Berkaca dari Perang Rusia-Ukraina, Perindo: Indonesia Harus Bangun Kekuatan Militer
Jum'at, 18 Maret 2022 - 17:31 WIB
loading...
Ketua DPP Partai Perindo Bidang Hankam dan Siber Susaningtyas Kertopati mengatakan, berkaca pada perang Rusia-Ukraina, Indonesia harus memperkuat kapabilitas militernya. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Perang antara Rusia dengan Ukraina hingga kini masih terus berlangsung. Berkaca dari konflik bersenjata kedua negara tersebut, pemerintah Indonesia disarankan untuk membangun kekuatan militernya.
Hal itu diungkapkan Ketua DPP Partai Perindo Bidang Hankam dan Siber Susaningtyas Kertopati saat webinar Partai Persatuan Indonesia (Perindo) yang mengangkat tema “Dampak Perang Rusia-Ukraina Terhadap Indonesia” secara daring pada Jumat (18/3/2022).
”Ada beberapa lessons learned atau pelajaran yang dapat diambil dari perang Rusia-Ukraina. Pertama, perang konvensional antarnegara masih mungkin terjadi meskipun dikombinasi oleh pendekatan proxy dan asimetris yang melibatkan non state actor yang dikenal sebagai perang hibrida,” kata Nuning, panggilan akrab Susaningtyas Kertopati.
Baca juga: Partai Perindo: Indonesia Dukung Resolusi Majelis PBB Bukan Berarti di Pihak Barat
Kedua, Indonesia tidak boleh menjadi objek atau proxy dari kekuatan besar negara atau pakta pertahanan apapun di dunia. Namun harus menjadi subjek bebas aktif yang mendorong terciptanya stabilitas dan perdamaian dunia.
Baca juga: Perindo Sebut Invasi Rusia ke Ukraina Kerap Dijadikan 'Alat' Kepentingan
”Ketiga, Indonesia perlu secara konsisten membangun kapabilitas militernya untuk mengantisipasi kemungkinan atau celah meletusnya konflik di Natuna Utara sebagai strategi pendadakan (strategic surprise), mengingat kawasan Indo Pasifik terus mengalami eskalasi dari berbagai kekuatan besar dunia khususnya China dan NATO yang dipimpin Amerika Serikat,” ucapnya.
Hal itu diungkapkan Ketua DPP Partai Perindo Bidang Hankam dan Siber Susaningtyas Kertopati saat webinar Partai Persatuan Indonesia (Perindo) yang mengangkat tema “Dampak Perang Rusia-Ukraina Terhadap Indonesia” secara daring pada Jumat (18/3/2022).
”Ada beberapa lessons learned atau pelajaran yang dapat diambil dari perang Rusia-Ukraina. Pertama, perang konvensional antarnegara masih mungkin terjadi meskipun dikombinasi oleh pendekatan proxy dan asimetris yang melibatkan non state actor yang dikenal sebagai perang hibrida,” kata Nuning, panggilan akrab Susaningtyas Kertopati.
Baca juga: Partai Perindo: Indonesia Dukung Resolusi Majelis PBB Bukan Berarti di Pihak Barat
Kedua, Indonesia tidak boleh menjadi objek atau proxy dari kekuatan besar negara atau pakta pertahanan apapun di dunia. Namun harus menjadi subjek bebas aktif yang mendorong terciptanya stabilitas dan perdamaian dunia.
Baca juga: Perindo Sebut Invasi Rusia ke Ukraina Kerap Dijadikan 'Alat' Kepentingan
”Ketiga, Indonesia perlu secara konsisten membangun kapabilitas militernya untuk mengantisipasi kemungkinan atau celah meletusnya konflik di Natuna Utara sebagai strategi pendadakan (strategic surprise), mengingat kawasan Indo Pasifik terus mengalami eskalasi dari berbagai kekuatan besar dunia khususnya China dan NATO yang dipimpin Amerika Serikat,” ucapnya.
Lihat Juga :