Marwan Jafar Ajak Masyarakat Petik Pelajaran dari Sejarah Wabah
Rabu, 17 Juni 2020 - 08:58 WIB
loading...
A
A
A
"Antara 75 juta 200 juta orang mati. Lalu pada Maret 1520, muncul virus cacar (smallpox) dari Pulau Kuba yang juga cepat menyebar ke Meksiko. Puluhan ribu mayat membusuk tergeletak di jalan-jalan, karena tak seorang pun berani menguburkan. Hanya dua bulan, penduduk Meksiko dari 22 juta di Desember tinggal 14 juta yang masih hidup," sambungnya.
Dia menjelaskan dua abad kemudian (Januari 1778), penjelajah Inggris James Cook mendarat di Hawaii. Kepuluan ini sejatinya hidup terisolasi. Dan Cook plus rombongan membawa flu pertama, tubercolosis dan sipilis ke Hawaii. Para pendatang Eropa selanjutnya menambahkan typhus dan cacar. Dari semula berpenduduk 500 ribu jiwa pada 1853 tinggal 70 ribu orang Hawaii yang selamat.
Memasuki abad 20, epidemi terus merenggut puluhan juta jiwa manusia. Di tengah kecamuk Perang Dunia I, ribuan tentara yang dikirim dari Arkansas, Amerika dan Inggris tiba di Spanyol di Januari 1918. Di parit-parit Perancis, ribuan tentara pula mulai mati akibat serangan satu galur flu sangat ganas yang dijuluki "Flu Spanyol".
Pada beberapa bulan kemudian sekitar 500 juta atau sepertiga populasi global penduduk waktu itu roboh terserang virus. Atau kurang dari setahun, wabah itu mencabut nyawa antara 50 juta hingga 100 juta orang.
"Di awal abad 21 dan milenium ketiga sekarang, kita pernah dikhawatirkan karena beberapa ledakan potensial wabah baru. Misalnya, SARS pada tahun 2002/2003, lalu Flu Burung di tahun 2005, menyusul Flu Babi pada tahun 2009/2010 serta wabah Ebola di tahun 2014-2016. Dan sejak September 2019 kita harus berjuang melawan virus Corona hingga sekarang, belum tahu kapan berakhir."
Dia menjelaskan dua abad kemudian (Januari 1778), penjelajah Inggris James Cook mendarat di Hawaii. Kepuluan ini sejatinya hidup terisolasi. Dan Cook plus rombongan membawa flu pertama, tubercolosis dan sipilis ke Hawaii. Para pendatang Eropa selanjutnya menambahkan typhus dan cacar. Dari semula berpenduduk 500 ribu jiwa pada 1853 tinggal 70 ribu orang Hawaii yang selamat.
Memasuki abad 20, epidemi terus merenggut puluhan juta jiwa manusia. Di tengah kecamuk Perang Dunia I, ribuan tentara yang dikirim dari Arkansas, Amerika dan Inggris tiba di Spanyol di Januari 1918. Di parit-parit Perancis, ribuan tentara pula mulai mati akibat serangan satu galur flu sangat ganas yang dijuluki "Flu Spanyol".
Pada beberapa bulan kemudian sekitar 500 juta atau sepertiga populasi global penduduk waktu itu roboh terserang virus. Atau kurang dari setahun, wabah itu mencabut nyawa antara 50 juta hingga 100 juta orang.
"Di awal abad 21 dan milenium ketiga sekarang, kita pernah dikhawatirkan karena beberapa ledakan potensial wabah baru. Misalnya, SARS pada tahun 2002/2003, lalu Flu Burung di tahun 2005, menyusul Flu Babi pada tahun 2009/2010 serta wabah Ebola di tahun 2014-2016. Dan sejak September 2019 kita harus berjuang melawan virus Corona hingga sekarang, belum tahu kapan berakhir."
Lihat Juga :