Cegah Radikalisme, Kemenag Luncurkan Buku Moderasi Beragama Dalam 4 Bahasa Asing
Minggu, 18 Desember 2022 - 17:57 WIB
loading...
Kepala Balitbang dan Diklat Kemenag Suyitno menyampaikan, sosialisasi moderasi beragama selain melalui buku juga melalui media sosial. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ( Kemenag ) meluncurkan buku moderasi beragama berbahasa asing. Peluncuran buku yang digelar di Pelataran Candi Sewu, Desa Bugisan, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah ini bertujuan untuk mencegah paham radikal dan mewujudkan kerukunan.
Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Suyitno menyampaikan, sosialisasi moderasi beragama selain melalui buku juga melalui media sosial. Karena media sosial hari ini dalam beberapa riset terakhir, paling banyak dan massif digunakan publik mengampanyekan hal-hal positif mulai dari persoalan pendidikan, perdagangan, wisata, dan sebagainya.
“Hampir tidak ada satu pun bidang hari ini yang promote-nya tidak menggunakan media sosial. Hampir semua bidang, mulai yang positif sampai yang negative,” tegas Suyitno.
Baca juga: Prambanan Jadi Pusat Festival Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Seni Keagamaan
Media sosial, lanjutnya, ibarat dua mata pisau, ada sisi positif yang harus digunakan karena sangat efektif, tapi tidak jarang digunakan oleh kelompok yang anti mainstream untuk kepentingan negatif, termasuk digunakan untuk kepentingan isu-isu intoleransi, radikalisme, dan sejenisnya.
Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Suyitno menyampaikan, sosialisasi moderasi beragama selain melalui buku juga melalui media sosial. Karena media sosial hari ini dalam beberapa riset terakhir, paling banyak dan massif digunakan publik mengampanyekan hal-hal positif mulai dari persoalan pendidikan, perdagangan, wisata, dan sebagainya.
“Hampir tidak ada satu pun bidang hari ini yang promote-nya tidak menggunakan media sosial. Hampir semua bidang, mulai yang positif sampai yang negative,” tegas Suyitno.
Baca juga: Prambanan Jadi Pusat Festival Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Seni Keagamaan
Media sosial, lanjutnya, ibarat dua mata pisau, ada sisi positif yang harus digunakan karena sangat efektif, tapi tidak jarang digunakan oleh kelompok yang anti mainstream untuk kepentingan negatif, termasuk digunakan untuk kepentingan isu-isu intoleransi, radikalisme, dan sejenisnya.
Lihat Juga :