Melindungi Plasma Puspa dan Satwa untuk Pembangunan Ekonomi
Jum'at, 04 November 2022 - 15:14 WIB
loading...
A
A
A
Di samping itu, hasil analisis biografi mamalia kecil yang dilakukan oleh peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), saat ini bernama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa pulau-pulau kecil ternyata memiliki tingkat endemisitas yang sangat tinggi seperti di Pulau Flores, Enggano, Mentawai dan lain-lain. Oleh karena itu, pendataan, identifkasi, pendokumentasian dan eksplorasi pulau-pulau kecil sangat penting karena temuan jenis baru terus meningkat.
Namun, keberadaan puspa dan satwa di ekosistem tidak luput dari ancaman kepunahan. Ancaman terbesar terhadap puspa dan satwa, terutama yang bersifat endemis disebabkan oleh hilangnya habitat.
Kehilangan habitat terutama disebabkan oleh kerusakan habitat, baik karena bencana alam, kebakaran hutan, pencemaran lingkungan dan perubahan iklim, alih fungsi lahan menjadi lahan pertanian, pertambangan, industri maupun permukiman dan perburuan puspa dan satwa yang didorong oleh perdagangan secara ilegal.
Keanekaragaman jenis puspa dan satwa serta jasa sistem ekologi memiliki peran penting karena dapat memberikan berbagai manfaat untuk mendukung kehidupan manusia, antara lain sebagai sumber bahan pangan, kesehatan, energi dan memberikan jasa ekosistem yang fungsinya sulit digantikan.
Nilai ekonomi jasa lingkungan ini bersifat estimasi karena sebagian besar nilainya tidak terefleksi ataupun terkuantifikasi secara memadai dalam pasar komersial.
Berdasarkan kategori manfaat, arti penting kehati dibagi menjadi nilai konsumsi, nilai produksi, nilai jasa lingkungan, nilai pilihan dan nilai eksistensi.
Nilai konsumsi merupakan manfaat langsung dari kehati, seperti pangan, sandang dan papan. Contohnya berbagai jenis tumbuhan liar di hutan, seperti pasak bumi (eurycoma longifolia) dan berbagai jenis tanaman obat budi daya seperti jahe (zingiber officinale) sebagai bahan obat tradisional. Nilai ekonomi produk jamu yang beredar di pasar berpotensi mencapai hingga Rp6 triliun.
Selain itu, nilai produksi adalah nilai pasar yang diperoleh dari pengolahan dan perdagangan kehati di pasar lokal, nasional maupun internasional. Misalnya potensi keuntungan ekonomi yang dapat diperoleh Indonesia dari pengelolaan dan pemanfaatan berkelanjutan terumbu karang untuk sektor perikanan, pariwisata, perlindungan pantai dan nilai estetika dapat mencapai setidaknya USD16 miliar/tahun.
Kemudian, kehati juga memberikan jasa lingkungan bagi manusia melalui adanya ekosistem dengan keunikan keanekaragaman di dalamnya. Seperti kemampuan penyimpanan karbon pada ekosistem padang lamun sebesar 830 ton/ha dan hutan di daratan mampu menyimpan karbon sebesar 300 ton/ha.
Nilai pilihan atau nilai potensi merupakan nilai kehati dalam memberikan keuntungan bagi masyarakat di masa depan. Contohnya beberapa kebun raya di Indonesia mempunyai koleksi 3.000 jenis tumbuhan asli Indonesia dan 50 jenis tumbuhan dalam koleksi tersebut dilaporkan telah memberikan kontribusi yang nyata untuk peningkatan nilai ekonomi, misalnya tebu dan kelapa.
Upaya Pelestarian
Semua pihak, khususnya di Indonesia, dapat berkontribusi dalam melestarikan dan memanfaatkan puspa dan satwa secara berkelanjutan.
Namun, keberadaan puspa dan satwa di ekosistem tidak luput dari ancaman kepunahan. Ancaman terbesar terhadap puspa dan satwa, terutama yang bersifat endemis disebabkan oleh hilangnya habitat.
Kehilangan habitat terutama disebabkan oleh kerusakan habitat, baik karena bencana alam, kebakaran hutan, pencemaran lingkungan dan perubahan iklim, alih fungsi lahan menjadi lahan pertanian, pertambangan, industri maupun permukiman dan perburuan puspa dan satwa yang didorong oleh perdagangan secara ilegal.
Keanekaragaman jenis puspa dan satwa serta jasa sistem ekologi memiliki peran penting karena dapat memberikan berbagai manfaat untuk mendukung kehidupan manusia, antara lain sebagai sumber bahan pangan, kesehatan, energi dan memberikan jasa ekosistem yang fungsinya sulit digantikan.
Nilai ekonomi jasa lingkungan ini bersifat estimasi karena sebagian besar nilainya tidak terefleksi ataupun terkuantifikasi secara memadai dalam pasar komersial.
Berdasarkan kategori manfaat, arti penting kehati dibagi menjadi nilai konsumsi, nilai produksi, nilai jasa lingkungan, nilai pilihan dan nilai eksistensi.
Nilai konsumsi merupakan manfaat langsung dari kehati, seperti pangan, sandang dan papan. Contohnya berbagai jenis tumbuhan liar di hutan, seperti pasak bumi (eurycoma longifolia) dan berbagai jenis tanaman obat budi daya seperti jahe (zingiber officinale) sebagai bahan obat tradisional. Nilai ekonomi produk jamu yang beredar di pasar berpotensi mencapai hingga Rp6 triliun.
Selain itu, nilai produksi adalah nilai pasar yang diperoleh dari pengolahan dan perdagangan kehati di pasar lokal, nasional maupun internasional. Misalnya potensi keuntungan ekonomi yang dapat diperoleh Indonesia dari pengelolaan dan pemanfaatan berkelanjutan terumbu karang untuk sektor perikanan, pariwisata, perlindungan pantai dan nilai estetika dapat mencapai setidaknya USD16 miliar/tahun.
Kemudian, kehati juga memberikan jasa lingkungan bagi manusia melalui adanya ekosistem dengan keunikan keanekaragaman di dalamnya. Seperti kemampuan penyimpanan karbon pada ekosistem padang lamun sebesar 830 ton/ha dan hutan di daratan mampu menyimpan karbon sebesar 300 ton/ha.
Nilai pilihan atau nilai potensi merupakan nilai kehati dalam memberikan keuntungan bagi masyarakat di masa depan. Contohnya beberapa kebun raya di Indonesia mempunyai koleksi 3.000 jenis tumbuhan asli Indonesia dan 50 jenis tumbuhan dalam koleksi tersebut dilaporkan telah memberikan kontribusi yang nyata untuk peningkatan nilai ekonomi, misalnya tebu dan kelapa.
Upaya Pelestarian
Semua pihak, khususnya di Indonesia, dapat berkontribusi dalam melestarikan dan memanfaatkan puspa dan satwa secara berkelanjutan.
Lihat Juga :