Ditemukan Sejumlah Spesies Baru Tumbuhan di Tanah Papua
Rabu, 27 Juli 2022 - 11:54 WIB
loading...
A
A
A
baca juga: 4 Spesies Karang Baru Ditemukan di Perairan Andaman dan Nicobar
Eponim ini diberikan atas kontribusi luar biasa yang telah diberikan Prof Charlie D Heatubun bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian tumbuhan, khususnya suku palem-paleman di New Guinea. Prof Charlie D Heatubun saat ini mengemban tugas sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Papua Barat (sebelumnya Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah) dan staf pengajar senior di Fakultas Kehutanan Universitas Papua.
Prof Charlie D Heatubun juga sebagai staf peneliti kehormatan di Royal Botanical Gardens Kew, London, Inggris. Dengan publikasi tujuh spesies baru Licuala ini, telah menambah catatan kinerja profesionalnya sebagai seorang taksonomiwan tumbuhan sejak tahun 2000, yang telah mendeskripsi tiga marga baru (Manjekia, Jailoloa, dan Wallaceodoxa), berikut 45 spesies baru serta berkontribusi untuk satu marga baru (Dransfieldia) dan 10 spesies baru tumbuhan lainnya.
Bagi Prof Heatubun, eponim ini merupakan eponim kedua. Sebelumnya diberikan juga untuk nama spesies baru rotan dari marga Calamus-Calamus heatubunii (WJ Baker & J Dransf) yang dipublikasikan pada 2017, berdasarkan rotan yang berasal dari Sorong dan Pulau Waigeo, Raja Ampat .
baca juga: Hutan Lindung Remu Papua Barat Digarong Penambang Ilegal
Prof Heatubun mengatakan, dirinya sangat merasa tersanjung dan terhormat mendapat penghargaan eponim tersebut. “Saya hanya berusaha bekerja sebaiknya-baiknya, dengan tulus dan ikhlas dalam rangka mengungkapkan keanekaragaman hayati tumbuhan di Tanah Papua dan Indonesia, menyangkut penghargaan dan pengakuan itu akan datang dengan sendirinya,” katanya.
Prof Heatubun menyitir, apakah ini janji yang pernah diungkapkan dengan kata-kata bijak dari tokoh penginjil IS Kijne, bahwa “barang siapa yang bekerja dengan rajin dan dengar-dengaran di atas tanah ini akan berjalan dari satu tanda heran ke tanda heran yang lain..”.
“Eponim itu, sangat luar biasa karena membuat diri kita abadi. Walaupun nantinya kita sudah tidak ada lagi di dunia ini, selama dunia ini masih ada dan spesies ini masih ada, nama kita akan terus disebut dan dikenang,” lanjut Prof Heatubun.
baca juga: Sandiaga Uno: Kekayaan Alam dan Keragaman Budaya Modal Kebangkitan Ekonomi Papua
Prof Heatubun juga menyatakan, bahwa ada dua hal penting dari penemuan delapan spesies baru palem kipas ini. Pertama, bahwa kekayaan spesies flora di New Guinea, khususnya di Tanah Papua, merupakan sesuatu yang nyata dan bukan hanya perkiraan semata. “Hasil penelitian dan penemuan spesies di daerah perkotaan, misalnya di Kampung Ayapo, Sentani, dan Wondama, menunjukan bahwa kita memang belum banyak mengetahui keanekaragaman hayati
di sekitar kita,” tukasnya.
Kedua, temuan ini merupakan kesempatan baik bagi pelajar, mahasiswa dan kaum muda lainnya di tanah Papua untuk jangan ragu-ragu melakukan riset mengenai keanekaragaman hayati di tanah Papua, dan berkesempatan untuk menjadi ahlinya di masa depan bila serius menekuninya.
Eponim ini diberikan atas kontribusi luar biasa yang telah diberikan Prof Charlie D Heatubun bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian tumbuhan, khususnya suku palem-paleman di New Guinea. Prof Charlie D Heatubun saat ini mengemban tugas sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Papua Barat (sebelumnya Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah) dan staf pengajar senior di Fakultas Kehutanan Universitas Papua.
Prof Charlie D Heatubun juga sebagai staf peneliti kehormatan di Royal Botanical Gardens Kew, London, Inggris. Dengan publikasi tujuh spesies baru Licuala ini, telah menambah catatan kinerja profesionalnya sebagai seorang taksonomiwan tumbuhan sejak tahun 2000, yang telah mendeskripsi tiga marga baru (Manjekia, Jailoloa, dan Wallaceodoxa), berikut 45 spesies baru serta berkontribusi untuk satu marga baru (Dransfieldia) dan 10 spesies baru tumbuhan lainnya.
Bagi Prof Heatubun, eponim ini merupakan eponim kedua. Sebelumnya diberikan juga untuk nama spesies baru rotan dari marga Calamus-Calamus heatubunii (WJ Baker & J Dransf) yang dipublikasikan pada 2017, berdasarkan rotan yang berasal dari Sorong dan Pulau Waigeo, Raja Ampat .
baca juga: Hutan Lindung Remu Papua Barat Digarong Penambang Ilegal
Prof Heatubun mengatakan, dirinya sangat merasa tersanjung dan terhormat mendapat penghargaan eponim tersebut. “Saya hanya berusaha bekerja sebaiknya-baiknya, dengan tulus dan ikhlas dalam rangka mengungkapkan keanekaragaman hayati tumbuhan di Tanah Papua dan Indonesia, menyangkut penghargaan dan pengakuan itu akan datang dengan sendirinya,” katanya.
Prof Heatubun menyitir, apakah ini janji yang pernah diungkapkan dengan kata-kata bijak dari tokoh penginjil IS Kijne, bahwa “barang siapa yang bekerja dengan rajin dan dengar-dengaran di atas tanah ini akan berjalan dari satu tanda heran ke tanda heran yang lain..”.
“Eponim itu, sangat luar biasa karena membuat diri kita abadi. Walaupun nantinya kita sudah tidak ada lagi di dunia ini, selama dunia ini masih ada dan spesies ini masih ada, nama kita akan terus disebut dan dikenang,” lanjut Prof Heatubun.
baca juga: Sandiaga Uno: Kekayaan Alam dan Keragaman Budaya Modal Kebangkitan Ekonomi Papua
Prof Heatubun juga menyatakan, bahwa ada dua hal penting dari penemuan delapan spesies baru palem kipas ini. Pertama, bahwa kekayaan spesies flora di New Guinea, khususnya di Tanah Papua, merupakan sesuatu yang nyata dan bukan hanya perkiraan semata. “Hasil penelitian dan penemuan spesies di daerah perkotaan, misalnya di Kampung Ayapo, Sentani, dan Wondama, menunjukan bahwa kita memang belum banyak mengetahui keanekaragaman hayati
di sekitar kita,” tukasnya.
Kedua, temuan ini merupakan kesempatan baik bagi pelajar, mahasiswa dan kaum muda lainnya di tanah Papua untuk jangan ragu-ragu melakukan riset mengenai keanekaragaman hayati di tanah Papua, dan berkesempatan untuk menjadi ahlinya di masa depan bila serius menekuninya.
Lihat Juga :