Ramadan dan Penguatan Kohesi Sosial
Sabtu, 09 April 2022 - 09:58 WIB
loading...
A
A
A
Pluralitas masyarakat Indonesia dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, plural secara horizontal, ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan suku, agama, adat, serta kedaerahan. Kedua, plural secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaan lapisan atas dan bawah yang cukup tajam. Struktur ini tidak bisa ditafsirkan sebagai ancaman bagi kohesi sosial. Sebaliknya justru menjadi potensi besar pembentukan masyarakat yang demokratis, yang dicirikan terbangunnya civil society.
Pluralitas adalah gejala umum yang terjadi dalam kehidupan manusia, seperti pluralitas dalam berfikir, berperasaan, bertempat tinggal, dan berperilaku. Meskipun berasal dari sumber yang bersifat tunggal, yakni dari dan bersandar pada Allah Yang Maha Esa. Namun, ketika doktrin itu menyejarah dalam masyarakat dan realitas kehidupan masyarakat, maka pemahaman, penafsiran, dan pelaksanaan sepenuhnya bersandar pada realitas tersebut. Manusia yang satu dengan manusia yang lain berbeda dalam pemikiran maupun kehidupan sosial-ekonomi, budaya, politik, dan geografis.
Melalui Ramadan, kita hapus diskriminasi dan dikotomi superioritas dalam bingkai kebersamaan, dan menegasikan kasta sosial, ekonomi ataupun politik. Ibadah puasa, zakat dan shalat tarawih berjamaah di masjid atau mushalla merupakan dialektika ritual sekaligus sosial, yang mampu memperkuat kohesi sosial.
Pluralitas adalah gejala umum yang terjadi dalam kehidupan manusia, seperti pluralitas dalam berfikir, berperasaan, bertempat tinggal, dan berperilaku. Meskipun berasal dari sumber yang bersifat tunggal, yakni dari dan bersandar pada Allah Yang Maha Esa. Namun, ketika doktrin itu menyejarah dalam masyarakat dan realitas kehidupan masyarakat, maka pemahaman, penafsiran, dan pelaksanaan sepenuhnya bersandar pada realitas tersebut. Manusia yang satu dengan manusia yang lain berbeda dalam pemikiran maupun kehidupan sosial-ekonomi, budaya, politik, dan geografis.
Melalui Ramadan, kita hapus diskriminasi dan dikotomi superioritas dalam bingkai kebersamaan, dan menegasikan kasta sosial, ekonomi ataupun politik. Ibadah puasa, zakat dan shalat tarawih berjamaah di masjid atau mushalla merupakan dialektika ritual sekaligus sosial, yang mampu memperkuat kohesi sosial.
(hdr)
Lihat Juga :