Prajurit TNI Berdarah Campuran yang Melegenda, dari Pierre Tendean hingga Idjon Djanbi
Jum'at, 17 Juni 2022 - 06:09 WIB
loading...
A
A
A
Djoni Liem memiliki julukan 'Semburan Mulut Berbisa' yang bisa meluncurkan jarum, mata kail pancing, silet dan beras dari mulutnya dengan jarak kurang lebih sekitar 30 meter.
Pemilik nama asli Liem Wong Siu ini sempat mendapatkan penghargaan dari Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Suhartono, di Museum Korps Marinir, Kesatrian Marinir Moekijat, Gedangan, Sidoarjo, Jumat (4/12/2020).
Dalam kesempatan tersebut, Dankormar menyampaikan ucapan terima kasih dan sangat bangga kepada Djoni Matius Liem yang telah memberikan jasa dan pengabdiannya kepada NKRI Korps Marinir TNI AL pada penugasan mulai operasi Dwikora, Trikora, PRRI/Permesta, DI/TII, RMS dan operasi Seroja.
"Kunjungan ini dalam rangka memperingati HUT ke-75 Korps Marinir 15 November 2020, semoga dengan usia Korps Marinir yang semakin bertambah, Korps Marinir semakin jaya, maju dan dicintai rakyat, sehingga apa yang telah diperjuangkan oleh para sesepuh pendahulu dapat dirasakan dan dinikmati oleh generasi penerus," ungkap Suhartono kepada Serma KKO (Purn) Djoni Matius Liem.
3. Laksamana Muda TNI John Lie
Laksamana Muda TNI John Lie merupakan sosok kelahiran 11 Maret 1911, di Kota Manado, Sulawesi Utara. John Lie atau Lie Tjeng Tjoan dilahirkan dari pasangan suami istri keturunan Tionghoa, Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio.
Pada masa Perang Dunia Kedua, dia dan beberapa pemuda lainnya bekerja di maskapai pelayaran Koninlijk Paketvaart Maatschapij (KPM).
Pada Februari 1946, usai kekalahan Jepang akibat pemboman Nagasaki dan Hiroshima (6 dan 9 Agustus 1945), John Lie dan teman-temannya pulang ke Indonesia. Namun, saat singgah 10 hari di Singapura, John Lie memanfaatkan waktu tersebut untuk mempelajari sistem pembersihan ranjau laut.
Saat itu, Royal Navy di Singapura mengadakan pelatihan. Dengan mengikuti pelatihan ini, John Lie meningkatkan kemampuannya soal taktik perang laut, khususnya operasi kapal logistik di saat perang.
John Lie berharap, pelatihan itu menjadi modal untuk bisa bergabung dalam laskar perjuangan mengusir penjajah dari Indonesia. Sesampainya di Indonesia, tepatnya pada Mei 1946, John Lie menghadapi pimpinan Laskar Kebaktian Rakyat Indonesia (LKRI), Hans Pandelaki dan Mohede di Jakarta. Saat bertemu kedua orang penting ini, John Lie menyampaikan niatnya.
Hasilnya, John Lie diterima bergabung di LKRI dan diberi surat pengantar untuk bertemu Menteri Keuangan AA Maramis. Sang Menteri Keuangan lalu meminta John Lie menghadap Kepala Staf Angkatan Laut RI (ALRI) di Yogyakarta yang saat dijabat Laksamana M Pardi.
Pemilik nama asli Liem Wong Siu ini sempat mendapatkan penghargaan dari Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Suhartono, di Museum Korps Marinir, Kesatrian Marinir Moekijat, Gedangan, Sidoarjo, Jumat (4/12/2020).
Dalam kesempatan tersebut, Dankormar menyampaikan ucapan terima kasih dan sangat bangga kepada Djoni Matius Liem yang telah memberikan jasa dan pengabdiannya kepada NKRI Korps Marinir TNI AL pada penugasan mulai operasi Dwikora, Trikora, PRRI/Permesta, DI/TII, RMS dan operasi Seroja.
"Kunjungan ini dalam rangka memperingati HUT ke-75 Korps Marinir 15 November 2020, semoga dengan usia Korps Marinir yang semakin bertambah, Korps Marinir semakin jaya, maju dan dicintai rakyat, sehingga apa yang telah diperjuangkan oleh para sesepuh pendahulu dapat dirasakan dan dinikmati oleh generasi penerus," ungkap Suhartono kepada Serma KKO (Purn) Djoni Matius Liem.
3. Laksamana Muda TNI John Lie
Laksamana Muda TNI John Lie merupakan sosok kelahiran 11 Maret 1911, di Kota Manado, Sulawesi Utara. John Lie atau Lie Tjeng Tjoan dilahirkan dari pasangan suami istri keturunan Tionghoa, Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio.
Pada masa Perang Dunia Kedua, dia dan beberapa pemuda lainnya bekerja di maskapai pelayaran Koninlijk Paketvaart Maatschapij (KPM).
Pada Februari 1946, usai kekalahan Jepang akibat pemboman Nagasaki dan Hiroshima (6 dan 9 Agustus 1945), John Lie dan teman-temannya pulang ke Indonesia. Namun, saat singgah 10 hari di Singapura, John Lie memanfaatkan waktu tersebut untuk mempelajari sistem pembersihan ranjau laut.
Saat itu, Royal Navy di Singapura mengadakan pelatihan. Dengan mengikuti pelatihan ini, John Lie meningkatkan kemampuannya soal taktik perang laut, khususnya operasi kapal logistik di saat perang.
John Lie berharap, pelatihan itu menjadi modal untuk bisa bergabung dalam laskar perjuangan mengusir penjajah dari Indonesia. Sesampainya di Indonesia, tepatnya pada Mei 1946, John Lie menghadapi pimpinan Laskar Kebaktian Rakyat Indonesia (LKRI), Hans Pandelaki dan Mohede di Jakarta. Saat bertemu kedua orang penting ini, John Lie menyampaikan niatnya.
Hasilnya, John Lie diterima bergabung di LKRI dan diberi surat pengantar untuk bertemu Menteri Keuangan AA Maramis. Sang Menteri Keuangan lalu meminta John Lie menghadap Kepala Staf Angkatan Laut RI (ALRI) di Yogyakarta yang saat dijabat Laksamana M Pardi.
Lihat Juga :