Guru dan Kualitas Pendidikan
Senin, 19 Desember 2022 - 09:26 WIB
loading...
A
A
A
Selain jumlah guru yang kurang, banyak sekolah di SD hingga SMP negeri didominasi oleh guru honorer yang secara kualitas juga jauh dari standar.
Meski tenaga hononer belum memiliki kualitas standar yang baik, namun di banyak daerah keberadaannya sangat diperlukan. Hal ini disebabkan karena rata-rata sekolah SD dan SMP di daerah-daerah tersebut masih kekurangan guru. Banyak guru yang pensiun namun tidak segera ada penggantinya.
Di salah satu SMP di Balikpapan, misalnya, tidak ada guru bahasa Inggris. Kepala sekolah sudah meminta kepada dinas setempat agar dikirimkan guru bahasa Inggris. Karena tidak ada solusi, Kepala Sekolah SMP di Balikpapan tersebut akhirnya menunjuk salah satu guru untuk mengajar bahasa Inggris. Padahal sang guru tidak menguasai bahasa Inggris.
Sang guru tak bisa menolak perintah. Namun, sudah bisa dibayangkan bagaimana penguasaan siswanya akan mata pelajaran bahasa Inggris jika gurunya pun tidak punya kemampuan memadai.
Bagaimana, pun keberadaan guru honorer masih sangat diperlukan. Apalagi, jika ada pemerintah daerah setempat mampu untuk menggaji mereka. Sayangnya pemerintah punya kebijakan baru yang melarang keberadaan tenaga honorer yang baru. Serba dilematis. Sekolah disuruh berprestasi tanpa diberi guru yang cukup dan berkualitas.
Untuk tenaga honorer yang eksis saat ini, pemerintah punya skema khusus untuk para mengangkat mereka menjadi ASN berstatus P3K. Namun, kuota yang ditawarkan juga sangat terbatas. Jauh dari harapan untuk menampung banyaknya tenaga honorer yang telah mengabdi menjadi pendidik hingga belasan tahun. Status mereka pun terkatung-katung.
Meski tenaga hononer belum memiliki kualitas standar yang baik, namun di banyak daerah keberadaannya sangat diperlukan. Hal ini disebabkan karena rata-rata sekolah SD dan SMP di daerah-daerah tersebut masih kekurangan guru. Banyak guru yang pensiun namun tidak segera ada penggantinya.
Di salah satu SMP di Balikpapan, misalnya, tidak ada guru bahasa Inggris. Kepala sekolah sudah meminta kepada dinas setempat agar dikirimkan guru bahasa Inggris. Karena tidak ada solusi, Kepala Sekolah SMP di Balikpapan tersebut akhirnya menunjuk salah satu guru untuk mengajar bahasa Inggris. Padahal sang guru tidak menguasai bahasa Inggris.
Sang guru tak bisa menolak perintah. Namun, sudah bisa dibayangkan bagaimana penguasaan siswanya akan mata pelajaran bahasa Inggris jika gurunya pun tidak punya kemampuan memadai.
Bagaimana, pun keberadaan guru honorer masih sangat diperlukan. Apalagi, jika ada pemerintah daerah setempat mampu untuk menggaji mereka. Sayangnya pemerintah punya kebijakan baru yang melarang keberadaan tenaga honorer yang baru. Serba dilematis. Sekolah disuruh berprestasi tanpa diberi guru yang cukup dan berkualitas.
Untuk tenaga honorer yang eksis saat ini, pemerintah punya skema khusus untuk para mengangkat mereka menjadi ASN berstatus P3K. Namun, kuota yang ditawarkan juga sangat terbatas. Jauh dari harapan untuk menampung banyaknya tenaga honorer yang telah mengabdi menjadi pendidik hingga belasan tahun. Status mereka pun terkatung-katung.
Lihat Juga :