Cegah Provokasi, Masyarakat Diminta Cerdas Pilah Informasi
Kamis, 09 Juli 2020 - 20:56 WIB
loading...
A
A
A
“Kita tunggu dulu, kita cek dulu ke beberapa sumber yang lain baru kita membuat kesimpulan. Jadi kita jangan mudah termakan oleh informasi yang mungkin disebar melalui grup WA (WhatsApp), Facebook atau media sosial lain,” tuturnya.
Septiaji berharap masyarakat jangan mau membaca informasi dari situs abal-abal. Jika masyarakat merasa bingung dengan informasi yang ada maka masyarakat perlu cari tahu dari sumber-sumber yang valid lainnya. Karena saat ini situs abal-abal itu beritanya biasa disebarkan melalui media sosial dan grup WA.
“Nah masyarakat perlu berlatih untuk tahu, untuk tidak mengambil dari situs-situs yang tidak jelas. Secara prinsip media, media yang bisa dipercaya adalah media yang sudah terdaftar di Dewan Pers yang bisa lebih terjamin ke validannya,” katanya.
Septiaji mengungkapkan, media yang terdaftar di Dewan Pers bekerja berdasarkan Kode Etik Jurnalistik dan diawasi oleh Dewan Pers. Karena media yang terdaftar di Dewan Pers lebih bisa dipercaya dan media tersebut juga harus mengikuti ketentuan Kode Etik Jurnalistik dan diawasi oleh Dewan Pers.
“Tapi memang saat ini ada fenomena di media online yang seringkali memuat informasi yang membingungkan karena belum dilakukan verifikasi secara detail atau cover both side tapi sudah muncul di media online,” ucapnya.
Septiaji menuturkan media online tidak seharusnya hanya mengutamakan kecepatan berita, tetapi akurasi juga harus diperhatikan. Hal ini akibat adanya persaingan dari masing-masing nmedia yang berlomba-lomba untuk bisa menayangkan berita secara cepat terhadap sebuah peristiwa yang terjadi.
“Jangan sampai karena persaingan antarmedia jadi cepat-cepatan bikin berita tapi akurasi berita dikorbankan apalagi sampai menggunakan judul-judul yang clickbait, itu harus diperbaiki. Tetapi bukan berarti bila ada kesalahan di media-media online yang terverifikasi itu kemudian kita tidak perlu membaca dari media-media online. Itu tidak begitu juga, karena bisa lakukan kroscek di media lainnya,” ungkapnya.
Septiaji berharap masyarakat jangan mau membaca informasi dari situs abal-abal. Jika masyarakat merasa bingung dengan informasi yang ada maka masyarakat perlu cari tahu dari sumber-sumber yang valid lainnya. Karena saat ini situs abal-abal itu beritanya biasa disebarkan melalui media sosial dan grup WA.
“Nah masyarakat perlu berlatih untuk tahu, untuk tidak mengambil dari situs-situs yang tidak jelas. Secara prinsip media, media yang bisa dipercaya adalah media yang sudah terdaftar di Dewan Pers yang bisa lebih terjamin ke validannya,” katanya.
Septiaji mengungkapkan, media yang terdaftar di Dewan Pers bekerja berdasarkan Kode Etik Jurnalistik dan diawasi oleh Dewan Pers. Karena media yang terdaftar di Dewan Pers lebih bisa dipercaya dan media tersebut juga harus mengikuti ketentuan Kode Etik Jurnalistik dan diawasi oleh Dewan Pers.
“Tapi memang saat ini ada fenomena di media online yang seringkali memuat informasi yang membingungkan karena belum dilakukan verifikasi secara detail atau cover both side tapi sudah muncul di media online,” ucapnya.
Septiaji menuturkan media online tidak seharusnya hanya mengutamakan kecepatan berita, tetapi akurasi juga harus diperhatikan. Hal ini akibat adanya persaingan dari masing-masing nmedia yang berlomba-lomba untuk bisa menayangkan berita secara cepat terhadap sebuah peristiwa yang terjadi.
“Jangan sampai karena persaingan antarmedia jadi cepat-cepatan bikin berita tapi akurasi berita dikorbankan apalagi sampai menggunakan judul-judul yang clickbait, itu harus diperbaiki. Tetapi bukan berarti bila ada kesalahan di media-media online yang terverifikasi itu kemudian kita tidak perlu membaca dari media-media online. Itu tidak begitu juga, karena bisa lakukan kroscek di media lainnya,” ungkapnya.
Lihat Juga :