Miliki Keterbatasan, Aprizar Dipercaya KSAD untuk Pengadaan Barang Puskebang AD
Sabtu, 20 Juni 2020 - 06:42 WIB
loading...
Aprizar Zakaria saat bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Jenderal TNI Andika Perkasa. FOTO/SINDOnews/ANDIKA
A
A
A
JAKARTA - Setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti Aprizar Zakaria, seorang penyandang tuli yang berhasil mengubah paradigma tentang penyandang disabilitas . Baginya, keterbatasan tak menjadi halangan untuk menjalani kehidupan. Malah berangkat dari keterbatasan, Aprizar bangkit dan belajar berbisnis.
Pria kelahiran Jakarta, 27 April 1963, menghabiskan masa pendidikan dasar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Santi Rama, yaitu sekolah bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus, tunarungu. Namun di tingkat pendidikan berikutnya, Aprizar memilih melanjutkan ke sekolah umum.
Pertentangan sempat terjadi dengan kedua orang tuanya, yang tidak menyetujui jika ia menempuh pendidikan di sekolah umum karena keterbatasan. Orang tuanya takut kalau nantinya ia tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolah umum.(Baca juga: 20 Tahun Jadi Supeltas, Penyandang Disabilitas Dapat Bantuan Kapolda )
Dengan kegigihan, Aprizar mampu meyakinkan orang tuanya, bahkan hingga perguruan tinggi dan berhasil meraih gelar insinyur. "Saya pernah ditegur guru karena selalu melihat catatan teman saat belajar. Namun setelah saya menjelaskan bahwa saya tidak bisa mendengardan bicara, para guru memaklumi dan mengizinkan saya untuk melihat catatan teman," kata Aprizar, Jumat (19/6/2020).
Keberhasilannya menggapai cita-cita tak semulus perjalanannya saat berjuang menafkahi keluarga. Aprizar pernah bekerja di perusahaan bidang pengadaan barang. Saat itu dia sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan karena keterbatasan fisiknya.
Pria kelahiran Jakarta, 27 April 1963, menghabiskan masa pendidikan dasar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Santi Rama, yaitu sekolah bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus, tunarungu. Namun di tingkat pendidikan berikutnya, Aprizar memilih melanjutkan ke sekolah umum.
Pertentangan sempat terjadi dengan kedua orang tuanya, yang tidak menyetujui jika ia menempuh pendidikan di sekolah umum karena keterbatasan. Orang tuanya takut kalau nantinya ia tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolah umum.(Baca juga: 20 Tahun Jadi Supeltas, Penyandang Disabilitas Dapat Bantuan Kapolda )
Dengan kegigihan, Aprizar mampu meyakinkan orang tuanya, bahkan hingga perguruan tinggi dan berhasil meraih gelar insinyur. "Saya pernah ditegur guru karena selalu melihat catatan teman saat belajar. Namun setelah saya menjelaskan bahwa saya tidak bisa mendengardan bicara, para guru memaklumi dan mengizinkan saya untuk melihat catatan teman," kata Aprizar, Jumat (19/6/2020).
Keberhasilannya menggapai cita-cita tak semulus perjalanannya saat berjuang menafkahi keluarga. Aprizar pernah bekerja di perusahaan bidang pengadaan barang. Saat itu dia sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan karena keterbatasan fisiknya.
Lihat Juga :