Radikalisme di Kampus Tanggung Jawab Seluruh Institusi Pendidikan
Kamis, 02 Juni 2022 - 18:55 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Terduga Teroris yang Ditangkap di Malang Mahasiswa Berprestasi Universitas Brawijaya
Menurut pria kelahiran Gunungkidul, 9 September 1962 ini, kunci utama guna mengurai persoalan radikalisme di lingkungan institusi pendidikan adalah bagaimana mewujudkan tatanan atau nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila terimplementasi dengan baik.
"Jadi kuncinya menurut saya di situ saja, sehingga orang tidak perlu mencari cari ideologi lain, kecuali dia melaksanakan dan mengimplementasikan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara ini secara baik," katanya.
Terkait kasus yang telah terlanjur terjadi di lingkungan kampus, Darmaningtyas menilai perlu dibuat kebijakan, yaitu melalui counter wacana. Kampus perlu lebih menggalakkan upaya guna memperkenalkan ideologi Pancasila secara lebih nyata kepada siswanya dan juga counter perbuatan.
"Counter perbuatannya adalah dengan mengimplementasikan ideologi Pancasila secara nyata, sehingga orang tidak lagi bermimpi tentang ideologi yang lainnya, karena Pancasila pun sudah dianggap memberikan jawaban apa yang mereka inginkan," katanya.
Ia menilai kerentanan mahasiswa sehingga mudah direkrut oleh kelompok radikal akibat adanya ketidakkonsistenan di dalam kehidupan. Pancasila hanya dianggap sebagai sebuah teori dan hafalan tanpa contoh implementasi yang jelas dan konsisten.
"Jadi ibaratnya seperti tiap hari dicekokin ideologi Pancasila, tetapi itu tidak terlihat di dalam praktik, itulah kelemahan yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk merekrut anak muda. Karena kebingungan anak muda melihat ketidakkonsistenan di situ," ujar Direktur INSTRAN (Institut Studi Transportasi) ini.
Darmaningtyas menyebut ada upaya konkret yang bisa dilakukan segenap intitusi pendidikan, baik dari tingkat pendidikan SD hingga perguruan tinggi. Hal itu guna membangun institusi Pendidikan yang nyaman untuk mengembangkan sikap moderat dan toleran serta dapat menumbuhkan nilai toleransi sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Menurut pria kelahiran Gunungkidul, 9 September 1962 ini, kunci utama guna mengurai persoalan radikalisme di lingkungan institusi pendidikan adalah bagaimana mewujudkan tatanan atau nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila terimplementasi dengan baik.
"Jadi kuncinya menurut saya di situ saja, sehingga orang tidak perlu mencari cari ideologi lain, kecuali dia melaksanakan dan mengimplementasikan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara ini secara baik," katanya.
Terkait kasus yang telah terlanjur terjadi di lingkungan kampus, Darmaningtyas menilai perlu dibuat kebijakan, yaitu melalui counter wacana. Kampus perlu lebih menggalakkan upaya guna memperkenalkan ideologi Pancasila secara lebih nyata kepada siswanya dan juga counter perbuatan.
"Counter perbuatannya adalah dengan mengimplementasikan ideologi Pancasila secara nyata, sehingga orang tidak lagi bermimpi tentang ideologi yang lainnya, karena Pancasila pun sudah dianggap memberikan jawaban apa yang mereka inginkan," katanya.
Ia menilai kerentanan mahasiswa sehingga mudah direkrut oleh kelompok radikal akibat adanya ketidakkonsistenan di dalam kehidupan. Pancasila hanya dianggap sebagai sebuah teori dan hafalan tanpa contoh implementasi yang jelas dan konsisten.
"Jadi ibaratnya seperti tiap hari dicekokin ideologi Pancasila, tetapi itu tidak terlihat di dalam praktik, itulah kelemahan yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk merekrut anak muda. Karena kebingungan anak muda melihat ketidakkonsistenan di situ," ujar Direktur INSTRAN (Institut Studi Transportasi) ini.
Darmaningtyas menyebut ada upaya konkret yang bisa dilakukan segenap intitusi pendidikan, baik dari tingkat pendidikan SD hingga perguruan tinggi. Hal itu guna membangun institusi Pendidikan yang nyaman untuk mengembangkan sikap moderat dan toleran serta dapat menumbuhkan nilai toleransi sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Lihat Juga :