Pilpres 2024, Peneliti Unair Sebut Perpaduan Militer dan Sipil Cukup Ideal
Selasa, 21 Juni 2022 - 20:07 WIB
loading...
A
A
A
"Seperti Sulawesi Utara, Bali, Banten, Jawa Timur, dan Aceh, sehingga besar kemungkinan masyarakat di wilayah tersebut menginginkan dan mendukung nama Moeldoko di Pilpres 2024," tambah mahasiswa S3 Pengembangan SDM Sekolah Pascasarjana Unair ini.
Di sisi lain dalam analisis perbandingan sesama militer, Dimas melanjutkan, di antara Moeldoko dengan Andika Perkasa mengalami persaingan ketat di kalangan minat masyarakat, sehingga pernah terjadi kesamaan taraf minat dalam kurun waktu tertentu.
"Seiring dengan waktu, terjadi indikator minat masyarakat yang dinamis. Fenomena tersebut menunjukkan, nama Moeldoko tengah diminati saat ini oleh masyarakat. Berbeda dengan para pesaing lainnya dari kalangan militer," jelasnya.
Dalam pandangannnya, pengalaman kepemimpinan sesama sipil dua periode, terbukti menimbulkan politik bangsa Indonesia menjadi sangat gaduh. Seolah semua orang boleh bicara apa saja, sangat egaliter, yang berakibat polarisasi masyarakat semakin menganga.
"Padahal para elite kubu yang bersaing sudah saling berangkulan, tetapi di akar rumput masih berbau nyinyir. Mengapa tidak sesama militer? Karena masyarakat kita sudah berada pada tingkat yang tidak mudah didikte. Sesama militer dikhawatirkan akan menciptakan ketaatan dan ketertiban semu yang totaliter doktriner," ungkapnya.
Di sisi lain dalam analisis perbandingan sesama militer, Dimas melanjutkan, di antara Moeldoko dengan Andika Perkasa mengalami persaingan ketat di kalangan minat masyarakat, sehingga pernah terjadi kesamaan taraf minat dalam kurun waktu tertentu.
"Seiring dengan waktu, terjadi indikator minat masyarakat yang dinamis. Fenomena tersebut menunjukkan, nama Moeldoko tengah diminati saat ini oleh masyarakat. Berbeda dengan para pesaing lainnya dari kalangan militer," jelasnya.
Dalam pandangannnya, pengalaman kepemimpinan sesama sipil dua periode, terbukti menimbulkan politik bangsa Indonesia menjadi sangat gaduh. Seolah semua orang boleh bicara apa saja, sangat egaliter, yang berakibat polarisasi masyarakat semakin menganga.
"Padahal para elite kubu yang bersaing sudah saling berangkulan, tetapi di akar rumput masih berbau nyinyir. Mengapa tidak sesama militer? Karena masyarakat kita sudah berada pada tingkat yang tidak mudah didikte. Sesama militer dikhawatirkan akan menciptakan ketaatan dan ketertiban semu yang totaliter doktriner," ungkapnya.
Lihat Juga :