Vaksinasi Booster Kedua Butuh Cara Tak Biasa

Rabu, 03 Agustus 2022 - 14:36 WIB
loading...
Vaksinasi Booster Kedua...
Vaksinasi booster kedua sudah dilakukan pada tenaga kesehatan. Pemerintah perlu bekerja lebih keras dalam mendorong masyarakat untuk melakukan booster kedua di tengah menurunnya animo melakukan vaksinasi. (KORAN SINDO/Wawan Bastian)
A A A
VAKSINASI booster tahap kedua resmi dimulai sejak Jumat (29/7). Di tahap awal, program pemerintah masih sebatas ditujukan untuk dokter dan para tenaga kesehatan. Melihat tren meningkatnya kasus baru Covid-19 akhir-akhir ini, pemilihan para tenaga kesehatan ini bisa dipahami sebuah langkah yang tepat. Mereka terbukti selama ini di barisan terdepan sekaligus paling rawan lantaran berinteraksi dengan pasien-pasien Covid-19. Bahkan dikabarkan sudah ada dua dokter yang meninggal dunia akibat terpapar varian baru Covid-19 belakangan ini.

Namun di balik itu, program vaksinasi booster tahap kedua ini menghadapi tantangan tersendiri. Hal ini tidak berlebihan. Sebab vaksinasi booster ternyata bukan hal mudah untuk disukseskan. Pada tahap satu misalnya, tercatat program ini hanya mampu menyasar sekitar 25% penduduk Indonesia. Data Kementerian Kesehatan per Senin (1/8) menyebutkan jumlah warga yang disuntik booster sebanyak 38.904.362 jiwa. Persentase ini sangatlah minim jika dibandingkan dengan sejumlah negara besar lainnya. Italia misalnya sudah mencapai 63%, Jerman (58%), Inggris (57%), Vietnam (45%) dan Thailand (32%).

Yang perlu dikejar adalah mengapa minat masyarakat sangat rendah untuk mengikuti program vaksinasi itu? Apakah tidak ada regulasi yang kuat dan mengikat? Apakah pula masyarakat selama ini justru tidak mengetahui dan memahami pentingnya vaksin booster?

Berkaca pada tahap satu, mereka yang mengikuti booster adalah orang-orang tertentu, yakni mereka yang memiliki aktivitas tinggi dan segala pergerakan mereka mensyaratkan harus adanya vaksin booster. Ini seperti mereka yang harus bekerja ke kantor, pabrik, restoran, naik pesawat, kereta api termasuk berhaji pada tahun ini. Praktis, tanpa ada sesuatu yang mensyaratkan, mereka tidak memiliki kesadaran kuat untuk menjalani vaksin. Lebih-lebih, vaksin ini digelar agak jauh setelah puncak Covid varian delta yang telah mengorbankan banyak jiwa dan membuat kalang kabut negara.

Pada momen mudik Lebaran April-Mei lalu, pemerintah berupaya meningkatkan angka capaian lewat kewajiban booster bagi yang ingin ke kampung halaman. Namun, persentasenya tetap tak seberapa. Banyak warga yang nekat pulang kampung tanpa harus melalui booster.

Bahkan yang memprihatinkan, data-data vaksinasi booster selama ini banyak diragukan. Ini terjadi karena ada sejumlah orang yang sengaja membayar dengan tarif tertentu kepada oknum aparat negara agar bisa mendapat sertifikat vaksin booster. Padahal mereka sama sekali tidak disuntik booster.

Pengalaman buruk dari vaksinasi booster tahap pertama ini harus dijadikan pelajaran berharga khususnya bagi pemerintah. Jangan sampai vaksinasi booster hanya proyek mercusuar yang haikikatnya jauh menyentuh inti persoalan. Mafhum kiranya, di balik program vaksinasi booster ini ada pihak-pihak yang secara ekonomis lebih diuntungkan. Namun jangan sampai kepentingan ekonomi kelompok tertentu ini mengalahkan kemanfaatan yang lebih mendasar dan luas. Keselamatan jiwa rakyat harus di atas segalanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sikapi Penyakit Super...
Sikapi Penyakit Super Flu di Indonesia, Menkes: Tak Mematikan seperti Covid-19
Tantangan Penyakit Menular...
Tantangan Penyakit Menular Kita
Eks Mensos Juliari Batubara...
Eks Mensos Juliari Batubara Diperiksa KPK Terkait Korupsi Bansos Presiden 2020
Kasus APD Covid-19,...
Kasus APD Covid-19, KPK Ajukan Banding atas Vonis 3 Tahun Eks Pejabat Kemenkes
Covid-19 di Asia Naik,...
Covid-19 di Asia Naik, Mantan Komandan Satgas RS Wisma Atlet Imbau Masyarakat Waspada
Kasus Korupsi APD Covid-19,...
Kasus Korupsi APD Covid-19, Mantan Pejabat Kemenkes Divonis 3 Tahun Penjara
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Zat Kimia Persisten...
Zat Kimia Persisten Ditemukan dalam 98,8% Darah Warga AS
Kepala WHO Peringatkan...
Kepala WHO Peringatkan Lebih Banyak Kasus Hantavirus akan Muncul
Rekomendasi
AS Luncurkan Serangan...
AS Luncurkan Serangan Hari Ke-12, Iran Siap Terapkan Doktrin 'Mata Ganti Mata'
Mahasiswa Universitas...
Mahasiswa Universitas Paramadina Pelajari Investasi Syariah Bersama MNC Sekuritas
Iran Ungkap Radar AS...
Iran Ungkap Radar AS Mengalami Malam Gelap akibat Serangan Rudal
Berita Terkini
Prabowo Pimpin Ratas...
Prabowo Pimpin Ratas soal Kopdes Merah Putih, Gibran Duduk di Sebelah Kirinya
Dokter Tifa Klaim Simpan...
Dokter Tifa Klaim Simpan Bukti Kejanggalan Ijazah Jokowi Meski Eksepsinya Diterima
Sudaryono Jadi Kepala...
Sudaryono Jadi Kepala BGN, Aktivis 98 Yakin Program MBG Jadi Lebih Baik
Prabowo Pimpin Ratas...
Prabowo Pimpin Ratas selama 3,5 Jam di Istana, Ini yang Dibahas
Hakim Kabulkan Eksepsi...
Hakim Kabulkan Eksepsi Dokter Tifa, Khozinudin Sebut Tidak Ada Kejelasan tentang Ijazah Jokowi
Kejagung: Jadi Deputi...
Kejagung: Jadi Deputi di BGN, Ketut Sumedana Tak Lagi Jabat Kajati Sumsel
Infografis
Mayoritas Warga Israel...
Mayoritas Warga Israel Tak Percaya Cara Netanyahu di Perang Gaza
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved