Ini Sosok Hoegeng, Polisi yang Disebut Gus Dur Tidak Mempan Disogok

Jum'at, 19 Juni 2020 - 06:46 WIB
loading...
Ini Sosok Hoegeng, Polisi...
Kapolri ke-5 Jenderal Polisi (Purn) Drs Hoegeng Imam Santoso. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Pemanggilan seorang warga Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, Ismail Ahmad oleh Polsek Sula menjadi perhatian banyak pihak. Sebab, pemanggilan itu dilakukan karena Ismail Ahmad mengunggah guyonan Presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tentang polisi jujur di media sosial.

Ismail memosting kalimat Gus Dur yang menyebutkan, "Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng". Setelah bersedia meminta maaf, Ismail akhirnya dilepas. (Baca juga; Heboh Kasus Ismail, Eks Menag dan Alissa Wahid Posting Lelucon Gus Dur )

Meskipun bergurau, Gus Dur benar menggambarkan sosok Jenderal Polisi (Purn) Drs Hoegeng Imam Santoso yang terkenal memiliki kejujuran dan integritas tinggi. Hoegeng menjabat Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) ke-5 yang bertugas dari pada 1968-1971.

Tokoh yang lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921 – meninggal di Jakarta, 14 Juli 2004, dikenal sebagai polisi yang jujur dan bersih. Jadi anekdot yang disampaikan Gus Dur tidak mengada-ada dan benar adanya. Mencari polisi yang jujur sangat sulit. Dari banyaknya "jenis" polisi, Hoegeng termasuk jenis yang langka. Dia menolak "hadiah", tidak menerima upeti, dan tidak mau disogok.

Sejak kecil, Hoegeng yang meripakan anak Kepala Jaksa Karesidenan Pekalongan, Sukarjo ini sangat kagum dengan polisi. Terutama saat melihat Kepala Polisi Jakarta Raya Ating Natadikusuma menolong rakyat kecil. (Baca juga; Periksa Pengunggah Guyonan Gus Dur, Polisi Dikecam Gusdurian )

"Sejak kecil, saya selalu mengagumi polisi. Saya melihat mereka sebagai pahlawan yang bisa membantu rakyat kecil," kata Hoegeng, seperti dikutip dalam buku hijau berjudul Memoar Senarai Kiprah Sejarah, halaman 291.

Hoegeng memulai karier kepolisian dengan ikut ujian kepolisian Jepang. Dari 130 pelajar, hanya 11 orang saja yang lulus, dan Hoegeng termasuk salah satunya. Namun, saat mengetahui bahwa akan ditempatkan sebagai hoofdt agent, dia pun mundur.

Lalu, Hoegeng mendaftar Sekolah Pendidikan Kepolisian Tingkat Tinggi atau Sekolah Tinggi DAI Ika Koto Keisatu Gakko dan lulus. Tugas pertamanya di Sukabumi, lalu dikirim ke Semarang. Dari Semarang, dia kembali pulang ke Pekalongan.

Saat berada di Pekalongan, dia sempat mengikuti saran pamannya untuk masuk Angkatan Laut. Namun tidak lama, dia keluar dan masuk ke Akademi Kepolisian di Yogyakarta. Pada masa pendudukan Jepang, dia bertugas di Yogyakarta.

Saat bertugas di Yogyakarta inilah dia mengenal dengan Merry Roeslani, wanita yang kemudian dinikahinya. Setelah Indonesia merdeka, Hoegeng ke Jakarta meneruskan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Hoegeng pernah menjadi pengawal Presiden Soekarno, saat peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1947. Beberapa tahun kemudian, pada 1952, Hoegeng bertugas di Surabaya, lalu ke Medan dengan pangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP).

Di Medan, Hoegeng menghadapi banyak tantangan, mulai dari pemberontakan PRRI, penyelundupan, judi, dan korupsi. Beberapa kelompok yang hidup dengan judi dan penyelundupan di Medan, banyak yang menyogok pejabat agar bisnisnya aman.

Mereka menyelundupkan karet ke Malaysia, dan ditukar dengan benda-benda mewah. Jaringan mereka sangat luas, ruwet, dan lengkap. Mereka juga memiliki banyak pembunuh bayaran, dan dukun. Namun yang paling berbahaya adalah penyogokan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sahroni Minta Siber...
Sahroni Minta Siber Polri Kejar Dalang Spam Judi Online di Medsos: Bukan Hal Sulit bagi Polisi
Komentar Judi Online...
Komentar Judi Online Dinilai Bukan Sekadar Promosi, Pakar: Tapi Upaya Provokasi Sistematis
Prabowo Ingatkan Gaji...
Prabowo Ingatkan Gaji Polisi Berasal dari Uang Rakyat: Jangan Justru Menyusahkan
Polisi Tetapkan 3 Mantan...
Polisi Tetapkan 3 Mantan Pejabat Pertamina Niaga dan Samin Tan Tersangka Jual Beli BBM
Tren Komentar Spam Judi...
Tren Komentar Spam Judi Online Naik 128 Persen, Kini Pakai Sistem Bot Otomatis
Kapolri Diminta Transformasi...
Kapolri Diminta Transformasi Kultur Internal Bhayangkara
11 Kombes Pol Pecah...
11 Kombes Pol Pecah Bintang usai Dapat Promosi Jabatan pada Juni 2026
Polisi Ungkap Alasan...
Polisi Ungkap Alasan Pelaku Sekap 3 Karyawan Percetakan, Tuduh Korban Curi Pelat Rp230 Juta
Tanpa Somasi, Sarwendah...
Tanpa Somasi, Sarwendah Laporkan Akun Media Sosial yang Diduga Cemarkan Nama Baik
Rekomendasi
Houthi Ancam Saudi,...
Houthi Ancam Saudi, Riyadh Janji Beri Respons Keras!
10 Juta Rakyat Iran...
10 Juta Rakyat Iran Hadiri Pemakaman Khamenei, Bendera Merah Dikibarkan
Dinilai Tak Sesuai Budaya...
Dinilai Tak Sesuai Budaya Sunda, MUI Sesalkan Lagu 'Lalaki Langit' karya Bupati Purwakarta
Berita Terkini
KPK: Kenaikan Gaji Kepala...
KPK: Kenaikan Gaji Kepala Daerah Tak Menjamin Bakal Bebas Korupsi
Pengembalian Amplop...
Pengembalian Amplop Raja Juli Tak Hapus Unsur Pidana, KPK Terus Dalami Kasus HPT
Menhut: Presiden Minta...
Menhut: Presiden Minta Kemenhut Bangun Tata Kelola Kehutanan Antikorupsi
Pertajam DIM RUU Pemilu,...
Pertajam DIM RUU Pemilu, DPR Buka Peluang Kunjungi NU, Muhammadiyah, hingga Walubi
Raksasa (yang) Tak Lagi...
Raksasa (yang) Tak Lagi Menakutkan
Roy Suryo Kembali Ajukan...
Roy Suryo Kembali Ajukan Gugatan Praperadilan, Polda Metro Jaya: Tidak Apa-apa
Infografis
Virus Hanta Merebak!...
Virus Hanta Merebak! Ini 5 Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved