Air Mata Ya Lal Wathan dari Jantung Kota Mekkah
Kamis, 07 Juli 2022 - 11:10 WIB
loading...
A
A
A
Di saat banyak orang menjadikan Islam Arab Saudi sebagai dalih untuk mendelegitimasi Islam yang tumbuh dan berkembang di atas bumi Nusantara, kami di sini menyempurnakan Islam kami dengan berhaji, dan pada saat yang sama berkumpul membaca tahlil dan melantunkan shalawat. Di saat banyak orang yang ketaatan kepada Islam membawanya kehilangan cinta terhadap Indonesia, di sini kami menziarahi Ka'bah sambil tetap memeluk erat cinta kami pada Tanah Air.
Kami membayangkan, bagaimana kiai kami, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, yang menimba ilmu di Mekkah, ketika pulang ke Tanah Air tidak berdakwah untuk melenyapkan Indonesia atas nama Islam. Tapi sebaliknya, keislamannya justru menguatkan kecintaannya kepada Indonesia. Mari resapi kembali syair yang digubahnya: "Pusaka hati wahai Tanah Airku; Mencintamu adalah bagian dari imanku; Jangan biarkan nasibmu; Bangkitlah, hai bangsaku! Indonesia negeriku; Engkau adalah panji martabatku; Siapa yang datang mengancammu akan hancur di bawah keperkasaanmu".
Hati siapa yang tidak bergetar ketika lagu itu dinyanyikan bersama di jantung Kota Mekkah. Mata siapa yang sanggup tak berkaca-kaca. Lagu ini bukan diciptakan oleh seorang komponis. Lagu ini diciptakan seorang kiai lulusan Mekkah di tahun 1916, 12 tahun sebelum para pemuda nasionalis menggelar Kongres Pemuda dan mengikrarkan Sumpah Pemuda yang legendaris itu.
Ya Lal Wathan bergemuruh di sebuah hotel di jantung Kota Mekkah. Hati kami menggemuruh dalam syahdu, menyadari betapa kuatnya cinta kami kepada Tanah Air. Tak pernah sedikit pun kami melepas cinta ini karena ia menjadi bagian dari iman kami.
Tangis ini bukan tangis kesedihan, tapi menyadari bahwa sejauh apa pun kami meninggalkan Indonesia, dia ada di sini, di dada ini. Semangat ini bergetar bersama debaran iman menyonsong ibadah wukuf di bawah teriknya matahari Padang Arafah.
Kami membayangkan, bagaimana kiai kami, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, yang menimba ilmu di Mekkah, ketika pulang ke Tanah Air tidak berdakwah untuk melenyapkan Indonesia atas nama Islam. Tapi sebaliknya, keislamannya justru menguatkan kecintaannya kepada Indonesia. Mari resapi kembali syair yang digubahnya: "Pusaka hati wahai Tanah Airku; Mencintamu adalah bagian dari imanku; Jangan biarkan nasibmu; Bangkitlah, hai bangsaku! Indonesia negeriku; Engkau adalah panji martabatku; Siapa yang datang mengancammu akan hancur di bawah keperkasaanmu".
Hati siapa yang tidak bergetar ketika lagu itu dinyanyikan bersama di jantung Kota Mekkah. Mata siapa yang sanggup tak berkaca-kaca. Lagu ini bukan diciptakan oleh seorang komponis. Lagu ini diciptakan seorang kiai lulusan Mekkah di tahun 1916, 12 tahun sebelum para pemuda nasionalis menggelar Kongres Pemuda dan mengikrarkan Sumpah Pemuda yang legendaris itu.
Ya Lal Wathan bergemuruh di sebuah hotel di jantung Kota Mekkah. Hati kami menggemuruh dalam syahdu, menyadari betapa kuatnya cinta kami kepada Tanah Air. Tak pernah sedikit pun kami melepas cinta ini karena ia menjadi bagian dari iman kami.
Tangis ini bukan tangis kesedihan, tapi menyadari bahwa sejauh apa pun kami meninggalkan Indonesia, dia ada di sini, di dada ini. Semangat ini bergetar bersama debaran iman menyonsong ibadah wukuf di bawah teriknya matahari Padang Arafah.
(abd)
Lihat Juga :