Nyawa Sudah di Ujung Senapan, Prajurit TNI AU Ini Lolos dari Maut karena Pangkat Kopral

Senin, 11 April 2022 - 05:48 WIB
loading...
Nyawa Sudah di Ujung...
Prajurit Pasukan Gerak Tjepat (PGT) kini Kopasgat TNI AU Lettu Purn Kuswari. Foto/istimewa
A A A
JAKARTA - Operasi Serigala di Papua masih tertanam kuat dalam ingatan Lettu Purn Kuswari. Dalam operasi tersebut, prajurit Pasukan Gerak Tjepat (PGT) kini bernama Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI AU ini nyaris tewas di tangan musuh.

Beruntung nyawanya masih selamat. Uniknya, Kuswari selamat lantaran pangkat Kopral yang disandangnya saat itu. Peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya tersebut terjadi ketika Kuswari mendapat perintah untuk ikut dalam Operasi Serigala merebut Irian Barat sekarang Papua dari Belanda.

Dalam operasi tersebut, Kuswari dan timnya mengemban misi khusus yang cukup berat yakni, melemahkan kekuatan Belanda, melakukan sabotase termasuk misi pengibaran Bendera Merah Putih. Operasi tersebut dilakukan lantaran Belanda melanggar perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) dan tidak mau menyerahkan Papua kepada Indonesia.

Baca juga: Melihat Plan Bobcat KSAU dalam Mewujudkan Angkatan Udara yang Disegani di Kawasan

”Tim saya berjumlah 81 orang PGT di bawah Letnan Muda Udara (LMU) sekarang Peltu Suhadi merangkap Dantim,” kenang Kuswari dikutip dari buku “Heroisme PGT Dalam Operasi Serigala: Pengibaran Bendera Merah Putih Pertama di Teminabuan” yang diterbitkan Subdisjarah Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispenau) Senin, (11/4/2022).

Kuswari kemudian diterjunkan di daerah Sorong, pada 19 Mei 1962, dua hari setelah penerjunan Komandan Kompi LU I Lambertus Manuhua dan Danton Sersan Muda Udara (SMU) Soepangat pada 17 Mei di daerah Sorong. Hal itu dilakukan karena penerjunan pertama gagal akibat cuaca buruk. “Saya sebagai Komandan Regu plus penembak mortir 55. Tim saya sesuai rencana awal akan diterjunkan di daerah Sorong,” ucapnya.

Baca juga: Nama KSAU Diabadikan di Honour Board of Distinguished ADC Australia

Tepat pukul 01.00 dinihari, Kuswari dan rekan-rekannya diterbangkan dengan menggunakan pesawat angkut C-130 Hercules dari Pangkalan Udara Laha, Ambon ke lokasi dropping zone. Ketika waktu menunjukkan pukul 03.00, satu persatu prajurit Baret Jingga ini terjun di tengah malam gelap gulita. Nahas, dalam penerjunan tersebut, Kuswari tersangkut pohon dengan ketinggian di atas 20 meter.

Nyawa Sudah di Ujung Senapan, Prajurit TNI AU Ini Lolos dari Maut karena Pangkat Kopral


”Saya panik karena tidak bisa turun ke bawah. Saya dibekali tali tidak cukup untuk turun ke tanah. Akhirnya saya memutuskan untuk istirahat di atas pohon sambil menunggu pagi untuk turun,” katanya.

Keesokan paginya sekitar pukul 06.00, Kuswari turun dengan cara terjun bebas. Beruntung, dirinya tidak mengalami cidera. Kehadiran Kuswari dan rekan-rekannya di Papua ternyata sudah tercium oleh Belanda. Menggunakan pesawat Neptune, tentara Belanda melakukan pengeboman ke lokasi Kuswari.

Baca juga: Kesaktian Prajurit Pasukan Elite TNI AU Ini Selamatkan Teman-temannya dari Pembantaian

Untuk menghindari patroli pewasat Belanda, Kuswari masuk ke dalam hutan. Meski begitu, Kuswari sempat menyaksikan pasukan Kopasgat mengibarkan Bendera Merah Putih. ”Pada 21 Mei saya bersama teman-teman PGT lainnya ikut menyaksikan pengibaran Bendera Merah Putih pertama kali di Teminabuan, di Kampung Wersar,” kata Kuswari.

Saat itu, Sersan Muda Udara (SMU) Mengko mengeluarkan bendera Merah Putih dari ranselnya dan memerintahkan salah satu anggotanya menebang pohon untuk dijadikan tiang. Setelah menyaksikan pengibaran bendera tersebut, Kuswari melanjutkan misi operasinya yakni melemahkan kekuatan Belanda.

Saat hendak menuju Kampung Wersar, Kuswari bertemu relawan berseragam Belanda berjumlah empat orang bersenjata parang dan tombak. Saat hendak disergap, Kuswari dengan sigap menodongkan senjatanya hingga membuat mereka takut. Salah seorang relawan yang mengetahui Kuswari sedang kelaparan kemudian menawarkan makanan berupa sagu.

Nyawa Sudah di Ujung Senapan, Prajurit TNI AU Ini Lolos dari Maut karena Pangkat Kopral

Lettu (Purn) Kuswari mengenang penerjunan di Teminabuan, Papua. Foto/istimewa

Kuswari yang tidak menyadari jika tawaran itu hanya sebuah jebakan kemudian mengambilnya. Saat akan mengambil sagu, tiba-tiba keempat petugas patroli tersebut langsung memukul Kuswari dengan parang hingga dirinya jatuh tak sadarkan diri. Kuswari pun langsung dibawa ke kamp tahanan.

Berada di kamp tahanan, Kuswari mengalami penyiksaan yang cukup kejam. Selain dipukuli, Kuswari juga dijemur di lapangan di tengah terik matahari yang menyengat. ”Saat baju saya dibuka, badan saya sudah banyak dikerubuti lintah atau pacet,” tuturnya.

Tidak hanya itu, pria yang kenyang dengan berbagai penugasan di medan operasi seperti penumpasan pemberontak Permesta dan DII/TII ini juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana perlakuan tidak manusiawi terhadap para tahanan oleh tentara KNIL Belanda dan relawan Belanda.

“Saya sempat didatangi oleh relawan Belanda berjumlah enam orang dengan membawa senapan yang siap menembak. Para relawan tersebut memaki, memukuli dan menendang saya. Dalam keadaan yang mencekam, Alhamdulillah saya ditolong oleh seorang Sersan Marinir Belanda,” ujarnya.

Saat itu, seorang Sersan Marinir Belanda datang dan langsung mengusir para relawan yang tengah menyiksanya. Merasa nyawanya di selamatkan, pria kelahiran Malang, 6 Mei 1953 ini kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Sersan Marinir Belanda tersebut.

”Saya ingat saat perang Korea, pangkat saya Kopral. Pada saat itu saya diserang oleh pasukan dari RRC yang membantu Korea Utara. Saya lari ke hutan untuk menyelamatkan diri selama 10 hari kemudian ditolong oleh helicopter Amerika. Dari peristiwa yang saya alami, saya jadi teringat kamu,” ujar Kuswari menirukan ucapan Marinir Belanda tersebut.



”Saya ingin menolong kamu, di mana tadi saat dirimu akan ditembak oleh para relawan itu, hati saya menjadi iba,” ucap tentara Belanda tersebut kepada Kuswari.

Tidak hanya itu, Marinir Belanda itu juga meminta Kuswari agar tidak jauh-jauh darinya agar terhindar dari penyiksaan yang dilakukan oleh relawan dan tentara KNIL. “Je ikut saya, jangan jauh-jauh dari saya, kamu nanti ketemu tentara KNIL malah nanti diperlakukan tidak manusiawi.

