Partisipasi perempuan dalam politik masih rendah

Jum'at, 14 Juni 2013 - 14:15 WIB
Partisipasi perempuan...
Partisipasi perempuan dalam politik masih rendah
A A A
Sindonews.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak (PP-PA) Linda Amalia Sari Gumelar mengatakan, peranan perempuan dibidang politik masih rendah.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) di Indonesia, kata Linda, dipengaruhi oleh sebagian komunitas perempuan yang masih tertinggal baik dibidang pendidikan, ketenagakerjaan, dan politik.

Ketertinggalan perempuan dalam jabatan politik dapat diperlihatkan pada hasil Pemilu 2009, keterwakilan perempuan hanya 101 anggota (18,3 persen) dari 560 anggota DPR. Sedangkan, untuk DPD hanya 27 persen.

Sementara DPRD di 33 Provinsi hanya 16 persen dan DPRD Kabupaten/Kota hanya 12 persen. Bahkan masih terdapat 10 persen dari 497 kabupaten/Kota tidak terdapat keterwakilan perempuan di legislatif.

"Perempuan dalam top eksekutif dapat digambarkan, seorang Gubernur dan seorang Wagub dari 33 Gubernur/Kepala Daerah, perempuan menjadi Bupati/Walikota sebanyak 38 orang (7,6 persen) dari 497 Kabupaten/Kota,"tuturnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, perempuan menjadi Menteri/Wakil Menteri baru mencapai 11 persen dari 56 Menteri/Wakil Menteri atau setingkat Menteri.

"Data ini membuktikan secara kasat mata bahwa persentase laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, maka ada kesenjangan gender yang cukup signifikan didalam bidang politik dan pengambil keputusan,"imbuhnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk melihat kesenjangan gender bisa mengacu pada laporan terbaru United Nation Development Program (UNDP) tahun 2013.

Laporan terbaru United Nation Development Program (UNDP) tahun 2013 menyatakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia tahun 2012 menduduki peringkat 121 dari 187 negara dengan skor 0,629.

Angka ini, kata dia, meningkat tipis dari posisi tahun 2011 yang mencapai 124 dari 187 negara dengan skor 0,617.

Sedangkan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) yang diukur dari tiga variabel yakni proporsi keterwakilan perempuan dalam parlemen, proporsi perempuan dalam pengambilan keputusan (Profesional) dan kontribusi perempuan dalam pendapatan keluarga.

IDG tahun 2011 Indonesia, lanjut dia, masih menduduki rangking 80 dari 196 negara. "Hal ini menunjukkan bahwa di negara kita masih terjadi ketimpangan (Disparitas) gender yang signifikan,"katanya.

Sehingga, perlu ada terobosan melalui komitmen keberpihakan sementara (Affirmative) dari para penentu kebijakan untuk meningkatkan jumlah dan mutu keterwakilan perempuan dalam parlemen dan berbagai lembaga lainnya.
(lal)
Berita Terkait
Fokus Masalah Perempuan...
Fokus Masalah Perempuan dan Anak, Jessica Diapresiasi Banyak Tokoh Dunia
Rakernas KPPI Dorong...
Rakernas KPPI Dorong Kementerian PPPA Jadi Kementerian Koordinator
Siapa Maryam Nawaz?...
Siapa Maryam Nawaz? Politikus Perempuan Pertama yang Menjadi Menteri Utama Punjab di Pakistan
KPPG Sebut Peran Penting...
KPPG Sebut Peran Penting Perempuan dalam Politik Nasional
Politik PKB Memuliakan...
Politik PKB Memuliakan Perempuan
4 Perempuan yang Mengguncang...
4 Perempuan yang Mengguncang Politik Global Sepanjang 2025
Berita Terkini
PKB Minta PDIP Tegas...
PKB Minta PDIP Tegas soal Posisi terhadap Pemerintah: Jangan Abu-abu
Menang Lagi di PN Jakpus,...
Menang Lagi di PN Jakpus, Putusan Hakim Tegaskan Keabsahan Tanda Tangan Ketum PPP dan Wasekjen pada SK Plt Maluku
Di Seskoau, Sjafrie:...
Di Seskoau, Sjafrie: Kepemimpinan Adaptif Penting Hadapi Tantangan Pertahanan Masa Depan
Indonesia Emas 2045...
Indonesia Emas 2045 Taruhannya: Ketika Pundak Gen Z Rapuh Tanpa Jangkar Moral
Threshold DPRD Dinilai...
Threshold DPRD Dinilai Reduksi Demokrasi Lokal, Gardian Muhammad Minta Reformasi Politik Substantif
Pengamat: Dugaan Manipulasi...
Pengamat: Dugaan Manipulasi Ekspor Minyak Sawit Harus Diusut demi Kepastian Hukum
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved