PBHI Sebut 7.000 Pengungsi dari Afganistan Berada di Indonesia
Selasa, 13 September 2022 - 01:30 WIB
loading...
A
A
A
“Akibatnya, salah seorang pengungsi dari Iran, Reza Berati tewas akibat penganiayaan oleh petugas. Sementara, puluhan pengungsi lainnya luka-luka,” kata dia.
Sekretaris Jaksa Agung Australia, Robert Cornall menyebut, kerusuhan terjadi dikarenakan memuncaknya rasa frustasi dan kemarahan para pengungsi karena permohonan mereka yang tidak pernah ada kejelasan. Kekerasan fisik, aksi mogok makan, menjahit mulut, kerusuhan dengan penduduk setempat mewarnai penderitaan pengungsi di Kamp Pulau Manus.
”Behrouz Boochani salah seorang pengungsi asal Iran mengatakan kondisi mengenaskan di kamp pengungsi Pulau Manus bukanlah barang baru. Semuanya sudah terjadi begitu lama dan tidak ada perubahan yang nyata,” katanya.
Menurut Behrouz, kata Julius, para pengungsi tidak mendapat kejelasan tentang status mereka yang digantung bertahun-tahun. Bahkan saat mengosongkan kamp pengungsi Pulau Manus, para pengungsi mendapat tindak kekerasan.
”Bersama Janet Galbraith, Behrouz Boochani menulis satu artikel yang menyoroti kasus petenis kelas dunia, Novak Djokovic yang saat itu ditahan oleh imigrasi Australia karena tidak divaksin Covid19, sebagai persyaratan untuk mengikuti turnamen Autralia Open. Novak Djokovic ditahan di Park Hotel, tempat yang sama di mana 32 pengungsi menunggu giliran untuk mendapatkan perawatan medis yang dibutuhkan,” katanya.
Behrouz menekankan betapa beruntungnya Novak yang punya hak dalam hukum, terwakilkan haknya, dan bisa mendapat kepastian hukum dalam waktu yang singkat. Sementara, para pengungsi yang kebetulan satu hotel dengannya, sudah bertahun-tahun terkatung-katung tanpa kejelasan nasib.
”Behrouz, yang menulis memoir tentang pengalamannya di kamp Manus, berjudul No Friend But The Mountain, akhirnya bisa keluar dari Kamp Pulau Manus, bermukim di Selandia Baru setelah melalui proses panjang dan dibantu oleh aktivis, jurnalis, dan pemerhati sosial di Selandia Baru dan juga Australia,” ucapnya.
Sekretaris Jaksa Agung Australia, Robert Cornall menyebut, kerusuhan terjadi dikarenakan memuncaknya rasa frustasi dan kemarahan para pengungsi karena permohonan mereka yang tidak pernah ada kejelasan. Kekerasan fisik, aksi mogok makan, menjahit mulut, kerusuhan dengan penduduk setempat mewarnai penderitaan pengungsi di Kamp Pulau Manus.
”Behrouz Boochani salah seorang pengungsi asal Iran mengatakan kondisi mengenaskan di kamp pengungsi Pulau Manus bukanlah barang baru. Semuanya sudah terjadi begitu lama dan tidak ada perubahan yang nyata,” katanya.
Menurut Behrouz, kata Julius, para pengungsi tidak mendapat kejelasan tentang status mereka yang digantung bertahun-tahun. Bahkan saat mengosongkan kamp pengungsi Pulau Manus, para pengungsi mendapat tindak kekerasan.
”Bersama Janet Galbraith, Behrouz Boochani menulis satu artikel yang menyoroti kasus petenis kelas dunia, Novak Djokovic yang saat itu ditahan oleh imigrasi Australia karena tidak divaksin Covid19, sebagai persyaratan untuk mengikuti turnamen Autralia Open. Novak Djokovic ditahan di Park Hotel, tempat yang sama di mana 32 pengungsi menunggu giliran untuk mendapatkan perawatan medis yang dibutuhkan,” katanya.
Behrouz menekankan betapa beruntungnya Novak yang punya hak dalam hukum, terwakilkan haknya, dan bisa mendapat kepastian hukum dalam waktu yang singkat. Sementara, para pengungsi yang kebetulan satu hotel dengannya, sudah bertahun-tahun terkatung-katung tanpa kejelasan nasib.
”Behrouz, yang menulis memoir tentang pengalamannya di kamp Manus, berjudul No Friend But The Mountain, akhirnya bisa keluar dari Kamp Pulau Manus, bermukim di Selandia Baru setelah melalui proses panjang dan dibantu oleh aktivis, jurnalis, dan pemerhati sosial di Selandia Baru dan juga Australia,” ucapnya.
(cip)
Lihat Juga :