Ajaib! Dibentak Jenderal Kopassus Ini, Pasukan Musuh Mundur Bak Kerbau Dicocok Hidungnya
Senin, 09 Mei 2022 - 06:07 WIB
loading...
A
A
A
Dari tahun 1949 sampai 1950, Ani Yudhoyono menyebut Papi dan Ibunya berpindah-pindah tempat dengan kondisi yang serba darurat dan tidak pernah sepi dari ancaman. Sering kali pasukan Belanda datang tiba-tiba dan menangkapi orang-orang yang dicurigai.
Agar selamat dan tidak ditanya-tanya tentang suami, para ibu muda biasanya langsung menggelung rambut sedemikian rupa sehingga dikira masih gadis. Saat itu memang ada simbol status wanita yang diisyaratkan dengan penataan rambut. Belanda selalu memancing kehadiran tentara dengan menginterogasi istri mereka.
Dalam situasi yang menegangkan itu sebuah peristiwa ajaib pernah terjadi. Ibunya bercerita, dalam sebuah pengungsian, ia dan Sarwo Edhie tinggal dalam sebuah bangunan besar mirip gudang. Tidak ada dinding-dinding di dalamnya, kecuali sekat-sekat kecil.
Puluhan anak buah Sarwo Edhie beserta anak dan istri tinggal di sana. Sri Sunarti tidur bersama mereka beralas tikar. Selama beberapa hari di mana suasana cukup tenteram, tetapi suatu siang mereka dikejutkan oleh bunyi letusan senjata.
Segerombolan pasukan Belanda menemukan tempat itu dan langsung mengobrak-abrik. Mereka langsung mencurigai Sri Sunarti sebagai istri Sarwo Edhie. Dengan sigap Sri Sunarti segera mengonde rambutnya sedemikian rupa agar disangka gadis. Ia melakukannya dengan tangan gemetar karena was-was pasukan Belanda akan mencium keberadaan Sarwo Edhie di dalam rumah.
Di luar dugaan, Sarwo Edhie sekonyong-konyong keluar tanpa bisa dicegah istrinya. Herannya, Sarwo Edhie muncul dengan penampilan yang tidak biasa. Ia mengenakan kaos kaki panjang selutut. Sarwo Edhie dengan berani memandang segerombolan pasukan Belanda itu, lalu meneriakkan serentetan kalimat yang tidak jelas. Suara teriakan Sarwo Edhie begitu lantang, sampai Sri Sunarti sendiri kaget mendengarnya.
Ajaib! Bak kerbau dicocok hidungnya, pasukan Belanda mundur teratur dan menjauh tanpa suara. Sri Sunarti memandang dengan bingung. Apakah Belanda pergi karena kondenya atau karena teriakan suaminya? Saking takutnya, Sri Sunarti sendiri tidak bisa dengan jelas mendengar apa yang dikatakan Sarwo Edhie. Baca juga: Detik-detik Kopassus dan Raider Habisi Barok Sang Algojo Poso
Tapi apa pun kalimat itu, tetap itu merupakan keajaiban karena tidak mungkin Belanda meninggalkan begitu saja target incaran mereka. Apalagi Sarwo Edhie adalah sosok yang sangat dicari. Kata Ani Yudhoyono, peristiwa itu masih diingat ibundanya dengan jelas.
Agar selamat dan tidak ditanya-tanya tentang suami, para ibu muda biasanya langsung menggelung rambut sedemikian rupa sehingga dikira masih gadis. Saat itu memang ada simbol status wanita yang diisyaratkan dengan penataan rambut. Belanda selalu memancing kehadiran tentara dengan menginterogasi istri mereka.
Dalam situasi yang menegangkan itu sebuah peristiwa ajaib pernah terjadi. Ibunya bercerita, dalam sebuah pengungsian, ia dan Sarwo Edhie tinggal dalam sebuah bangunan besar mirip gudang. Tidak ada dinding-dinding di dalamnya, kecuali sekat-sekat kecil.
Puluhan anak buah Sarwo Edhie beserta anak dan istri tinggal di sana. Sri Sunarti tidur bersama mereka beralas tikar. Selama beberapa hari di mana suasana cukup tenteram, tetapi suatu siang mereka dikejutkan oleh bunyi letusan senjata.
Segerombolan pasukan Belanda menemukan tempat itu dan langsung mengobrak-abrik. Mereka langsung mencurigai Sri Sunarti sebagai istri Sarwo Edhie. Dengan sigap Sri Sunarti segera mengonde rambutnya sedemikian rupa agar disangka gadis. Ia melakukannya dengan tangan gemetar karena was-was pasukan Belanda akan mencium keberadaan Sarwo Edhie di dalam rumah.
Di luar dugaan, Sarwo Edhie sekonyong-konyong keluar tanpa bisa dicegah istrinya. Herannya, Sarwo Edhie muncul dengan penampilan yang tidak biasa. Ia mengenakan kaos kaki panjang selutut. Sarwo Edhie dengan berani memandang segerombolan pasukan Belanda itu, lalu meneriakkan serentetan kalimat yang tidak jelas. Suara teriakan Sarwo Edhie begitu lantang, sampai Sri Sunarti sendiri kaget mendengarnya.
Ajaib! Bak kerbau dicocok hidungnya, pasukan Belanda mundur teratur dan menjauh tanpa suara. Sri Sunarti memandang dengan bingung. Apakah Belanda pergi karena kondenya atau karena teriakan suaminya? Saking takutnya, Sri Sunarti sendiri tidak bisa dengan jelas mendengar apa yang dikatakan Sarwo Edhie. Baca juga: Detik-detik Kopassus dan Raider Habisi Barok Sang Algojo Poso
Tapi apa pun kalimat itu, tetap itu merupakan keajaiban karena tidak mungkin Belanda meninggalkan begitu saja target incaran mereka. Apalagi Sarwo Edhie adalah sosok yang sangat dicari. Kata Ani Yudhoyono, peristiwa itu masih diingat ibundanya dengan jelas.
(kri)
Lihat Juga :