Perintah tersebut pun langsung diikuti Kuswari. Apa yang dikhawatirkan Marinir Belanda terbukti, Kuswari kemudian bertemu dengan tentara KNIL dan relawan Belanda yang langsung memakinya dengan perkataan kasar. Beruntung, Kuswari tidak mengalami penyiksaan karena berada di dekat Marinir Belanda.

Setelah perjanjian damai Belanda-Indonesia dan perintah penghentian tembak menembak serta diberlakukannya pemerintahaan UNTEA di Irian Barat, kekuasaan Belanda pun dinyatakan berakhir. Sejak pengumuman itu, seluruh tentara Indonesia dan sukarelawan keluar dari hutan-hutan di Papua.

”Saya diangkut dengan pesawat Hercules Amerika dari Irian Barat ke Bandara Kemayoran, Jakarta. Setibanya di Jakarta saya sempat kaget mendapat penghormatan senjata. Ternyata penghormatan senjata itu karena saya dan teman-teman dianggap telah gugur dalam Operasi Trikora,” ucapnya
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
3 Lanud Naik Jadi Tipe...
3 Lanud Naik Jadi Tipe B, Ini Daftar Kolonel TNI AU yang Dilantik sebagai Danlanud
Tongkat Komando di Kopasgat...
Tongkat Komando di Kopasgat Berganti, Ada Kasiintel hingga Wadansatbravo 90 Pasgat
Di Seskoau, Sjafrie:...
Di Seskoau, Sjafrie: Kepemimpinan Adaptif Penting Hadapi Tantangan Pertahanan Masa Depan
Resmi Masuk Daftar Belanja...
Resmi Masuk Daftar Belanja TNI AU, Ini Spesifikasi Chengdu J-10C Buatan China yang Akan Perkuat Langit Indonesia
Semangat Otsus Harus...
Semangat Otsus Harus Tercermin dalam Desain Politik Papua
Terungkap! 3 Modus Propaganda...
Terungkap! 3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi
Pemerintah Perkuat Kopdes...
Pemerintah Perkuat Kopdes Merah Putih untuk Bangun Papua
Bangun Pertanian di...
Bangun Pertanian di Papua, Pemerintah Gelontorkan Rp5 Triliun
China Bakal Bangun Pusat...
China Bakal Bangun Pusat Padi dan Sekolah Vokasi di Papua
Rekomendasi
Indonesian Padel League...
Indonesian Padel League 2026 Dimulai Agustus, Kompetisi Padel Masuk Era Profesional
Harry Kane Cetak Brace,...
Harry Kane Cetak Brace, Inggris Singkirkan DR Kongo
Bikin Momen Kumpul Keluarga...
Bikin Momen Kumpul Keluarga di Rumah Makin Seru dengan Inspirasi Kegiatan ala Shopee
Berita Terkini
Mantan Wakil Kepala...
Mantan Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung Ajukan Praperadilan Tersangka Korupsi MBG
Hari Ini Prabowo Bertemu...
Hari Ini Prabowo Bertemu Presiden Belarus Lukashenko di Istana Merdeka
Selain Kasus Suap Jabatan,...
Selain Kasus Suap Jabatan, KPK Endus Bupati Kuansing Terima Uang Pelepasan HPT
Golkar: Capres-Cawapres...
Golkar: Capres-Cawapres Jangan Terlalu Sedikit dan Jangan juga Terlalu Banyak
Hari Ini Sidang Perdana...
Hari Ini Sidang Perdana Dokter Tifa, Area PN Jaktim Disekat Ketat
Minat Gen Z Meningkat,...
Minat Gen Z Meningkat, Diaspora RI Hadirkan Ruang Belajar tentang Jepang
Infografis
Pesawat Airbus A400M...
Pesawat Airbus A400M Mendarat di Lanud Halim, Perkuat Armada Tempur TNI AU
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved