Pangkat Terakhir 7 Pahlawan Revolusi Setelah Mendapatkan Penghargaan Anumerta
Jum'at, 23 September 2022 - 10:48 WIB
loading...
A
A
A
Rencana PKI untuk membentuk Angkatan Kelirna ditentang oleh Suprapto. Pada 1 Oktober 1965 dinihari Mayor JenderalSuprapto diculik dan dibunuh oleh segerombolan PKI. Jenazahnya ditemukan didaerah Lubang Buaya dan selanjutnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pangkat Soeprapto dinaikan dari Mayor Jenderal menjadi Letnan Jenderal.
3. Letjen Anumerta Siswondo Parman (1918-1965)
![Pangkat Terakhir 7 Pahlawan Revolusi Setelah Mendapatkan Penghargaan Anumerta]()
Foto/Wikipedia
Siswondo Parman lahir pada 4 Agustus 1918 di Wonosobo, Jawa Tengah. Pada masa pendudukan Jepang, S Parman bekerja pada Jawatan Kenpeitai. Ia pernah ditangkap karena dicurigai Jepang, tetapi kemudian dilepas kembali. Bahkan dikirim ke Jepang untuk memperdalam ilmu intelijen pada Kenpei Kasya Butai.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, S Parman masuk TKR, lalu diangkat sebagai Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara di Yogyakarta. Pada Desember 1949, ia diangkat sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya, kemudian menjadi Kepala Staf G dan mendapat tugas belajar pada Military Police School di Amerika Serikat tahun 1951.
Kembali ke Tanah Air, S Parman bertugas di Kementerian Pertahanan. Pada 1959 diangkat sebagai Atase Militer RI di London dan lima tahun kemudian diserahi tugas Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat dengan pangkat Mayor Jenderal. Sebagai perwira intelijen yang berpengalaman, S Parman banyak mengetahui usaha-usaha pemberontakan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima. Pada 1 Oktober 1965 dinihari Mayor Jenderal S Parman diculik oleh gerombolan PKI dan dibunuh. Mayatnya ditemukan di daerah Lubang Buaya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pangkat S Parman dinaikkan dari Mayor Jenderal menjadi Letnan Jenderal.
4. Letjen Anumerta MT Haryono (1924-1965)
![Pangkat Terakhir 7 Pahlawan Revolusi Setelah Mendapatkan Penghargaan Anumerta]()
Foto/Wikipedia
Mas Tirtodarmo Haryono dilahirkan di Surabaya pada 20 Januari 1924. Pada masa pendudukan Jepang ia mengikuti pelajaran pada !ka Dai Gaku (Sekolah Kedokteran) di Jakarta. Pada masa Proklamasi Kemerdekaan Haryono ikut bergabung dalam TKR dengan pangkat Mayor. Karena pandai berbahasa Belanda, lnggris dan Jerman, MT Haryono ikut dalam perundingan-perundingan antara RI dan Belanda atau RI dengan Inggris.
MT Haryono pemah menjadi sekretaris delegasi RI dan Sekretaris Dewan Pertahanan Negara, kemudian menjadi Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Ketika dilangsungkan KMB, MT Haryono adalah Sekretaris Delegasi Militer Indonesia. Ia kemudian menjadi Atase Militer RI untuk Negeri Belanda (1950) dan sebagai Direktur Intendans dan Deputy ill Menteri/Panglima Angkatan Darat (1964).
MT Haryono termasuk salah satu korban keganasan G.30.S/PKI. Ia dibunuh PKI 1 Oktober 1965 dinihari di daerah Lubang Buaya dan dimakarnkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pangkat MT Haryono juga dinaikan dari Mayor Jenderal menjadi Letnan Jenderal.
5. Mayjen Anumerta DI Panjaitan (1925-1965)
![Pangkat Terakhir 7 Pahlawan Revolusi Setelah Mendapatkan Penghargaan Anumerta]()
Foto/Wikipedia
Donald Ignatius Panjaitan lahir pada 9 Juni 1925 di Balige, Tapanuli. Pada masa pendudukan Jepang ia memasuki pendidikan militer Gyugun. DI Panjaitan ditempatkan di Pekanbaru, Riau sampai saat proklamasi kemerdekaan. Ia ikut membentuk TKR dan diangkat sebagai Komandan Batalyon. Pada 1948 ia menjabat Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi, kemudian sebagai Kepala Staf Umum IV Komandan Tentara Sumatera.
Pada Agresi Militer Belanda II ia bertugas sebagai Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), kemudian menjabat Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium I Bukit Barisan di Medan; sebagai Kepala Staf Tentara
dan Teritorium II Sriwijaya dan selanjutnya bertugas ke luar negeri sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Kemudian diangkat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat dan mendapat tugas belajar ke Amerika Serikat.
3. Letjen Anumerta Siswondo Parman (1918-1965)

