Mengapa Remaja Kita Beringas?
Jum'at, 02 Desember 2022 - 15:51 WIB
loading...
A
A
A
Belum lagi jika dibawa ke pengadilan, pelaku hanya dikenai hukuman ringan karena usianya masih remaja. Bisa jadi secara hukum benar, tapi secara sosiologis hukuman badan kepada pelaku pembacokan itu masih menyisakan masalah. Kenapa? Karena fakta persidangan tidak bisa mengungkap tuntas mengapa pelaku tega berbuat sadis hingga menghilangkan nyawa orang lain.
Dalam beberapa wawancara yang ditayangkan media massa, pelaku membacok orang tanpa alasan. Pokoknya bisa menyerang orang lain agar dianggap berani dan gagah oleh teman-teman mereka. Ini yang membuat masyarakat semakin miris. Karena hukuman satu pelaku tidak otomatis membuat mereka kapok dan berpotensi melakukan hal yang sama jika tidak dilakukan pembinaan di masyarakat. Apalagi kalau pergaulan mereka tidak berubah dan akhirnya masuk kembali ke lingkaran setan keberingasan komunal yang terus berulang.
Sekali lagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, kepolisian, kementerian sosial, kementerian agama, kementerian pendidikan harus bersinergi mencegah keberingasan remaja usia sekolah ini berulang. Masyarakat, lingkungan dan sekolah harus dilibatkan dalam mendidik siswa-siswa dengan baik. Hasil pendidikan tidak saja mengarah pada keberhasilan dalam sisi akademis, namun yang tak kalah penting adalah pendidikan karakter dan akhlak.
Di era digitalisasi ini, peran orang tua sangat sentral dalam memantau tontonan anak yang bisa memengaruhi psikologisnya menjadi remaja yang beringas. Pendidikan agama perlu juga digalakkan agar anak tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan berakhlak baik.
Pemerintah dan aparat jika perlu membentuk semacam satgas khusus pencegahan kenakalan remaja. Seberapa besar urgensinya? Jelas sangat urgen, karena pelaku dan korban mayoritas remaja yang menjadi penerus bangsa di masa depan. Bahkan dari perspektif pembangunan SDM, satgas ini lebih prioritas daripada pemindahan ibu kota negara. Tunggu apalagi?
Dalam beberapa wawancara yang ditayangkan media massa, pelaku membacok orang tanpa alasan. Pokoknya bisa menyerang orang lain agar dianggap berani dan gagah oleh teman-teman mereka. Ini yang membuat masyarakat semakin miris. Karena hukuman satu pelaku tidak otomatis membuat mereka kapok dan berpotensi melakukan hal yang sama jika tidak dilakukan pembinaan di masyarakat. Apalagi kalau pergaulan mereka tidak berubah dan akhirnya masuk kembali ke lingkaran setan keberingasan komunal yang terus berulang.
Sekali lagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, kepolisian, kementerian sosial, kementerian agama, kementerian pendidikan harus bersinergi mencegah keberingasan remaja usia sekolah ini berulang. Masyarakat, lingkungan dan sekolah harus dilibatkan dalam mendidik siswa-siswa dengan baik. Hasil pendidikan tidak saja mengarah pada keberhasilan dalam sisi akademis, namun yang tak kalah penting adalah pendidikan karakter dan akhlak.
Di era digitalisasi ini, peran orang tua sangat sentral dalam memantau tontonan anak yang bisa memengaruhi psikologisnya menjadi remaja yang beringas. Pendidikan agama perlu juga digalakkan agar anak tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan berakhlak baik.
Pemerintah dan aparat jika perlu membentuk semacam satgas khusus pencegahan kenakalan remaja. Seberapa besar urgensinya? Jelas sangat urgen, karena pelaku dan korban mayoritas remaja yang menjadi penerus bangsa di masa depan. Bahkan dari perspektif pembangunan SDM, satgas ini lebih prioritas daripada pemindahan ibu kota negara. Tunggu apalagi?
(bmm)
Lihat Juga :