Hasto: Teori Geopolitik Soekarno Sangat Relevan dalam Peta Geopolitik Kontemporer

Jum'at, 10 Juni 2022 - 14:29 WIB
loading...
Hasto: Teori Geopolitik...
Doktor Geopolitik Universitas Pertahanan (Unhan) RI Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa Pancasila bukanlah konsep abstrak seperti disebutkan oleh mantan Diplomat Dino Patti Djalal. Foto/MPI
A A A
JAKARTA - Doktor Geopolitik Universitas Pertahanan (Unhan) RI Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa Pancasila bukanlah konsep abstrak seperti disebutkan oleh mantan Diplomat Dino Patti Djalal.

Hal itu dikatakan Hasto menanggapi pernyataan Pengamat Pertahanan dan Militer Dr Connie Rahakundini Bakrie. Connie sebelumnya mengatakan disertasi Hasto berjudul “Diskursus Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansinya terhadap Ketahanan Pertahanan Negara”, membuktikan bahwa diplomasi Indonesia saat ini harus berefleksi dari pengalaman Indonesia era Soekarno. Baca juga: Mendagri Puji Disertasi Hasto Soal Geopolitik Soekarno: Ini Bukti Bukan Doktor Kaleng-kaleng

Politik luar negeri dan pertahanan Indonesia saat ini harusnya tak boleh hanya kelas medioker atau biasa saja, yang lahir tanpa visi misi. Connie lalu menyebut bahwa disertasi Hasto mematahkan pernyataan Dino Patti Djalal dalam disertasinya bahwa Pancasila adalah konsep yang abstrak.

Hasto menyatakan disertasinya memang mengandung spirit bagaimana bangsa Indonesia dengan kesadaran geopolitiknya, membentuk strategic culture yang khas Indonesia, dan bertujuan membangun spirit kepemimpinan Indonesia bagi dunia.

“Apa yang disampaikan Dr Connie Rahakunduni merupakan kritik keras terhadap Dino Patti Djalal yang mengatakan Pancasila itu abstrak. Penelitian saya mematahkan pemikiran Dino. Wawasan Nusantara juga dikatakan Dino sebagai konsep yang rumit dan kering terbantahkan dengan penelitian saya ini,” ujar Hasto, Jumat (10/6/2022).

Dino Patti memang pernah mengeluarkan karya “Geopolitical Concept and Maritime Territorial Behavior in Indonesian Foreign Policy” di Political Science Department, Simon Fraser University (1990). Di mana Dino menyebutkan bahwa Soekarno tak pernah berusaha memproyeksikan konsep Nusantara sebagai simbol mempersatukan.

Namun pilihan Soekarno terhadap instrumen simbolik hanya sekadar tunduk pada konsep politik yang abstrak seperti Pancasila, Manipol, Usdek, Nasakom, Djarek, Resopim, Oldefos-Nefos. Temuan dalam disertasi Hasto menunjukkan hal yang bertolak belakang terhadap apa yang disampaikan Dino.

“Pemikiran geopolitik Soekarno yang kerangkanya adalah Pancasila, dikonstruksikan dalam body of knowledge, disertai posisi teoritiknya terhadap geopolitik barat hingga geopolitik kontemporer. Teorinya yang disebut sebagai Progressive Geopolitical Coexistence, termasuk Wawasan Nusantara, bukanlah pemikiran abstrak, rumit dan kering sebagaimana dikatakan Dino,” jelas Hasto.

“Geopolitik khas Indonesia bertujuan merombak tata dunia yang tidak adil. Postulat teori geopolitik Soekarno jelas, bahwa dunia hanya akan damai apabila terbebas dari berbagai bentuk penjajahan,” tegasnya.

Progressive Geopolitical Coexistence bermakna pendekatan geopolitik yang bertujuan agar negara-negara di dunia damai dan bisa hidup berdampingan. Dalam geopolitik Soekarno, kekuatan diplomasi luar negeri dan pertahanan bukanlah demi agresi menjajah atau merampok kekayaan alam negara lain, namun justru untuk memastikan dunia bebas dari penjajahan dan hidup berdampingan dengan damai.

Atas dasar hal tersebut pula, Hasto menambahkan sesuai disertasinya, Soekarno mengedepankan supremasi sains dan teknologi untuk Indonesia dengan pengaruh yang sangat signifikan sebagai salah satu variabel geopolitik Soekarno. Baca juga: Prabowo Anggap Pemikiran Geopolitik Bung Karno Sangat Relevan

“Alhasil, Progressive Geopolitical Coexsistence menjadi alternative of view bagi dunia atas pertarungan hegemoni yang terjadi saat ini,” tegas Hasto. Pipo
(kri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PDIP Nonaktifkan Anggota...
PDIP Nonaktifkan Anggota DPRD TTU Imbas Dugaan Intimidasi Dokter Icha
Politikus PDIP Ungkap...
Politikus PDIP Ungkap Anggaran Pelatihan SPPI Lebih Besar untuk Latsarmil ketimbang Substansi Koperasi
Politikus PDIP Ungkap...
Politikus PDIP Ungkap Dasco Pimpin Safari DPR ke Parpol Nonparlemen Minta Masukan RUU Pemilu
Abdul Rahman Golkar...
Abdul Rahman Golkar ke Deddy Sitorus: Krisis Batu Bara Bukan Persoalan Baru
AHY: Oposisi Harus Konstruktif,...
AHY: Oposisi Harus Konstruktif, Tidak Boleh Memecah Belah Bangsa
PDIP: Jika Seluruh Fraksi...
PDIP: Jika Seluruh Fraksi di DPR Hanya Manut Eksekutif, Apa Bedanya dengan Era Orde Baru?
Di Diskusi Partai Perindo,...
Di Diskusi Partai Perindo, JJ Rizal Minta Gubernur Jakarta Belajar dari Soekarno
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Megawati Ziarah ke Makam...
Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno, Hasto: Untuk Merawat Api Perjuangan yang Tak Pernah Padam
Rekomendasi
Jatuhkan Denda ke 97...
Jatuhkan Denda ke 97 Pindar, Putusan KPPU Dinilai Tidak Sah
Merger Enam BPR Dapat...
Merger Enam BPR Dapat Restu OJK, Lintas 5 Provinsi di Sumatera
Kontroversi Piala Dunia...
Kontroversi Piala Dunia 2026: Iran Kecam Pejabat AS yang Ejek Kegagalan Team Melli
Berita Terkini
Badan Siber PP GP Ansor...
Badan Siber PP GP Ansor Kritik Ketertutupan Pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
OTT Kuansing, Bupati...
OTT Kuansing, Bupati Suhardiman Amby dan Sekda Zulkarnain Menyerahkan Diri ke KPK
Apartemen Disita Jelang...
Apartemen Disita Jelang Sidang Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Buka Suara
Tepis Isu Pecah Kongsi...
Tepis Isu Pecah Kongsi dengan Dokter Tifa, Roy Suryo: Saling Membersamai
Nilai Hakim Abaikan...
Nilai Hakim Abaikan Fakta Persidangan, Nadiem Makarim Bakal Lapor ke KY
Tim Hukum Jokowi Endus...
Tim Hukum Jokowi Endus Strategi Pecah Sidang Roy Suryo dan Dokter Tifa
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved