Habib Ja'far: Seseorang Semakin Beragama, Semakin Cinta Orang Lain
Selasa, 13 Desember 2022 - 17:34 WIB
loading...
A
A
A
Pria yang meraih gelar Magister bidang Tafsir Al-Qur'an dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini, menjelaskan berbagai upaya meluruskan kembali nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan kebhinekaan yang kerap didistorsi maknanya, sehingga memicu munculnya bibit radikal dan terorisme.
"Kenapa mereka bisa menjadi teroris? Karena mereka dipapar terus-menerus oleh ideologi teror atas nama agama, suku, dan lain sebagainya. Oleh karena itu tugas kita untuk mencegah itu adalah memapar balik mereka dengan nilai-nilai cinta dan perdamaian," tuturnya.
Mengutip riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN 2021, Habib Jafar menyebut konten yang tidak moderat, kini tiga kali lipat jauh lebih menguasai perbincangan di media sosial (medsos) daripada konten moderat. Karena itu, menyerang balik narasi radikal kekerasan dengan paparan narasi cinta dan perdamaian harus dilakukan. Dirinya optimistis bangsa ini akan mampu menang dari radikalisme dan terorisme yang mengancam kedaulatan dan persatuan bangsa.
"Kita melakukan propaganda yang sebaliknya, tentang toleransi di antara umat beragama, suku, dan bangsa. Kita berpeluang menang. Karena kalau kita merujuk pada nilai dasar kemanusiaan, maka sejatinya tidak ada manusia yang terlahir jahat. Kebencian itu diajarkan manusia, tetapi cinta itu diciptakan oleh Tuhan," ujarnya.
Menurut pengamatannya, paparan konten dan narasi yang dibangun oleh kelompok radikal sejatinya perlu menjadi perhatian, baik dari segi kuantitas besarnya konten dan narasi yang didiseminasikan, maupun kualitas narasinya yang mampu mengambil hati penerimanya. Untuk itu perlu adanya perlawanan balik melalui konten dan narasi moderat dengan isi maupun kuantitas yang lebih besar.
"Kenapa mereka bisa menjadi teroris? Karena mereka dipapar terus-menerus oleh ideologi teror atas nama agama, suku, dan lain sebagainya. Oleh karena itu tugas kita untuk mencegah itu adalah memapar balik mereka dengan nilai-nilai cinta dan perdamaian," tuturnya.
Mengutip riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN 2021, Habib Jafar menyebut konten yang tidak moderat, kini tiga kali lipat jauh lebih menguasai perbincangan di media sosial (medsos) daripada konten moderat. Karena itu, menyerang balik narasi radikal kekerasan dengan paparan narasi cinta dan perdamaian harus dilakukan. Dirinya optimistis bangsa ini akan mampu menang dari radikalisme dan terorisme yang mengancam kedaulatan dan persatuan bangsa.
"Kita melakukan propaganda yang sebaliknya, tentang toleransi di antara umat beragama, suku, dan bangsa. Kita berpeluang menang. Karena kalau kita merujuk pada nilai dasar kemanusiaan, maka sejatinya tidak ada manusia yang terlahir jahat. Kebencian itu diajarkan manusia, tetapi cinta itu diciptakan oleh Tuhan," ujarnya.
Menurut pengamatannya, paparan konten dan narasi yang dibangun oleh kelompok radikal sejatinya perlu menjadi perhatian, baik dari segi kuantitas besarnya konten dan narasi yang didiseminasikan, maupun kualitas narasinya yang mampu mengambil hati penerimanya. Untuk itu perlu adanya perlawanan balik melalui konten dan narasi moderat dengan isi maupun kuantitas yang lebih besar.
Lihat Juga :