Jokowi Sebut Reshuffle, Pengamat: Peringatan agar Menteri Perbaiki Kinerja
Jum'at, 10 Juli 2020 - 22:56 WIB
loading...
Isu reshuffle kabinet dalam pemerintahan Jokowi-Maruf Amin mencuat baru-baru ini. Pernyataan tersebut terlontar dari Presiden Jokowi saat Sidang Kabinet. Foto/SINDOnews/Eko Purwanto
A
A
A
JAKARTA - Isu reshuffle kabinet dalam pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin mencuat baru-baru ini. Pernyataan tersebut terlontar dari Presiden Jokowi saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/6/2020).
Saat itu, Presiden mengungkapkan kemarahannya kepada para menteri lantaran belum menunjukkan kinerja yang optimal di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) yang melanda di Indonesia. (Baca juga: Pemuda Muhammadiyah Ungkap Sejumlah Desas-Desus Terkait Reshuffle Kabinet)
![Jokowi Sebut Reshuffle, Pengamat: Peringatan agar Menteri Perbaiki Kinerja]()
Pengamat politik Parameter Research & Consultant, Edison Lapalelo menilai, soal pembubaran lembaga dan reshuffle kabinet tak sepenuhnya harus dikhawatirkan, karena pada prinsipnya Jokowi masih memberikan kesempatan kepada sejumlah menteri atau petinggi lembaga untuk memperbaiki kinerjanya.
"Wacana reshuffle kabinet bagi saya juga masih tersamar. Ini diakibatkan pernyataan Presiden dalam rapat kabinet yang bernada tinggi akan membubarkan lembaga dan mengganti para pembantunya. Presiden juga menawarkan solusi akan memberikan perppu jika perlukan. Ini mempertegas Pak Jokowi masih memberi kesempatan kepada para pembantunya," ujar Edison Lapalelo di Jakarta, Jumat (10/72020).
(Baca juga: Hanura: Relevan atau Tidak Reshuffle Kabinet Seharusnya Bukan Dinilai Menteri)
Tapi diakui Edison, reshuffle kabinet merupakan hak prerogatif Presiden untuk mengganti kabinet. "Jangan kita percayai informasi yang beredar sehingga bisa menimbulkan kegaduhah. Membuat para menteri bekerja tidak maksimal dan orang atau pribadi yang namanya diwacanakan menjadi baper (bawa perasaan-red). Apalagi dimasa Pendemi ini. Kita semuanya harus fokus untuk menghadapi pandemi Covid-19 dengan segala konsekuensinya," kata Edison.
Saat itu, Presiden mengungkapkan kemarahannya kepada para menteri lantaran belum menunjukkan kinerja yang optimal di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) yang melanda di Indonesia. (Baca juga: Pemuda Muhammadiyah Ungkap Sejumlah Desas-Desus Terkait Reshuffle Kabinet)

Pengamat politik Parameter Research & Consultant, Edison Lapalelo menilai, soal pembubaran lembaga dan reshuffle kabinet tak sepenuhnya harus dikhawatirkan, karena pada prinsipnya Jokowi masih memberikan kesempatan kepada sejumlah menteri atau petinggi lembaga untuk memperbaiki kinerjanya.
"Wacana reshuffle kabinet bagi saya juga masih tersamar. Ini diakibatkan pernyataan Presiden dalam rapat kabinet yang bernada tinggi akan membubarkan lembaga dan mengganti para pembantunya. Presiden juga menawarkan solusi akan memberikan perppu jika perlukan. Ini mempertegas Pak Jokowi masih memberi kesempatan kepada para pembantunya," ujar Edison Lapalelo di Jakarta, Jumat (10/72020).
(Baca juga: Hanura: Relevan atau Tidak Reshuffle Kabinet Seharusnya Bukan Dinilai Menteri)
Tapi diakui Edison, reshuffle kabinet merupakan hak prerogatif Presiden untuk mengganti kabinet. "Jangan kita percayai informasi yang beredar sehingga bisa menimbulkan kegaduhah. Membuat para menteri bekerja tidak maksimal dan orang atau pribadi yang namanya diwacanakan menjadi baper (bawa perasaan-red). Apalagi dimasa Pendemi ini. Kita semuanya harus fokus untuk menghadapi pandemi Covid-19 dengan segala konsekuensinya," kata Edison.