Foto/Wikipedia
Siswondo Parman lahir pada 4 Agustus 1918 di Wonosobo, Jawa Tengah. Pada masa pendudukan Jepang, S Parman bekerja pada Jawatan Kenpeitai. Ia pernah ditangkap karena dicurigai Jepang, tetapi kemudian dilepas kembali. Bahkan dikirim ke Jepang untuk memperdalam ilmu intelijen pada Kenpei Kasya Butai.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, S Parman masuk TKR, lalu diangkat sebagai Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara di Yogyakarta. Pada Desember 1949, ia diangkat sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya, kemudian menjadi Kepala Staf G dan mendapat tugas belajar pada Military Police School di Amerika Serikat tahun 1951.
Kembali ke Tanah Air, S Parman bertugas di Kementerian Pertahanan. Pada 1959 diangkat sebagai Atase Militer RI di London dan lima tahun kemudian diserahi tugas Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat dengan pangkat Mayor Jenderal. Sebagai perwira intelijen yang berpengalaman, S Parman banyak mengetahui usaha-usaha pemberontakan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima. Pada 1 Oktober 1965 dinihari Mayor Jenderal S Parman diculik oleh gerombolan PKI dan dibunuh. Mayatnya ditemukan di daerah Lubang Buaya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pangkat S Parman dinaikkan dari Mayor Jenderal menjadi Letnan Jenderal.
4. Letjen Anumerta MT Haryono (1924-1965)

Foto/Wikipedia
Mas Tirtodarmo Haryono dilahirkan di Surabaya pada 20 Januari 1924. Pada masa pendudukan Jepang ia mengikuti pelajaran pada !ka Dai Gaku (Sekolah Kedokteran) di Jakarta. Pada masa Proklamasi Kemerdekaan Haryono ikut bergabung dalam TKR dengan pangkat Mayor. Karena pandai berbahasa Belanda, lnggris dan Jerman, MT Haryono ikut dalam perundingan-perundingan antara RI dan Belanda atau RI dengan Inggris.
MT Haryono pemah menjadi sekretaris delegasi RI dan Sekretaris Dewan Pertahanan Negara, kemudian menjadi Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata. Ketika dilangsungkan KMB, MT Haryono adalah Sekretaris Delegasi Militer Indonesia. Ia kemudian menjadi Atase Militer RI untuk Negeri Belanda (1950) dan sebagai Direktur Intendans dan Deputy ill Menteri/Panglima Angkatan Darat (1964).
MT Haryono termasuk salah satu korban keganasan G.30.S/PKI. Ia dibunuh PKI 1 Oktober 1965 dinihari di daerah Lubang Buaya dan dimakarnkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pangkat MT Haryono juga dinaikan dari Mayor Jenderal menjadi Letnan Jenderal.
5. Mayjen Anumerta DI Panjaitan (1925-1965)

Foto/Wikipedia
Donald Ignatius Panjaitan lahir pada 9 Juni 1925 di Balige, Tapanuli. Pada masa pendudukan Jepang ia memasuki pendidikan militer Gyugun. DI Panjaitan ditempatkan di Pekanbaru, Riau sampai saat proklamasi kemerdekaan. Ia ikut membentuk TKR dan diangkat sebagai Komandan Batalyon. Pada 1948 ia menjabat Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi, kemudian sebagai Kepala Staf Umum IV Komandan Tentara Sumatera.
Pada Agresi Militer Belanda II ia bertugas sebagai Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), kemudian menjabat Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium I Bukit Barisan di Medan; sebagai Kepala Staf Tentara
dan Teritorium II Sriwijaya dan selanjutnya bertugas ke luar negeri sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Kemudian diangkat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat dan mendapat tugas belajar ke Amerika Serikat.
Lihat Juga :