Sekjen PDIP Dorong Lahirnya Pemimpin dari Muhammadiyah
Selasa, 15 November 2022 - 21:09 WIB
loading...
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin dari kader Muhammadiyah. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin dari kader Muhammadiyah. Kader Muhammadiyah dinilai layak disiapkan menjadi pemimpin di lembaga politik.
“Dari Muhammadiyah bisa kita gali way of leadership. Bung Karno ingin kain kafannya ditutup dengan bendera Muhammadiyah dan begitu memahami Islam is a progress,” kata Hasto dalam diskusi Road to Muktamar Muhammadiyah bertema Suksesi Kepemimpinan 2024 di Gedung Pengurus Pusat Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/11/2022).
Karena itu, rekomendasi Hasto menyikapi 2024 kader-kader Muhammadiyah dapat disiapkan sebagai calon legislatif ataupun eksekutif melalui parpol. “Saatnya kita menyiapkan kader-kader Muhammadiyah dengan cara-cara Bung Karno, KH Ahmad Dahlan, KH Agus Salim, Ir. Djuanda dan lain-lain dengan menggembleng diri, menjadi sosok pemimpin yang diidealkan. Sehingga muncul visi kepemimpinan yang kuat,” tutur Hasto.
Baca juga: Hasto PDIP Anggap Pertemuan Anies dan Gibran Bukan Hal Istimewa
Dalam kesempatan itu, Hasto mengatakan bahwa gotong royong dalam konfigurasi politik nasional saat ini harus dibangun berdasarkan akar sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dia menuturkan, jika melihat dalam kesadaran historis serta apa yang menjadi jiwa gotong royong bangsa Indonesia, maka bisa dilihat bagaimana Muhammadiyah didirikan pada 1912, kemudian Nahdlatul Ulama (NU) berdiri pada 1926, serta PNI pada 1927.
Berdasarkan survei saat ini, banyak pemilih atau pendukung Muhammadiyah preferensi politiknya ke PAN. Kemudian NU, dan secara kultural memiliki preferensi ke PKB, PPP, dan PDI Perjuangan, di mana PDI Perjuangan hadir sebagai rumah kebangsaan Indonesia Raya.
“Dari Muhammadiyah bisa kita gali way of leadership. Bung Karno ingin kain kafannya ditutup dengan bendera Muhammadiyah dan begitu memahami Islam is a progress,” kata Hasto dalam diskusi Road to Muktamar Muhammadiyah bertema Suksesi Kepemimpinan 2024 di Gedung Pengurus Pusat Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/11/2022).
Karena itu, rekomendasi Hasto menyikapi 2024 kader-kader Muhammadiyah dapat disiapkan sebagai calon legislatif ataupun eksekutif melalui parpol. “Saatnya kita menyiapkan kader-kader Muhammadiyah dengan cara-cara Bung Karno, KH Ahmad Dahlan, KH Agus Salim, Ir. Djuanda dan lain-lain dengan menggembleng diri, menjadi sosok pemimpin yang diidealkan. Sehingga muncul visi kepemimpinan yang kuat,” tutur Hasto.
Baca juga: Hasto PDIP Anggap Pertemuan Anies dan Gibran Bukan Hal Istimewa
Dalam kesempatan itu, Hasto mengatakan bahwa gotong royong dalam konfigurasi politik nasional saat ini harus dibangun berdasarkan akar sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dia menuturkan, jika melihat dalam kesadaran historis serta apa yang menjadi jiwa gotong royong bangsa Indonesia, maka bisa dilihat bagaimana Muhammadiyah didirikan pada 1912, kemudian Nahdlatul Ulama (NU) berdiri pada 1926, serta PNI pada 1927.
Berdasarkan survei saat ini, banyak pemilih atau pendukung Muhammadiyah preferensi politiknya ke PAN. Kemudian NU, dan secara kultural memiliki preferensi ke PKB, PPP, dan PDI Perjuangan, di mana PDI Perjuangan hadir sebagai rumah kebangsaan Indonesia Raya.
Lihat Juga :