisipasi Badai PHK...
Antisipasi Badai PHK Massal, Legislator PDIP Desak Pembinaan Keterampilan bagi Buruh Terdampak
Dugaan Korupsi Batu...
Dugaan Korupsi Batu Bara hingga Asabri, Polisi Geledah 8 Lokasi Termasuk Rumah Pejabat Negara
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved