Soal Koalisi Dini, CSIS: Kesempatan Parpol Amati Konstituen
Rabu, 08 Juni 2022 - 14:26 WIB
loading...
A
A
A
"Koalisi dini dapat menjadi daya tarik kandidat yang belum memiliki partai untuk mengikuti kontestasi. Dapat melakukan elaborasi platform dark kandidat. Konvensi terbuka untuk dapat mengelaborasi dalam Pemilu 2024. Dengan koalisi dini maka kesempatan di atas dapat dimanfaatkan parpol yang sudah masuk dalam koalisi," ucapnya.
Koalisi dini, kata dia, juga memiliki sejumlah tantangan, keutuhan gagasan atau ide pencalonan tidak hanya di elite tapi juga sesuai pilihan kandidat tapi juga harus selaras dengan pilihan di daerah. Selain itu kedisiplinan kader parpol untuk mengikuti arahan pusat dapat membuat ketidakstabilan serta peran publik penting, karena setiap ceruk parpol dalam koalisi akan amat berpengaruh.
"Koalisi ini jangan sampai mengganggu kinerja pemerintah. Selama ini kandidat partai politik selalu tertutup. Sekarang lebih terbuka, sehingga lebih transparan dan bisa diuji oleh publik sebelum masuk ke kampanye. Sehingga bisa meningkatkan kepercayaan publik terhadap kandidat tersebut," jelasnya.
Dia tidak menampik diperlukan kandidat capres yang diusung sebagai pengikat koalisi. Apalagi dengan pengalaman dalam pilpres atau pilkada ada elite terbelah dukungannya di tengah koalisi yang sudah terbentuk. "Partai politik harus bisa melakukan uji publik bagi masing-masing kandidat capres. Kesamaan ceruk pemilih partai berkoalisi dengan ceruk pemilih kandidat yang ada. Parpol harus jeli melihat hal ini," katanya.
Dia melihat perubahan trend, di 2014 dan 2019 yang mendukung koalisi adalah kandidat di mana saat itu sosok Jokowi dan Prabowo dapat menarik partai politik mendekat. "Faktor sosok capres dan pimpinan parpol menjadi penting di Pemilu 2024. Misalkan Pak Paloh ketemu dengan Prabowo, SBY. Sekarang belum ada calon definitif. Di situlah menariknya dengan koalisi dini memberikan kesempatan publik untuk melakukan nominasi mendengar suara publik," tutupnya. [Carlos Roy Fajarta]
Koalisi dini, kata dia, juga memiliki sejumlah tantangan, keutuhan gagasan atau ide pencalonan tidak hanya di elite tapi juga sesuai pilihan kandidat tapi juga harus selaras dengan pilihan di daerah. Selain itu kedisiplinan kader parpol untuk mengikuti arahan pusat dapat membuat ketidakstabilan serta peran publik penting, karena setiap ceruk parpol dalam koalisi akan amat berpengaruh.
"Koalisi ini jangan sampai mengganggu kinerja pemerintah. Selama ini kandidat partai politik selalu tertutup. Sekarang lebih terbuka, sehingga lebih transparan dan bisa diuji oleh publik sebelum masuk ke kampanye. Sehingga bisa meningkatkan kepercayaan publik terhadap kandidat tersebut," jelasnya.
Dia tidak menampik diperlukan kandidat capres yang diusung sebagai pengikat koalisi. Apalagi dengan pengalaman dalam pilpres atau pilkada ada elite terbelah dukungannya di tengah koalisi yang sudah terbentuk. "Partai politik harus bisa melakukan uji publik bagi masing-masing kandidat capres. Kesamaan ceruk pemilih partai berkoalisi dengan ceruk pemilih kandidat yang ada. Parpol harus jeli melihat hal ini," katanya.
Dia melihat perubahan trend, di 2014 dan 2019 yang mendukung koalisi adalah kandidat di mana saat itu sosok Jokowi dan Prabowo dapat menarik partai politik mendekat. "Faktor sosok capres dan pimpinan parpol menjadi penting di Pemilu 2024. Misalkan Pak Paloh ketemu dengan Prabowo, SBY. Sekarang belum ada calon definitif. Di situlah menariknya dengan koalisi dini memberikan kesempatan publik untuk melakukan nominasi mendengar suara publik," tutupnya. [Carlos Roy Fajarta]
(cip)
Lihat Juga :