Pertama dalam Sejarah, Ayah dan Anak Jabat Danpaspampres
Kamis, 17 November 2022 - 09:44 WIB
loading...
A
A
A
Norman Sasono berasal dari kecabangan Corps Polisi Militer (CPM). Lulus dari Akademi Militer di Malang pada 1945, dia banyak berkiprah di korps tersebut. Setelah pecah Tragedi G30/S PKI, pemerintah melikuidasi Resimen Tjakrabirawa (pasukan gabungan tiga matra yang bertugas mengawal keamanan presiden). Pemerintah kemudian membentuk Satgas Pomad untuk melaksanakan tugas-tugas pengamanan kepala negara.
Di saat inilah Norman Sasono dipercaya memegang tongkat komando. Usai menjabat Dansatgas Puspomad, Norman lantas dipromosikan sebagai Kasdam V/Jayakarta (1974-1975), Pangdam XII/Tanjungpura (1976-1977) dan akhirnya Pangdam V/Jayakarta (1977–1982). Menilik masa tugasnya sebagai Pangdam Jaya, Norman terbilang awet alias menempat jabatan itu cukup lama. Kenapa demikian?
"Posisi Pangdam Jakarta sangat strategis, karena itu ada peraturan tidak tertulis bahwa pergantian dan pengajuan calon Pangdam V (Jakarta) harus mendapat persetujuan Presiden Soeharto. Baik Mayjen Norman Sasono maupun Brigjen Eddie M Nalapraya (Kastaf Kodam Jaya) adalah orang kepercayaan di awal kepresidenan Soeharto,” ujar mantan Panglima TNI (Alm) Jenderal TNI M Jusuf dalam buku Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit karya Atmadji Sumarkidjo, dikutip Kamis (17/11/2022).
Norman meninggal dunia di RS Cikini Jakarta pada 20 November 1997. Pemakamannya di TMP Kalibata dipimpin KSAD saat itu, Jenderal TNI Wiranto.
Karier mentereng Norman diikuti sang putra, Marciano Norman. Berbeda dengan sang ayah, lulusan Akademi Militer 1978 ini berkarier di kecabangan kavaleri. Berbagai jabatan pernah diembannya, mulai Danton Yonkav-7 Serbu/Dam V/Jaya, Danyonkav-7 Kodam Jaya, Dandim 1633/Ainaro hingga Asops Kasdam Jaya.
Di saat inilah Norman Sasono dipercaya memegang tongkat komando. Usai menjabat Dansatgas Puspomad, Norman lantas dipromosikan sebagai Kasdam V/Jayakarta (1974-1975), Pangdam XII/Tanjungpura (1976-1977) dan akhirnya Pangdam V/Jayakarta (1977–1982). Menilik masa tugasnya sebagai Pangdam Jaya, Norman terbilang awet alias menempat jabatan itu cukup lama. Kenapa demikian?
"Posisi Pangdam Jakarta sangat strategis, karena itu ada peraturan tidak tertulis bahwa pergantian dan pengajuan calon Pangdam V (Jakarta) harus mendapat persetujuan Presiden Soeharto. Baik Mayjen Norman Sasono maupun Brigjen Eddie M Nalapraya (Kastaf Kodam Jaya) adalah orang kepercayaan di awal kepresidenan Soeharto,” ujar mantan Panglima TNI (Alm) Jenderal TNI M Jusuf dalam buku Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit karya Atmadji Sumarkidjo, dikutip Kamis (17/11/2022).
Norman meninggal dunia di RS Cikini Jakarta pada 20 November 1997. Pemakamannya di TMP Kalibata dipimpin KSAD saat itu, Jenderal TNI Wiranto.
Karier mentereng Norman diikuti sang putra, Marciano Norman. Berbeda dengan sang ayah, lulusan Akademi Militer 1978 ini berkarier di kecabangan kavaleri. Berbagai jabatan pernah diembannya, mulai Danton Yonkav-7 Serbu/Dam V/Jaya, Danyonkav-7 Kodam Jaya, Dandim 1633/Ainaro hingga Asops Kasdam Jaya.
Lihat Juga :